Chapter 5 | Minta maaf

499 40 14
                                        

Setelah makan malam, aku dan keluargaku berkumpul di ruang keluarga yang berada tepat di depan kamarku dan kamar Ka Giral. Ini memang rutinitas kami, hampir setiap malam kami sekeluarga duduk berkumpul di ruang keluarga, terlebih aku dan Ka Giral sedang ada sedikit masalah.

"Siapa yang mau jelasin kejadian tadi sore?" Tanya Mamah mulai menyidangku dan Ka Giral.

Aku memeluk Mamah dari samping dan meletakkan kepalaku di pundak Mamah. Di samping Mamah ada Papah dan juga Ka Giral. Kami duduk di atas karpet, walaupun ada sofa di sini.

"Kenapa Mah?" Tanya Papah yang belum mengetahui masalahku dengan Ka Giral.

"Biar anak-anak yang jelasin Pah," jawab Mamah lembut.

Papah menatapku dan Ka Giral secara bergantian meminta jawaban. Aku melepas pelukan dari Mamah dan menegakkan badan untuk menjelaskan kepada Papah

"Ka Giral ngusir kakak kelas aku Pah, padahal kita cuma mau latihan buat tampil di sekolah. Awalnya juga ditemenin Mamah," Jelasku akhirnya.

"Kakak enggak bermaksud ngusir Pah. Lagian tadi kakak ngeliat mereka cuma berdua," balas Ka Giral membela dirinya.

Aku menghembuskan napas pelan mendengar jawaban Ka Giral. Selalu seperti ini, semenjak kejadian yang menimpaku beberapa tahun lalu, Ka Giral tidak pernah membiarkanku dekat dengan laki-laki manapun kecuali dia, Papah, dan teman-teman Ka Giral yang waktu itu ikut membantunya menyelamatkanku.

"Awalnya Mamah temenin Arunika sama temennya, jadi mereka enggak cuma berdua di ruang tamu. Kebetulan, waktu kamu sampe rumah Mamah lagi ke kamar mandi, makanya kamu salah paham," jelas Mamah memberi pengertian kepada Ka Giral.

"Sekarang jelasin Kak, kenapa kamu ngusir temennya Arunika?" Tanya Papah menatap hangat Ka Giral.

"Kakak cuma mau jagain Adek, Kakak enggak mau Arunika—" Ka Giral menggantungkan ucapannya. Papah terdengar menghela napas pelan karena mengerti apa yang akan Ka Giral ucapkan meski kalimatnya menggantung.

"Tapi enggak dengan cara kaya gitu Kak, itu enggak sopan. Mau bagaimanapun, temennya Arunika itu tamu," ucap Papah dengan lembut.

"Mereka cuma latihan doang kan? Enggak macem-macem?" Tanya Papah dan aku menjawabnya dengan anggukkan pelan.

Papah dan Mamah tidak ada yang terlihat marah. Mereka memang selalu menyelesaikan masalah di keluarga ini dengan kepala dingin. Bahkan, aku dan Ka Giral jarang sekali dimarahi oleh mereka. Itu mengapa, aku dan Ka Giral sangat dekat dengan mereka.

"Maaf Pah," jawab Ka Giral sambil menunduk, terlihat merasa bersalah.

"Kamu salah sama Papah?" Tanya Papah membuat Ka Giral mengangkat kepalanya dengan wajah sendu.

"Maaf Dek, Kakak salah," ucap Ka Giral kali ini sambil menatapku.

"Aku ke kamar dulu mau belajar, besok masih ada ujian," pamitku seraya beranjak dan melangkah masuk ke kamar tanpa membalas permintaan maaf Ka Giral karena aku masih merasa kesal kepadanya.

***

Perasaanku pagi ini masih cukup buruk sejak kemarin sore. Saat ingin berangkat sekolah Ka Giral sudah meminta maaf lagi kepadaku, tapi aku tetap tidak menjawabnya dan memilih berangkat sekolah bersama Papah.

Kelas ujianku belum begitu ramai, baru ada beberapa siswa yang sudah berada di dalam kelas, bahkan Ka Sagarapun belum datang. Aku menunggu Ka Sagara datang karena ingin meminta maaf kepadanya perihal kejadian kemarin.

Aku melirik jam dinding yang berada di atas papan tulis dan beralih pada pintu masuk ketika ujung mataku melihat ada seseorang yang memasuki kelas. Ka Sagara melangkah dengan senyuman hangatnya ke arahku.

ArunikaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang