Chapter 8 | Bunga Matahari

373 37 7
                                        

Setelah ujian akhir semester 1, sekolah tidak langsung diliburkan sampai pengambilan rapot semester. Diberi waktu 3 hari untuk remedial pada nilai-nilai yang belum memenuhi sebelum akhirnya guru merangkap tuntas nilai di hari kamis dan membagikan rapot di hari sabtu.

Aku melangkah masuk ke dalam kelas dan mendapati ketiga temanku sudah berada di di dalam kelas. Aku mengernyit saat melihat ada setangkai bunga matahari di mejaku.

"Dav, ini bunga punya lo?" Tanyaku pada Davina yang memang duduk satu meja denganku.

"Bukan Ar. Gue juga enggak tau itu punya siapa, bunganya udah ada dari sebelum gue dateng," jelas Davina sambil membenarkan duduknya menghadapku.

"Siapa ya?" Monologku sambil memikirkan siapa yang menaruh bunga itu di mejaku.

Davina mengedikkan bahu, "Feeling gue si ini buat lo. Coba liat, ada surat enggak?" Ucapnya sembari memerhatikan bunga matahari yang posisinya berada tepat di meja bagianku.

Aku mengangkat bunga matahari itu dan menemukan secarik kertas yang tertindih bunga itu. Tanpa menunggu lama, Aku membukanya dan mulai membaca.

"One of the right place to see the sunrise?" Gumamku membaca kalimat terakhir dari surat itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"One of the right place to see the sunrise?" Gumamku membaca kalimat terakhir dari surat itu.

"Emm.. gunung?" Pikir Davina yang sedari tadi menyimakku membaca surat.

"Puncak?" Sahut Karina yang berada di belakang tempat dudukku dan Davina.

"Kalian nguping dari tadi?" Tanyaku menatap Erlara dan Karina yang kini tersenyum menunjukkan deretan gigi putih mereka saat aku memergoki mereka sedang memerhatikanku.

"Kita kepo tau!" Ucap Erlara sambil menunjuk bunga matahari dan surat yang ada di genggamanku.

"Jangan kepo doang dong! Bantuin mikir," protes Davina.

Erlara tekekeh. "Rooftop?" Tebaknya. Aku semakin bingung, banyak sekali tempat untuk melihat sunrise.


"Pantai?" Tanyaku sambil terus berpikir.

"Laut?" Ucap Karina yang membuatku menatapnya.

Laut, aku memikirkan tempat itu dan tersadar akan sesuatu. Aku tersenyum setelah tau siapa yang menaruh bunga ini.

"Heh senyum-senyum aja lo. Udah tau ya yang ngasih bunga ini siapa?" Tegur Davina memergokiku tersenyum.

"Sampe mukanya merah gitu, udah tau nih pasti siapa yang ngasih bunga!" Ucap Erlara mencolek daguku menggoda.

Aku tidak menghiraukan rasa penasaran para sahabatku dan memilih untuk mengeluarkan ponsel dari dalam tas lalu memotret bunga matahari itu dan mengiriminya melalui pesan kepada seseorang yang aku tuju.

ArunikaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang