6. HANYA ANAK TENGAH

503 96 5
                                        

"Kalau si sulung harus dihormatin dan si bungsu harus disayang. Anak tengah dapet perlakuan manis apa?"

°
°
°

Adhis membuka pintu utama rumah dengan bahu merosot. Lama-lama bisa bosan ia di sekolah. Tidak ada yang menarik. Memilih mengasingkan diri memang pilihannya, tapi dari dibalik itu ia jadi mengetahui kenyataan bahwa mereka yang selalu menyapa dan mendekati cuma untuk memanfaati. Ternyata ... memang tidak pernah ada yang tulus.

"Ka Adhis!" Ugo langsung menyambar menggenggam tangan kakak keduanya. "Makan yo."

Adhis menurut saja, saat bocah itu membawanya ke ruang makan. Toh, perutnya setiap pulang sekolah lapar juga karena tak pernah pergi ke kantin pas waktu istirahat.

"Ugo, sini!" seru Ica--kakak pertama mereka di meja ujung sana.

Ugo menarik kursi di samping ka Ica. Membuat genggaman tangannya pada Adhis terlepas. "Ka Adhis duduk sini, ya."

Namun, Adhis malah berjalan ke meja ujung berhadapan dengan Ica. Melihat itu membuat Ugo kecewa berulang kali. Membuat bocah itu melambungkan pipi--cemberut.

"Udah duduk, Go." Ica menepuk-nepuk pelan kursi di sampingnya yang tadi sudah bocah itu mundurkan. Lalu mengambil lauk dan nasi untuk menguapi Ugo. Melirik sekilas adik pertamanya yang sudah makan di sana.

Ica dengan Adhis ini terpaut lima tahun. Umur kakak pertamanya itu yang masih muda sudah menjadi dosen di salah satu universitas kota Jakarta ini. Itu juga yang alasan kedua sang papah selalu menuntut Adhis menjadi terbaik disegala bidang. Jangan ditanya alasan pertama, pasti jelas karena reputasi.

"Ayo buka mulutnya, Go." Ica mengarahkan sendok yang berisi gumpalan nasi dan lauk. Saat Ugo sudah duduk. Bocah itu pun membuka mulut dan mengunyah.

"Ugo!"

Ugo berhenti mengunyah. Beralih menatap sang papah di ambang pintu ruang makan. Begitupun Ica, sementara Adhis terus makan tanpa menghiraukan keadaan sekitar.

"Iya, Pah?" tanya Ugo usai menelan gumpalan nasi. "Tumben papah pulang jam segini."

"Papah kan udah janji mau kasih hadiah buat Ugo." Randi memberikan tote bag berukuran sedang pada Ugo. "Nih, papah bawa robot yang kamu pengen kemaren."

Mata Ugo langsung berbinar, bocah itu buru-buru membuka tote bag. Dan mengeluarkan robot yang diinginkannya itu.

"Wih, lebih keren dari fotonya, Pah." Ugo mengayunkan kedepan-belakang tangan robot. "Makasih, ya, Pah."

Randi duduk di samping Ugo. Melirik anak tengahnya--Adhis sebentar. Lalu mengacak rambut anak bungsunya pelan. "Sama-sama, Sayang. Jadi, Ugo tambah sayang ga nih sama papah?"

"Ya, sayang dong, Pah." Ugo memeluk papahnya. Ica hanya tersenyum tipis melihatnya. Berbeda dengan Adhis yang acuh melihat pemandangan menjijikan itu.

Ica menatap Adhis di meja ujung. Dengan ragu ia berkata, "Beberapa bulan lagi ada banyak lomba akademik. Udah daftar belom?"

Adhis yang diajak bicara pura-pura tak mendengar. Selalu begitu. Ia yang sudah selesai makan mengambil gelas berisi air putih lalu meneguk sampai habis. Detik kemudian berdiri untuk pergi ke kamar.

Randi yang melihatnya langsung menatap tajam Adhis. Anak itu selalu kurang ajar pada kakaknya sendiri. Bahkan tak pernah menunjukkan kasih sayang pada Ugo.

"ADHIS!" Pria usia empat puluh tahun itu berdiri.

Gadis itu yang dipanggil terus berjalan menuju kamar tanpa berbalik.

"Lanjut jalan, papah pindahin kamu keluar negeri. Biar kamu hidup sendiri di sana." 

Mendengar itu Adhis langsung berhenti dari jalannya. Namun, tak berbalik badan. Di meja makan sana Ica hanya menghembuskan nafas panjang.

"Jangan galak-galak sama Ka Adhis, Pah...." Ugo menarik-narik kemeja sang papah. Matanya mulai berkaca-kaca.

Randi menunduk--menatap anak bungsunya. Lalu tersenyum kecil. "Papah ga akan galak kalau dia bisa sopan sama ka Ica, Sayang."

Mendengar itu Ugo hanya bisa diam merapatkan bibirnya.

Ica yang tadinya hanya diam menyaksikan. Jadi ikut bicara. "Udah, Pah. Ica lupa kalau Adhis bisu."

Adhis yang masih berdiri di ambang pintu ruang makan terkekeh geli dalam hati. Ia lupa tugasnya sebagai anak tengah yang harus ngehormatin si sulung dan menyayangi si bungsu.




Tinggalkan setitik jejak ya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tinggalkan setitik jejak ya....

Si 'A'Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang