"Udah selesai, Bu, kasurnya juga udah dipasang di keranjang bayinya."
"Duh makasih lho, padahal saya aja yang masang. Ini upah sekalian jaket anak saya buat kamu. Sayang 'kan baru beli gak dipake, anak saya kegedean katanya."
Elan menerima paper bag itu dan berterima kasih sebelum pamit pulang. Karena dia tipe orang tak mau basa-basi jika diberi, apalagi pura-pura menolak padahal ingin.
Tak sadar hari sudah di ujung senja. Elan berjalan kembali pulang ke kos, tapi teringat Sivia menitip barang belanjaan di Alfamart. Jadi dia berbalik arah untuk pergi ke sana.
Ting!
Bondan : bangke ngmng sama dia kek ngmng sama benda mati. Emng bnr lan dia bisu? Murid AHS yg kos sini banyak yg bilang gitu masa
Elan : emang lo ngomong apa?
Bondan : 'bokap lo pasti tukang seles'
Elan : anak finter
Bondan : slh server ege, gue ngmng eh mksdnya nanya itu kejadian tadi pagi eh dia malah lanjut nonton yt trs cabut
Bondan : LAH IYA EMANG BENER LO NYIUM ADHIS HAH???!
Bondan : jadi ada yang gak denial lagi neh sama perasaannya?
Elan membeku. Jadi teringat cibiran-cibiran Bondan selama ini.
"Jadi lo masih gak tahu perasaan lo setelah semua yang lo lakuin? Bodoh. Dari lo bayarin biaya RS dia pake tabungan dari kapan tahu itu hasil lo ambis, rawat dia sampe sembuh, segala ngajak ke kos cuma buat makan nasgor dengan embel-embel lo jadi ketos, emang gue gak tahu semuanya, HAH?!"
"Jangan sok gak mau berhubungan deh, Lan, padahal jelas lo gak mau kehilangan."
"Asli lo udah kalah, Lan, kalah nahan rasa sayang buat dia. Tinggal ngaku aja kenapa, sih?!!"
Apa iya dia sudah kalah?
🌝🌝🌝
Malam-malam begini, Reval cs masih mencari camilan. Bahkan sampai ke ujung jalan, tapi malangnya pedagang yang dikunjungi kompak tutup.
Berhenti menancapkan gas, Sindu memilih kembali ke rumah Ompong. Saat berhenti dia langsung menabok dua teman laknatnya yang justru tertidur di belakang.
"Helm di kepala gue pro buat nyepak orang sih ini."
Iya, Sindu yang nyetir. Dan mereka bertiga —sama Embot juga Reval— naik motor kayak cabe-cabean lupa dikiloin.
"Gak asik huh Sindu huh." Embot bersorak usai menguap. "Temennya lagi nikmatin angin sepoi malem juga."
Reval yang tak peduli banyak, langsung masuk ke dalam rumah Ompong dan memilih duduk bersandar di bawah gorden. Berikutnya lanjut memejamkan mata.
Pasalnya, mereka sudah dianggap keluarga oleh keluarga Ompong terlebih orang tua sahabatnya itu yang asik jika diajak ngobrol.
Jadi, tak heran rumah Ompong sudah dianggap rumah sendiri. Dan kurang ajarnya masuk dan pergi sesuka hati.
"Gak asing gak, sih, itu kentongan?" tanya Embot mendengar kentongan penjual keliling.
"Cek gih, pasti Mang Ujang," timpal Sindu usai menyalami orang tua Ompong. "Heh laknat, salim dulu ege." Dia melempar bantal sofa pada wajah Reval.
KAMU SEDANG MEMBACA
Si 'A'
Novela Juvenil-Dia yang tak bersuara, penuh teka dalam lara- Berikut daftar keanehannya itu : 1. Notebook, yang isinya gambar liar adalah harta karunnya. 2. Rumput belakang sekolah, yang dikunjungi saat bel istirahat adalah surga dunianya. 3. Perkedel kentang, ya...
