Sudah 10 menit aku berdiri di depan gerbang menunggu ketiga temanku, tapi salah satu dari mereka belum ada yang menampakkan batang hidungnya padahal waktu sudah menunjukkan pukul 06.35. Sudah banyak siswa siswi lain yang berlalu lalang memasuki gedung SMA Kelaga.
"Sorry Ar, udah lama ya?" Akhirnya salah satu dari mereka datang dan langsung menghampiriku.
"Erlara sama Karina belum dateng?" Tanya Davina sambil membenarkan letak rambutnya yang tergerai rapih.
"Belum, mungkin bentar lagi," jawabku melirik kembali pada arloji.
"Nah itu mereka," Davina melambaikan tangan kepada Erlara dan Karina yang baru saja menyeberang menghampiri kami.
"Yuk masuk," Ajak Karina.
Kamipun berjalan memasuki area gedung sekolah melangkah di lorong kelas sebelas tempat kelas ujian kami berada. Suasana kelas sudah ramai saat kami sampai di dalam kelas. Aku melihat Ka Sagara duduk di meja depan bersama teman-temannya.
Aku langsung duduk di tempatku. Tepat saat aku duduk, Ka Sagara kembali ke tempat duduknya, di sampingku.
"Pagi," sapanya dengan senyum hangat yang terukir di wajahnya.
Aku hanya membalasnya dengan tersenyum sopan. Sejujurnya, aku masih merasa canggung berbicara dengan laki-laki ini. Apalagi kalimatnya kemarin membuatku teringat pada peristiwa menakutkan yang aku alami beberapa tahun lalu.
"Kata bahasa Indonesia apa yang kamu suka? Selain nama kamu," Aku mengernyit mendengar pertanyaannya, sangat tiba-tiba.
"Kanigara yang artinya bunga matahari." Jawabku terpaksa.
"Kamu suka bunga matahari?" Tanyanya lagi seraya meletakkan sebuah ponsel ke dalam tasnya. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kenapa suka bunga matahari? Kenapa enggak mawar kaya kebanyakan wanita?" Tanynya lagi, kali ini cukup membuatku menghela napas karena menyadari bahwa dia sepertinya punya banyak pertanyaan untukku.
"Supaya beda." Dia terkekeh mendengar jawaban asalku.
"Selain Karena seperti namaku, matahari. Aku suka bunga matahari juga karena warnanya kuning melambangkan keceriaan. Ya walaupun aku lebih suka dengan warna biru pastel," jelasku lebih detail.
"Kamu suka warna-warna pastel atau hanya biru pastel?" Dia menyampingkan posisi duduknya menghadapku.
"Suka warna-warna pastel karena warnanya yang soft. Tapi Biru pastel warna yang paling aku suka," Jawabku juga ikut menghadapnya. Entah mengapa, semakin lama aku merasa laki-laki ini menyenangkan untuk teman mengobrol. Tidak semenakutkan bayanganku, semoga.
"Kalo saya suka warna biru laut dan biru langit biar sama kaya nama saya. Tapi sekarang warna kesukaan saya bertambah, biru pastel biar sama kaya kamu," jawabnya kali ini membuatku berubah pikiran karena telah menganggapnya tidak akan membuatku takut.
"Ka Sagara suka kata apa?" Tanyaku balik mengalihkan topik kepadanya.
"Saya suka kata Asa, harapan," jawabnya dengan senyum mengembang hingga mata elangnya ikut menipis.
"Kenapa suka Asa?" Tanyaku sedikit penasaran. "Apa karena dia suka memberi harapan," lanjutku dalam hati
"Karena di dunia ini banyak sekali harapan baik. Dan sekarang saya punya harapan baik," Jawabnya tersenyum. "kamu tau, apa harapan baik saya sekarang?" Lanjutnya dengan bertanya kembali.
"apa?" Tanyaku karena tidak tahu jawaban atas perntanyaannya kali ini.
"Saya berharap, saya bisa di samping kamu terus," ucapnya mengakhiri percakapan kami karena aku mulai tidak nyaman dengan pernyataannya barusan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arunika
Teen Fiction[JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN YA. JANGAN LUPA FOLLOW SUN JUGA]. Arunika Melliflous seorang siswi kelas 11 yang berhasil menjadi juara olimpiade Bahasa Indonesia tingkat Nasional. Wanita bersuara lembut yang mampu memikat lelaki benama Sagara Nabastala...
