Suasana di rooftop berisik. Akibat suara ocehan Embot, Ompong dan Evan. Awalnya karena keberadaan Si A, tapi akhirnya meributkan soal adu panco tadi.
Adhis memandangnya datar. Lalu berjalan ke arah pintu rooftop setelah mengibaskan rok yang kotor.
"Aw...!!" pekik Sindu disela tidurnya. Tangan kanan yang terlentang diinjak oleh seseorang. Ia menurunkan tangan kiri dikepala dan membuka mata. Pandangannya tajam ke arah gadis itu.
Si A.
Sindu menampol jidat Reval agar terbangun. Membuat cowok itu mengumpat kasar tiba-tiba dibangunkan.
Sindu bangkit, saat Reval sudah duduk. Matanya menatap tajam Adhis. "Jalan pake mata! Eh, bentar. Lo ngapain di sini hah?!"
Evan yang tengah menjambak jambul Embot juga Ompong berhenti. Lalu bergerak mendekati Adhis.
Adhis menatap malas Sindu dan empat orang di depannya. Lalu berjalan kembali ke arah pintu rooftop. Tak ingin membuat keributan lagi. Evan yang melihat sahabat Deris pergi membuntuti di belakang. Sementara Reval memandang sebentar sebelum lanjut tidur di atas sofa.
"Napa sewot, Du?" tanya Embot heran, saat kedua orang asing tadi sudah pergi.
"Jangan-jangan ... itu orang yang penghapusnya lo potong-potong?" tebak Ompong tepat sasaran. Karena melihat emosi Sindu menggebu.
"Hm, iya." Sindu duduk di sofa. Menyandarkan punggungnya.
"Gue heran, lo yang buli malah lo juga yang sewot." Embot ikut duduk di samping Sindu.
Sindu mengambil tasnya di bawah sofa. Mengambil soda, lalu meneguknya sebelum angkat bicara. "Jadi ... gue gemes aja gitu."
"Gemes, ya, dicubit. Dimanjain, bukan dibuli. Aneh lo," celetuk Embot spontan. Ompong sudah duduk di sampingnya.
Sindu menoyor kepala Embot. Membuat Ompong terbahak puas melihatnya. Detik kemudian Sindu kembali angkat bicara, "bukan gemes gitu maksudnya ege. Kayak gedek lebih tepatnya."
"Gedek kenapa dah?" Kali ini Ompong yang bertanya.
"Kan, Si A itu punya penghapus dua. Nah, satunya udah kecil banget, tapi dia masih pake. Yang gedenya tuh malah ga dipake-pake." Sindu menaruh sodanya ke atas meja. "kayak sayang gitu. Kalian tau sendiri tangan gue gatel ngeliatnya."
"Tangan lu meresahkan banget anjir." Embot ngakak, meski tidak tau siapa 'Si A' itu. Namun, ia menyimpulkan itu adalah panggilan Adhis dari Sindu. Gadis tadi yang tiba-tiba muncul dari balik sofa.
"Si A itu Adhis, ya, Du?" tanya Ompong.
"A ... adhis? Siapa?" Sindu menanya balik.
"Ya, orang yang lo buli tadi lah."
"Oh, namanya Adhis? Namanya ga cocok."
"Lah, napa?
"Kebagusan ege."
"Sialan, pantes dapet gelar ratu buli."
Ketiganya ngakak mendengar ocehan Embot yang memang fakta. Sementara Reval sudah lanjut tidur dengan mulut sedikit terbuka. Tak heran, Embot sering memasukkan beragam makanan atau minuman, bahkan daun juga kertas untuk dimasukkan ke dalam mulut ketua geng itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Si 'A'
Ficção Adolescente-Dia yang tak bersuara, penuh teka dalam lara- Berikut daftar keanehannya itu : 1. Notebook, yang isinya gambar liar adalah harta karunnya. 2. Rumput belakang sekolah, yang dikunjungi saat bel istirahat adalah surga dunianya. 3. Perkedel kentang, ya...
