39. LUKA DIBERBAGAI SISI (||)

257 50 3
                                        

Adhis berdecih sinis, tak peduli lagi. Mau ada promo beli satu gratis satu, ia hanya ingin mengisi tenggorokannya yang kering.

Emang dasar, ya. Iwak panjelan niat ngasihnya karena gratisan.

Ia membuka bungkus es krimnya, mulai memakan dengan tenang. Begitupun Elan di sampingnya.

Hening.

Hanya ada suara motor dan mobil yang berlalu lalang. Juga, suara berisik pembeli ketoprak Kang Arif di seberang sana.

Elan juga tak membuka suara lagi. Sampai ponselnya berbunyi tanda pesan masuk memecah keheningan. ia merogoh saku hoodie abunya.

Evan : selvi pake efek Ig kemaren ternyata ucul juga kita >/<

Evan : selvi pake efek Ig kemaren ternyata ucul juga kita >/<

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Elan : ngapain dikirim, lo aja simpen

Evan : besok Panjul ke kos lo lagi ya

Elan : serah

Elan : bawa bergedel sama nasi rames?

Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku hoodie. Namun, tangannya tak sengaja menyentuh notebook Adhis yang ada di tengah-tengah mereka sampai terjatuh ke bawah rerumputan.

Elan membulatkan matanya. Melihat sekilas notebook Adhis yang terbuka. Menampilkan gambar coretan tinta hitam menyeramkan.

Gambar coretan tinta hitam itu abstrak, tak berbentuk khusus sehingga sulit menyebutkan namanya. Dibilang seperti orang ... juga jauh berbeda, karena bentuk abstrak yang mungkin menyerupai wajah itu ... seperti Joker?

Entahlah. Belum lagi bagian tiap sisinya terdapat bentuk anggota tubuh. Sisi kanan bentuk tangan yang tak sempurna. Namun, kentara seperti ... diborgol?

Sisi kiri, serupa bentuk mulut yang memuntahkan obat-obatan. Bawahnya semacam bentuk mulut berlumuran darah?

Sisi atas, serupa bentuk rambut yang disemir.

Sisi bawah, serupa bentuk kepala yang digantung.

Imajinasi gadis ini benar-benar liar.

Itu baru satu halaman yang sekilas dilihat. Kalau seluruh isi notebook itu gimana coba?

Nenek moyang Joker mungkin ada.

Elan hendak mengambil notebook itu. Namun, gadis tanpa suara itu lebih dulu mengambil. Menutupnya kasar. Detik kemudian beranjak pergi. Meninggalkannya yang masih terpaku.

"Pah, beliin piano dong. Kan, bentar lagi aku ulang tahun ...."

Elan tersentak, mendengar suara anak kecil itu di seberang jalan yang merengek pada sang ayah.

Si 'A'Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang