"Boleh insecure, tapi harus inget tolak ukur."
•
•
•
Adhis melahap kue yang ada di meja masih dengan pikiran bercabang.
Tadi, ia pikir itu Reval si tukang menjahilinya akhir-akhir ini. Walau tinggi tubuh beda juga dengan suaranya.
Jelas saja ia berpikir begitu. Karena memang, si patung pelangi itu selalu mengusik hidupnya.
Dari mulai baru sampai di sekolah pagi hari, cowok itu menarik asal kunciran hingga rambut panjangnya tergerai. Sengaja menjulurkan satu kaki ketika melihat Adhis berjalan, dimana dilakukan dibalik tikungan. Mengikuti ia ke perpustakaan, sampai ketika hendak duduk kursi ditarik ke belakang.
Alhasil? Adhis terjengkang kaget dan terkapar di lantai dengan kasar. Memang biadap.
Saat Adhis rebahan di atas rerumputan belakang sekolah, Reval dengan sengaja menjatuhkan segunduk daun kering dari atas pohon.
Iya, dia sengaja mengumpulkan dan naik ke atas pohon.
CUMA BUAT NGUSIK KETENANGAN ADHIS DIA NIAT BANGET NYARI SEGUNDUK DAUN?! APA FAEDAHNYA COBA?! SEENGGAK ADA KERJAAN ITU YA HIDUPNYA?!
Walau dibuat kesal setengah mati. Adhis dibuat tercengang kala ia tak sengaja melihat Reval memarahi bahkan mengancam siswi yang menggosipi dirinya.
"Challenge-nya walau bikin resah seru, ya? Gue sampe ketawa geli gak habis pikir. Untung gak phobia balon gue," kata Deris antusias. Menaruh gelas sirupnya lalu melanjutkan, "Walau habis itu sempet bt dansa sama nih tokek satu, gegara bengong mulu, tapi gue ngerasa bahagia banget hari ini."
Adhis mengerjap. Memandang Deris yang berada di tengah-tengahnya dan Evan. Cowok itu masih dengan senyum lebar, memperlihatkan dua lesung pipi.
Mulut cowok itu selalu menganga lalu menutup. Begitu seterusnya, seperti menahan air liur agar tak menetes perkara makanan 'kesukaannya' ada di depan mata, tapi tak bisa dimakan.
"Dhis, tadi lo gak di-bully sama si Reval-Reval itu, kan?" tanya Deris tiba-tiba dari cerita panjang lebarnya kegiatan tadi. "Sorry, ya. Tadi gue kedorong-dorong gitu sama orang. Untung si Panjul nemuin gue."
Adhis mengangguk. Menaruh gelas sirup itu yang sudah habis. Jadi teringat si patung pelangi itu ekspresi pasca dansa seperti Evan sekarang. Entah apa yang dipikirannya.
Adhis ingin gumoh melihat itu, sampai ingin menabok, tapi teringat tangannya sudah pensiun dari hal-hal kekerasan.
Detik kemudian menggeleng sebagai respon di-bully atau tidak oleh Reval.
"Kirain. Soalnya si Sindu-Sindu itu yang keliatan benci banget sama lo, kan, temennya dia." Raut wajah Deris jadi terlihat kesal. Ia mengambil kue di meja lalu melahap. Di tengah mengunyah karena kesal ia melanjutkan, "Ish, jadi kesel gue. Hidupnya se-enggak berfaedah itu kali, ya, sampe kurang kerjaannya bully orang seantero sekolah."
"Tanpa kecuali lagi," lanjutnya. Makin mengunyah kuenya dengan rasa kesal. Membuat kunyahan itu berjatuhan. Adhis hanya menggeleng dengan senyum kecil.
Evan yang duduk di samping kanan Deris Maharis terbahak. Membuat gadis itu menoleh. Ia mengambil tisu di meja, lalu memegang dagu yang berantakan karena kue itu. Detik kemudian mengelapnya pelan. Membuat putra tunggal Maharis itu membesarkan mata bulat berwarna hitam pekat yang makin kentara.
Adhis kiri Deris yang tengah melahap kue juga hanya memandang Evan datar. "Cih, modusnya cowok. Jijik."
"Sampe belepotan gitu lu makannya. Jangan kayak ibu-ibu komplek deh nyerocosnya," kata Evan di tengah mengelap mulut Deris tanpa jijik. Padahal krim kuenya terdapat sedikit air liur di sana.
Deris mengerjap. Mengambil alih tisu di tangan Evan lalu mengelapnya sendiri. "Gue bisa lap sendiri."
"Mendadak bocah lu," kata Evan sambil menusuk pipi Deris. Lalu beranjak berdiri.
"Heh, kemana lu?" tanya Deris heran. Mengurungkan niat yang hendak meminum kembali sirupnya.
"Toilet, Kak. Mau ikut Panjul?"
Cih. Sifat tengilnya balik lagi.
"Ikut," katanya ikut berdiri.
"Jangan ngada-ngada lu. Kita belum halal, Kak," kata Evan dengan senyum tengil. Membuat Deris menabok lengannya.
"Gue juga mau ke toilet. Dan, itu toilet cewek, ya. Panjul si bocah gak usah mendadak puber deh," balasnya lalu menoleh pada Adhis. "Gue ke toilet dulu, ya, Dhis."
Adhis mengacungkan jempolnya lalu lanjut mengunyah kue.
Deris yang tengah berjalan beriringan dengan Reval menuju toilet bersuara tiba-tiba, "Adhis dandan gitu doang cantik, ya, Jul. Buat gue yang emang kalau deket cewek cantik dikit langsung insecure kambuh."
Evan merangkul gadis itu yang tinggi badan mencapai matanya. "Ngapain insecure, kalau gue sukanya Deris Maharis jadi dirinya sendiri."
Deris hanya memutar bola mata malas mendengar itu.
🌚🌚🌚
Teruntuk cewek yang selalu gue usilin. Cuma mau bilang, bahwa lo berhasil buat hati gue muncul sebuah rasa yang namanya cinta.
Makasih, gara-gara lo hati batu gue bisa ngerasain apa itu jatuh cinta.
Rasanya deg-degan, rasa pengin ngusilin tiap detik, dan ... rasa ingin terus ngelindungin.
Semua rasa itu ... ada karena lo, Adhisty Gabriella.
Begitulah isi surat cinta Reval untuk Si A. Surat yang dilipat membentuk burung, dengan tulisan kecil di ekornya berupa pantun 'ikan kikil makan tomat, ailapyuh somat'.
Pasti kalau Ompong lihat dia bakal bilang, "Cih, dasar tukang motokoplok. Katanya gak mau nyontek gombalan Embot."
Ditaruhnya kertas origami biru bentuk burung disaku jasnya. Reval berjalan menghampiri gadis mungil memakai dress putih dibawah lutut yang tengah duduk sendirian meneguk sirup.
Niatnya ingin berjalan dengan cool lalu duduk disebelah gadis itu tenang sampai berbicara manis sebagai basa-basi. Membawakan minum lagi agar dicap cowok peka. Kemudian di tengah minumnya langsung pada inti menyatakan perasaan dilengkapi kertas jelmaan burung itu.
Begitu perfect.
Sampai saat tepat dibelakang Adhis ia malah jadi menarik kasar pita hitam dibawah bahu gadis itu sampai si empunya bangkit, spontan menaruh gelas yang dipegang karena terkejut kaget sampai tertarik pasrah.
Ditarik persis seperti kambing yang tengah bad mood alhasil tak mau dibawa ke lapangan untuk memakan rumput, dan hanya berontak mengucapkan 'mbee'.
Bedanya, Adhisty Gabriella yang dijuluki Si A ini berontak dengan tak bersuara, karena pasrah.
Orang-orang yang menghalangi cengo beberapa saat. Menimbulkan banyak pertanyaan, walau begitu langsung memberikan jalan untuk mereka lewat.
Reval merutuki dirinya yang dalam sekejap rencana indah jadi berantakan hanya karena jantung yang terdenyut dua kali lipat saat didekat Adhis tadi.
Sudah setengah jalan menarik Adhis keluar dari aula bak kambing. Mau tak ia tetap melanjutkan seperti itu.
Dalam hati ia terus mengumpat. "Bego, bener-bener bego banget lo, Val. Niatnya nembak romantis malah jadi dramatis!"
•To Be Continue•
KAMU SEDANG MEMBACA
Si 'A'
Teen Fiction-Dia yang tak bersuara, penuh teka dalam lara- Berikut daftar keanehannya itu : 1. Notebook, yang isinya gambar liar adalah harta karunnya. 2. Rumput belakang sekolah, yang dikunjungi saat bel istirahat adalah surga dunianya. 3. Perkedel kentang, ya...
