53. Just Love Myself

424 54 30
                                        


Samar-samar Adhis membuka kelopak mata. Pandangan ramang mulai terlihat jelas. Adhis menarik napas lalu menghembuskan perlahan. Kemudian beralih menatap satu-satunya jendela di ruangan ini dimana cahaya matahari masuk dari sana.

Ia baru sadar ini bukan kamarnya. Dan ... baru sadar juga wanita berhijab syar'i tengah berfoto ria.

Biasa, memanfaatkan cahaya biar muka bening.

Adhis juga gitu kok.

Wanita itu berbalik, menatapnya tepat. Adhis menyampingkan tubuh membelakangi wanita itu lalu menutup mata kembali.

Adhis bisa merasakan sesuatu duduk di sampingnya.

"Gini cara self love gue, Dhis. Dengan cara selvi."

Wanita itu ... kok tau namanya? Apa suruhan dokter Rafi? Tapi ... gak pakai seragam dokter.

Adhis baru sadar ini di rumah sakit melihat ada oximeter di jarinya. Apa wanita itu juga yang bawa dia kesini?

"Tapi selvi gue no efek-efek klub, Dhis. Gue gak mau ngubah apapun di wajah. Dilarang Tuhan, udah dikasih sempurna masih aja kurang. Ya ... walau memperbaiki boleh, sih. Kayak pake pelembab, serum, segala macem, tapi gue cuma make sabun cuci muka sama air wudhu. Alesannya cuma satu, Dhis. Gue berusaha cinta wajah yang jerawatan ini."

Adhis spontan meluruskan badan. Tak membelakangi wanita hijab itu, tapi juga tak menghadapnya.

Photo memanfaatkan cahaya matahari efek secara halus gak, sih ... ??

Melirik sekilas. Adhis melihat wanita itu akan merekam video.

Hmmm, hijab milenial.

Adhis mengira akan membuat vlog, tapi ternyata bukan setelah wanita itu mengeluarkan suaranya lagi.

"Terimakasih, ya, lo udah strong ngedepin cobaan hidup. Lo mantap! Bisa handel semua masalah walau kadang bikin diri lo sendiri nangis tengah malam di akhir sujud sholat tahajud. Lo keren! Gak dendam sama mereka yang hina fisik lo. Terus belajar jadi versi terbaik diri lo, ya. Itu baru cantik yang sebenernya. Just love myself!"

Adhis menghembuskan nafas jengah bersamaan wanita itu mengakhiri vidionya.

Manfaatnya apa coba bikin vidio buat diri sendiri dan itu cuma buat bilang 'makasih'?

"Kesannya sepele, tapi afirmasi dari diri lo sendiri itu penting banget loh, Dhis. Bikin semangat jalanin hari. Kalau kita gak ngehargain diri sendiri mau siapa lagi ya, kan? Waktu kita balita, orang tua capek-capek nitah kita biar bisa jalan, masa iya dengan gampangnya ngerusak diri sendiri."

Adhis tercengang sampai denyut jantungnya berdetak dua kali lipat lebih kencang.

Bisa-bisanya Adhis ngerusak diri sendiri padahal sang Mama capek-capek nitah sampe keringetan biar ia bisa jalan ....

Jauh dalam hatinya. Ia mengucap 'maaf Mama'.

Kan, jadinya Adhis rindu. Rasanya mau cepet-cepet ketemu Mama. Udah lama dia gak ke pemakaman.

"Kita itu berharga, Dhis. Mau pencapaian gagal atau enggak. Kita semua tetep berharga."

Kali ini kelopak mata Adhis menyayu.

Mama di atas sana pasti marah kalau tau kelakuan Adhis brutal gini ....

Ah, jadi melow gini, kan. Gara-gara virus ceramah wanita syar'i ini, sih.

"Btw, ngoceh mulu capek, Dhis. Gue minta dikit, ya, susunya." Tangan wanita it mengambil segelas susu putih di nakas lalu meneguknya menyisakan setengah. "Ah, tanggung. Gue habisin aja, ya, Dhis. Gak baik lo minum bekas gue. Siapa tau ya, kan, gue punya riwayat penyakit."

Si 'A'Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang