20. LUKA DIBERBAGAI SISI

371 65 5
                                        

"Luka bukan dihilangkan ataupun dilupakan, tapi diikhlaskan."

Caranya? Dengan menerima dan memaafkan. Baik orangnya atupun kejadian yang menyakitkannya.

°
°
°

"Mah, Pah." Elan kecil menghampiri kedua orang tuanya. Ikut duduk di sofa. Ia berada di tengah-tengah mereka. "tadi, kan, temen Elan dibeliin piano sama papahnya. Udah gitu Elan ikut diajarin mainnya lagi, jadi sekarang Elan bisa main piano." Wajah riang tercetak jelas di sana.

"Asik banget, Mah, Pah," sambungnya.

Sang mamah terkekeh kecil melihat raut wajah sumringah itu. "Cepet, ya, Elan belajarnya. Hebat anak mamah, papah."

Elan menatap sang papah yang terus diam tak bergeming. "Pah, Elan bisa main piano."

"Papah, beliin piano buat Elan, ya?"

Papah berdiri. Menatap sekilas Elan lalu masuk ke dalam kamar. Bocah umur tujuh tahun itu menunduk dengan senyum tipis yang dipaksakan.

Mamah mengangkat bobot tubuh Elan ke pangkuannya. Tangan kanan terulur mengusap poni anak tunggalnya lalu berkata, "Papah mungkin lagi capek, Sayang. Bicaranya nanti lagi, ya?"

"Papah tiap Elan bicara sama pergi terus. Berarti capeknya tiap hari gitu?" Elan berbalik, menatap nanar sang mamah.

"Kan, papah sibuk kerja terus, Sayang." Sang mamah memeluk Elan erat. Matanya mulai berkaca-kaca.

•••

Elan spontan terbangun. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Mimpi itu lagi, mimpi yang datang berulang kali dari sepotong memorinya.

"Ngapa lo, Lan?" tanya Bondan di sofa kamar kostnya yang tengah bermain game tengah malam begini. Ia memang sering berada di kamar Elan dari pada di kamar sendiri yang terletak di samping kamar Elan.

Elan tak menjawab. Ia lebih memilih pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih.

Gara-gara permintaan bodoh itu. Elan ... berhasil membuatnya membenci sang papah. Sampai pergi dari rumah berbulan-bulan.

🌚🦍🌚

"Ini hari libur, Lan. Lo mau kemana rapih gitu." Bondan bertanya disela menyeruput kopinya. Duduk di sofa ruang tamu sembari menonton berita pagi.

Elan melahap rotinya cepat lalu meminum air putih dan membawa tas hitamnya.

"Heh, mau kemana lo? Ditanya jawab kek." Bondan berkomentar, saat Elan berjalan ke arah pintu.

"Gue mau ke makam," jawab Elan sembari membuka pintu kost.

"Rajin bener ke makam seminggu sekali. Sekali-kali temenin gue ngapa hari libur gini," cibir Bondan lagi.

"Sorean, Dan. Udah ah gue cabut. Gue pulang awas aja rumah kayak kapal pecah. Sarapan ga bakal gue bikinin lagi," cerocos Elan sebelum menutup pintu kost. Bondan hanya mengangguk lemah.

Elan berjalan ke belakang kost untuk mengambil sepeda onthelnya. Memilih menggunakan sepeda, karena jarak ke pemakaman hanya dua kilometer. Setelah menaiki kendaraan roda dua tanpa bahan bakar itu, ia menggoes. Berbelok ke arah depan untuk menuju pintu utama masuk-keluar kost putra ini.

Di gerbang, saat disapa penjaga kost Elan tersenyum tipis saja tanpa berhenti menggoes. Karena kebetulan gerbangnya tidak ditutup.

Sorot matahari pagi sudah muncul beberapa jam lalu. Kendaraan kota Odading tidak padat seperti biasanya, karena akhir pekan. Elan menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskan perlahan. Senang rasanya berkendara di hari libur.

"Elan mau tinggal sendiri. Ga mau sama papah juga mamah. Elan bakal jaga diri ko tenang ajah. Ga perlu khawatir, karena Elan ga bakal nyusahin kalian lagi dan pastinya ga bakal jadi beban lagi."

Sepeda Elan oleng, hampir saja menabrak motor di depan. Ia kembali fokus, tidak ingin mengingat kata-kata pedasnya lagi.

"Kamu emang kata lain dari beban keluarga!"

Pegangan pada setir sepeda licin, akibat keringat yang mulai membasahi telapak tangan.

Tit....!

Dubrak.

Sepeda Elan terdorong keluar dari jalan. Suara sepeda menabrak tiang lampu jalan terdengar. Ia terpental beberapa meter dari sepeda onthelnya. Sontak beberapa pengendara lainnya berhenti.

Tubuhnya terlentang. Ringisan pelan keluar dari mulutnya, saat Elan merasakan perih pada siku kiri. Ia membalikkan lengan, ternyata ada goresan panjang dan keluar darah segar di sana. Itu akibat setir motor sport tadi.

Bukan, bukan pengendara motor sport itu yang salah, tapi Elan. Karena ia seenaknya mengambil jalan tepat di jalan pengendara motor itu yang kecepatannya sedikit di atas rata-rata. Tak heran Elan sampai terpental beberapa meter dari sepeda.

"Gak bernafas. Keduanya sudah tiada. Ternyata mereka juga terinfeksi virus Ebola."

Elan menutup kelopak mata, saat batang pohon mulai tumbang dan beberapa detik lagi jatuh ke arahnya.







Elan menutup kelopak mata, saat batang pohon mulai tumbang dan beberapa detik lagi jatuh ke arahnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pengen banget cepet tamat ini cerita, tapi males juga up tiap hari. Padahal udah nentuin + ngetik sebagian semua part yang jumlahnya 65, ditambah epilog jadi 66. (=_=)

Si 'A'Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang