Ica menutup pintu kamar Ugo. Bersamaan itu bibirnya yang tertarik ke atas berubah menjadi terlipat. Dia tidak bisa lagi menahan tangis.
Menghela napas pelan, dia berjalan ke dapur untuk menaruh nampan.
Bohong kalau dia tidak rindu suasana hangat rumah. Atau sekedar berkumpul tanpa tukar cerita, itu pun sebenarnya indah.
"Biar Bibi yang cuci, Mba. Sekarang Mba Ica yang gantian makan, Bibi udah siapin."
"Nanti aja, Bi," balasnya sambil memberikan nampan. Lalu duduk di meja makan. "Bapak keluar belum?"
Bibi yang tengah mencuci mangkok, gelas dan sendok obat menoleh. "Udah, tadi ke taman belakang sebentar. Terus balik lagi ke kamar, padahal dari kemarin belum makan 'kan, Mba?"
Ica beranjak berdiri. Tak jadi mengambil nasi. "Bibi makan duluan aja, aku ke kamar Bapak dulu."
"Mba," panggil Bibi.
Ica berhenti di ambang pintu dapur. Berbalik seutuhnya.
"Semua pasti akan selesai. Dan semua bakal baik-baik aja."
Ica mengangguk pelan diikuti senyum tipis. Lalu lanjut melangkah ke kamar sang papa, tapi kemudian terkejut. Disaat bersamaan papa keluar dengan ceria membawa sekantong belanjaan.
"Ajak Ugo ke taman belakang, ayo tahun ini kita nyate."
Ica lupa kalau suasana hati papa itu sulit ditebak dan bisa berubah-ubah dalam sekejap.
***
Deris sudah cukup paham berbagai ekspresi Adhis dan cara berinteraksinya.
Salah satunya ekspresi wajah datar dan interaksi yang melibatkan langsung kontak fisik —mustahil.
Wajah datar Adhis kali ini itu ... lebih berbeda dari biasanya, karena sekarang terkesan tanpa ada luka tersimpan. Lalu kontak fisik berupa sentuhan tangan Adhis pada pergelangan tangan Elan jelas lebih tak biasa, karena seorang Adhisty Gabriella sa-ngat mustahil melakukan itu apalagi dengan lawan jenis.
Deris mengulas senyum senang memandang itu.
"Manis bener. Nikmat mana lagi yang kau dustakan, Van?"
Deris meringis, langsung memalingkan wajah. Berjalan cepat ke meja panggangan memberikan nampan kepada Sivia yang berisi jagung mentah.
Bondan berdecih. Menampol wajah melongo Evan. "Heh! Berobat lo, Van. Cewek senyum gitu doang sampe ileran, lemah lo."
"HEH LO BERDUA SINI BANTUIN! NGERONDANYA ENTARAN!!" teriak Sivia.
Mendengar itu, Bondan dengan jahil menoyor Evan dan langsung lari terbirit ke arah Sivia. Karena Evan langsung melemparinya dengan botol mayones kosong.
"VAN ITU BARU AJA DICUCI, YA, SINIIN GAK LO BOTOLNYA!"
Deris di samping Sivia pura-pura tak peduli —padahal setengah mati ingin ikut-ikutan memarahi Evan, tapi takut masih merona pipinya.
Sementara Elan dan Adhis tetap tenang di depan pemanggangan. Kompak mengipasi jagung agar cepat masak —Elan ikut mengipasi juga karena memang tabiatnya yang keras kepala itu sok tidak kenapa-kenapa padahal masih saja terbatuk dan mata pun jelas terlihat agak kemerahan.
"Disty," panggil Elan di samping.
Adhis yang tengah membalikkan jagung di atas panggangan menoleh. Sebelumnya menatap Deris dengan tatapan kosong —termenung memikirkan sesuatu.
"OSK kimia awal bulan januari jadi ikut?"
Diam sebentar, Adhis balas mengangguk.
Karena hanya prestasi yang bisa dibanggakan dari seorang Adhisty sang anak tengah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Si 'A'
Teen Fiction-Dia yang tak bersuara, penuh teka dalam lara- Berikut daftar keanehannya itu : 1. Notebook, yang isinya gambar liar adalah harta karunnya. 2. Rumput belakang sekolah, yang dikunjungi saat bel istirahat adalah surga dunianya. 3. Perkedel kentang, ya...
