40. OLIMPIADE ATLANTA

258 55 7
                                        

Hari ini olimpiade tahunan Atlanta series 4. Seluruh kelas sepuluh dari jurusan Bahasa, IPA, dan IPS berkumpul di aula sebelum masuk ke ruang kelas masing-masing.

Ada 24 ruangan kelas sepuluh. Tiap ruangan dinamakan 0.1, 0.2, 0.3 sampai 24.

Ruangan 0.1 diisi murid dengan nilai rata-rata 98 ke atas sampai nilai sempurna; 100.

Ruangan 0.2 diisi murid dengan nilai rata-rata 95 ke atas sampai nilai 100. Begitupun sampai ruangan 24.

Itulah informasi yang diberikan murid tadi di aula.

Adhis, kebagian ruangan 0.1. Deris ruangan 0.3. Sementara Evan ruangan 12.

Setelah pengumuman itu, seluruh murid masuk ke ruangan kelas masing-masing yang sudah diberi tanda 0.1 sampai 24.

"Dhis, semangat, ya. Gue yakin lo bisa masuk tiga besar. Percaya kemampuan lo, oke?"

Adhis hanya mengangguk samar. Melambaikan tangan pada Deris sebelum masuk ke kelas IPA 1 sebagai ruangan 0.1.

Dengan membawa papan ulangan, kartu peserta, serta alat tulis. Ia menghembuskan nafas panjang. Duduk di bangku bagian belakang barisan tengah dimana namanya tertera di sana.

"Masalahnya, gue ga percaya kemampuan gue, Ris."

Satu persatu, murid di ruangan 0.1 bermunculan. Menduduki kursi masing-masing. Adhis membuka kotak pensilnya, mengambil pulpen untuk menggambar butterfly dengan ukuran kecil dibalik lengan kiri. Kebiasaan ketika gugup.

Dibawah butterfly itu Adhis menulis kalimat kecil 'lo bisa'.

Setidaknya, dengan afirmasi kecil itu ia merasa sedikit lebih tenang.

Guru sebagai pengawas A-1 datang. Seperti biasa kicauan pembukaan dan pengarah agar mendahului berdoa terlebih dulu sebelum mengerjakan. Tak lupa, kata 'jangan mencontek' dikicaunya.

"Presensi kehadiran diisi mulai dari nomer urut satu, barisan kanan sampai barisan belakang pojok kiri," kata pengawas. "Ini olimpiade Atlanta series keempat. Artinya udah berjalan selama empat tahun sebagai agenda tahunan sekolah ini. Tau tujuannya?" tanyanya.

Seorang murid berkacamata mengangkat tangan, Adhis duga itu Faris si lawan Elan pasca pemilihan ketua OSIS. Ternyata duduk di samping kanannya. "Untuk mengasah ilmu pengetahuan umum murid, Pak."

Seorang murid berambut hitam bergelombang mengangkat tangan juga, Adhis duga itu wakil ketua OSIS tahun ini. Yang berarti pasangan Elan di pemilihan ketua OSIS Minggu lalu. "Buat review belajar selama beberapa bulan ini, Pak."

"Benar," ujar guru pengawas. Tersenyum sekilas menatap dua murid itu.

Salah satu murid bertanya lagi, "Pengumuman hasil olimpiade ini kapan, Pak?"

"Lusa," jawab Elan santai di samping kiri Adhis yang baru disadari. Guru pengawas di depan sana mengangguk mengiyakan.

LJK dan kertas soal dibagikan lewat meja depan lalu estafet untuk sampai ke meja belakang setiap barisannya. Membuat Adhis menghentikan aktivitas menggambarkan butterfly di balik lengan kiri.

"Silahkan diisi, presensi kehadiran kalau sudah ditaruh ke depan sini, ya." Guru pengawas itu duduk di bangku depan, saat murid ruangan A-1 sudah mendapat LJK dan soalnya.

Adhis di tempatnya bergerak gelisah, ia baru menyadari kalau tak ada pensil dalam kotak alat tulisnya.

"Nih."

Sebuah tangan tiba-tiba menyodorkan pensil ke arahnya. Ia menoleh, mendapati Elan yang meminjamkan.

"Ekm, tumben peduli sama sekitar, Lan." Faris di samping kanannya menyindir. "Gebetan, ya?"

Si 'A'Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang