-Dia yang tak bersuara, penuh teka dalam lara-
Berikut daftar keanehannya itu :
1. Notebook, yang isinya gambar liar adalah harta karunnya.
2. Rumput belakang sekolah, yang dikunjungi saat bel istirahat adalah surga dunianya.
3. Perkedel kentang, ya...
Terik matahari siang mulai menyorot. Jalanan mulai ramai. Kini, Reval dan Adhis terpaksa jalan kaki satu kilometer untuk sampai ke sekolah, karena mereka tak mau repot membawa sepeda lipat itu ke bengkel.
Adhis satu meter dari Reval di depan sana terus saja berjalan. Sementara Reval sesekali bersiul dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
Namun, saat sebuah mobil sedan berpapasan dengan Reval. Seseorang di dalamnya melempar putung rokok asal ke arahnya, dan itu masih menyala.
Reval baru hendak menghindar, tapi putung rokok itu sudah mengenai telapak tangan kanannya. Ia meringis dalam hati.
"Arghhh." Reval berdecak kesal. Ia cepat mendongak dan mengumpat, "Gila, ya, lo? Buang putung rokok sembarangan!"
Detik itu juga mobil sedan berhenti. Adhis jadi ikut berhenti berjalan lalu berbalik badan.
Reval membulatkan mata, saat tiga orang dalam mobil sedan berbadan kekar. Satu dari mereka seorang lelaki remaja seperti dirinya. Ia menelan saliva susah payah.
"Apa? Marah?" Lelaki remaja itu mengejek. Di belakangnya dua orang bertubuh kekar mengawasi. Seperti akan menjadikan Reval perkedel kentang dadakan.
"Bego, orang ga punya otak gini nih." Reval jadi emosi sendiri. Gini-gini kalau buang putung rokok ga asal. Ia juga peduli atas keselamatan orang, walaupun sedikit. "beraninya ramean lagi."
Adhis di tempatnya memandang was-was mereka.
Lelaki remaja itu mendelikkan matanya pada dua orang usia tiga puluh tahunan di belakang. Memberi kode untuk menghajar lelaki di depannya.
"Apa? Lo pikir gue takut? Nyali patungan ajah bangga." Reval berdesis. Walaupun begitu, setengah nyawanya merinding ngeri melihat dua pria tiga puluh tahunan berbadan kekar.
Jujur, dia tak begitu bisa bela diri....
Kelar di tempat nyawanya. Belum juga kawin....
"Segala pake bodyguard, mobil keren. Eh, atasnya kena tai burung." Reval memancing. Detik kemudian saat ketiga orang di depan melihat atas mobil. Buru-buru Reval berlari terbirit-birit. Namun, gadis yang bersamanya tadi malah diam di tempat. Ia dengan cepat berbalik, menarik pergelangan tangan mungil itu lalu lanjut berlari. Membuat tubuh Adhis spontan berputar dan ikut melakukan aksi kabur.
"Bego semua lo pada!" Reval berbalik sekilas disela berlarinya. Tertawa puas di depan.
"Sial, kita ditipu. Lo bodyguard bego banget, sih! Cepet kejar."
"Maaf, Tuan." Kedua bodyguard itu berkata kompak. Lalu masuk ke dalam mobil untuk mengejar kedua remaja tadi.
"Sial! Mereka ngejar!" Reval was-was. Nafasnya mulai tak beraturan dari tadi lari. Belum lagi, si gadis yang ditarik larinya lelet.
Reval berhenti berlari. Membuat tubuh Adhis menubruk punggungnya.
Tak punya pilihan, Reval menggendong paksa gadis yang ditarik. Membuat Adhis refleks melingkarkan kedua tangan ke leher cowok itu. Walaupun dengan membawa beberapa lembar soal fotocopy.
"Muka gue ketutup goblok," umpat Reval pada gadis yang digendongnya. Adhis dengan cepat menarik tangan kiri untuk menggenggam lembaran fotocopy, dan tangan kanan masih melingkar di leher cowok itu.
Setelah lembaran fotocopy menyingkir dari wajahnya, Reval berlari lagi untuk mencari tempat persembunyian, karena jarak sekolah masih agak jauh.
Suara klakson mobil sedan semakin mendekat.
Reval mempercepat larinya walaupun setengah tenaga sudah terkuras. Ia tak mau mati konyol tanpa meninggalkan sejarah.
Adhis juga ikut was-was digendongannya. Reval bisa merasakan detak jantung gadis itu yang kian menggebu-gebu.
"Woi! Berhenti!"
"Cemen! Omongannya gede, tapi malah lari diajak baku hantam."
Reval berusaha tak terpancing emosi seperti tadi. Ia terus berlari terbirit-birit dengan beban yang digendong, karena mobil sedan itu hampir bersampingan dengan mereka.
Bruk!
Tubuh Reval terjatuh mengenaskan di atas aspal siang hari. Sontak gadis yang digendong ikutan jatuh. Membuat lembaran soal fotocopy berserakan. Ia semakin mengumpat kasar tiga orang di mobil sedan itu. Gara-gara mereka terus mengejar, kakinya tak sengaja menyandung batu besar. Membuat denyutan nyeri dan akhirnya kehilangan keseimbangan.
Reval melirik ke samping gadis yang tadi digendong. Lututnya tergores aspal dan kini mengeluarkan bercak darah. Ia beralih memandang kesal ketiga orang di mobil sedan yang malah tertawa terbahak-bahak dan seenak jidat meninggalkan mereka.
"Sial!"
🌚🌚🌚
"Mana, Lan? Katanya siswi yang ketiduran itu udah bersihin ruangan ini."
Elan memandang guru kimia sekaligus pembimbing OSK kimia itu jengah. Padahal dia tak ada kewajiban mengawasi hukuman gadis tanpa suara itu.
"Paling lagi ngantin, Pak. Ini baru lima belas menit istirahat." Elan akhirnya mengubris ocehan guru itu.
"Bapak akan periksa balik sekolah. Kamu awasin itu siswi kurang tidur. Kamu satu-satunya siswa yang saya andelin." Guru kimia itu menepuk pelan pundak Elan. Ia hanya manggut-manggut malas. Detik kemudian pria usia tiga puluhan itu pergi meninggalkannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.