21 - Jeremy

683 149 5
                                        

"Nona Brown."

Aku mendongak, gerakan kecil yang meringankan sakit kepalaku.

"Tuan Michaels."

Pria itu duduk di sebelahku setelah berhasil menyerahkan gelas kopi yang masih mengepul. Taman ini ramai seperti biasa; anak kecil yang menghabiskan jam paginya dengan bermain di berbagai wahana sederhana yang ada tak jauh dari bangku di mana kami duduk.

"Aku turut berduka atas kehilanganmu."

"Terima kasih," jawabku singkat sambil menyeruput kopi dari ujung gelas yang baru ia berikan padaku. Apa pun akan kulakukan untuk menghindari tersenyum sekarang ini. "Aku tahu kau sangat sibuk, Tuan. Jadi—"

"Tidak apa. Tolong jangan pikirkan aku."

"Ah, begitu."

Apa aku sedang terlihat payah sekali? Tidak mengherankan, mengingat apa yang telah terjadi beberapa jam belakangan. Karena komplikasi, jantung mama gagal bekerja dan dinyatakan meninggal tak selang sebelum aku sampai ke New York. Aku hanya bisa melihat tubuh mama terbujur kaku di ruangan gelap itu. Aku tidak mengingat sisanya. Sharon membantuku menghelat upacara pemakaman beberapa jam kemudian. Lalu aku pergi ke Correctional Center untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Papa. Kemudian ... untuk kali pertama rasanya, aku melihat papa menangis. Papa, pria yang selama ini selalu bersikap layaknya seorang superhero yang tak pernah menyesali keputusannya, menangis tersedu-sedu, menunduk dalam, meminta maaf, meracau tak jelas dalam isakannya. Waktu kunjunganku kuhabiskan untuk mengamati papa menangis dan meminta maaf dalam kecanggungan kami.

Satu embusan napas lolos dari hidungku.

Tak kukira, marah pada papa hampir setengah umur hidupku tidak mengalahkan lelah dari beberapa menit aku melihatnya menangis atas kehilangan wanita yang paling dicintainya. Kepalaku terasa berat, rasanya seperti pengar meski aku tidak menegak alhokol sedikit pun.

"Nona Brown."

Nada serius dari Tuan Michaels meresahkan sebagian dari diriku. Aku menoleh padanya tanpa menjawab apa pun.

"Aku dengar, kondisi ibumu memburuk saat kau pergi ke Milan dan tak ada yang menduga akan kepergiannya yang secepat ini."

Menyetujui ucapan pria itu, aku mengangguk kecil dan mengamati anak kecil yang bermain kejar-kejaran, mengelilingi kotak pasir. 

"Dokter bilang, semuanya baik-baik saja saat aku pergi. Kondisinya memang semakin menurun. Tapi ia tak terlihat ...." 

Aku kehilangan kata-kata.

Tuan Michaels berbaik hati padaku dengan tidak memaksaku mencari kata untuk menjelaskannya. Sama sekali berbeda dengan mata biru yang dingin dan penuntut milik seseorang yang mungkin masih ada di Milan bersama calon pengantinnya yang cantik.

"Aku tahu, mungkin saat ini bukan waktu yang tepat." Satu tarikan napas berat, kemudian embusan napas keras membuat wajah tampan pria berkulit hitam itu tertabrak asap dari bibirnya sendiri. "Tapi aku rasa, cepat atau lambat kau harus tahu, Nona Brown. Catatan kesehatan tuan Jones menurun beberapa waktu belakangan. Ia tidak makan dengan teratur. Dan setelah kepergian Mrs. Brown, aku rasa statisnya tidak akan membaik."

Tidak ada kalimat yang cukup untuk membalas ucapan Tuan Michaels. Aku hanya mengangguk, menghela napas setelah menyadari anggukan pun juga bukan jawaban yang tepat.

"Aku akan coba bicara lagi dengannya besok."

"Kupikir kau akan kembali ke Milan."

"Kupikir juga begitu." Aku mengusap dahiku sendiri. "Setelah melihat keadaannya, aku tidak akan pergi. Mungkin aku akan memanfaatkan waktu kunjunganku dengan baik mulai sekarang."

Miss Brown (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang