Re-pubhlish: 07-05-2022
_____________________ _ _
🌹🌹🌹
"Tangannya gemetar saat menuang teh, tapi tidak saat menyembunyikan luka. Itu bukan kelemahan ... itu disiplin seorang yang pernah hidup di ujung ketakutan."
— Jenderal Kyra
🌹🌹🌹
_ _ _______________________
****
"Kalian yang masih ingin hidup, mundur sekarang."
Mendengar titah tegas dari pangeran Zhang sontak para pangeran dan kesatria di sana lekas menyingkir lebih jauh, tak ingin terjebak di tengah medan aura dua pemuda yang saling menatap seperti dua binatang buas yang siap menerkam.
Namun, belum sempat suara pedang kembali bergema, terdengar suara langkah kaki tergesa dari arah pintu utama.
"Pangeran Mahkota Jingrai!"
Semua kepala menoleh. Seorang utusan berpakaian khas kerajaan Li datang terburu-buru dengan peluh di pelipisnya. Ia berlutut di hadapan pangeran kerajaan Li itu sambil mengangkat gulungan surat bersegel resmi.
"Maafkan hamba, ini perintah mendesak dari istana. Anda harus segera kembali ke ibu kota!"
Pangeran Jingrai menatap utusan itu dengan tatapan tajam dan malas. Pandangannya lalu beralih pada lawannya si kesatria misterius yang tetap berdiri tenang dengan kain hitam menutupi matanya, tak bergeming seolah waktu tak pernah menyentuhnya.
Pangeran Jingrai menghela napas, lalu menyeringai. "Sepertinya pertempuran kita harus ditunda dulu."
Ia memutar pedangnya sekali sebelum mengembalikannya ke pemiliknya, kemudian berucap sinis. "Jangan senang dulu, Kesatria Buta. Lain kali, aku akan menyelesaikan ini. Dan ketika saat itu tiba, tidak ada diantara kita yang akan menahan diri."
Pemuda berjubah hitam itu hanya menyeringai tipis, tanpa menjawab sepatah kata pun.
Tepat saat Pangeran Jingrai berbalik, pandangan pangeran Mahkota Zhang menajam. Jika pertarungan tadi berlanjut, badai sesungguhnya akan mengguncang seluruh aula. Tidak ada satu orangpun termasuk pangeran Zhang yang bisa menghentikannya.
Pangeran Jingrai melangkah pergi dengan langkah santai dan penuh percaya diri. Namun, sesaat sebelum mencapai ambang pintu, ia menghentikan langkahnya dan menoleh sekilas ke arah rusa bertanduk emas yang kini hanya berdiri dalam keheningan.
"Rusa itu," ucapnya tanpa menoleh, "biarkan tetap di sini. Aku tidak tertarik pada hadiah yang belum berhasil kudapatkan dengan kemampuanku sendiri."
Seketika, aula menjadi hening. Tidak ada yang menyangka pangeran Mahkota Li akan mundur dengan sikap segagah itu. Tapi justru itulah yang membuat aura kekuasaannya semakin tak terbantahkan. Dia tahu kapan harus menyerang dan lebih penting lagi tahu kapan harus memberi ruang.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa pangeran Jingrai mungkin selamat hari ini. Tapi di pertarungan berikutnya, tidak ada jaminan bagi pemuda itu untuk mundur dengan kepala tegak seperti sekarang.
Begitu pangeran Jingrai melangkah keluar dari aula, suasana yang semula tegang langsung pecah menjadi sorak gembira. Setidaknya dari barisan pangeran kerajaan Qiang. Mereka segera merangkul kesatria berjubah hitam itu dengan antusias, seolah mereka baru saja memenangi sebuah peperangan besar.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐓𝐈𝐌𝐄 𝐓𝐑𝐀𝐕𝐄𝐋 : 𝐎𝐅 𝐀 𝐂𝐎𝐋𝐃-𝐇𝐄𝐀𝐑𝐓𝐄𝐃 𝐖𝐎𝐌𝐀𝐍
FantasyDia bukanlah penyelamat, bukan juga pahlawan dalam kisah ini. Dia adalah kutukan bernyawa yang bahkan kematian pun enggan menyentuhnya. ༒ KYRA MARSHELYNA ༒︎ Sang Jenderal perang yang menghancurkan kota demi kota demi menanamkan rasa takut bagi musuh...
