Chapter 47 | Rasa Penyesalan

165 14 7
                                        

AUTHOR POV

🍃🍃🍃

Sagara baru saja sampai di apartemen yang akan ia tempati selama di Belanda, tepatnya di kota Amsterdam. Dia meletakkan koper asal dan membuka sepatu serta kaus kaki yang sedari tadi ia pakai.

Laki-laki berkaus hitam lengan pendek itu melirik jam weker yang terdapat di apartemen. Waktu menunjukkan pukul lima sore di Amsterdam, yang artinya di Indonesia kini sudah pukul sebelas malam.

Dia berjalan gontai memasuki dapur untuk menyeduh kopi. Sagara mengisi air pada electrik kettle yang telah disediakan oleh pihak apartemen, dan mulai memasak air hingga mendidih. Ia mengambil kopi yang terdapat di samping eletrik kettle tadi, lalu menuangkan bubuk kopi pada cangkir yang juga telah disediakan.

Setelah kopinya siap, ia membawa cangkir yang berisi kopi susu itu ke balkon. Sagara sama sekali melupakan rasa lelahnya setelah ia terbang dari Jakarta ke Belanda yang memakan waktu 14 jam, karena yang dia pikirkan sekarang hanyalah Arunika.

Sagara mengambil ponselnya dari saku celana dan menyambungkan internet dengan wifi yang tersedia di apartemen.

Dia terkejut ketika membaca email yang masuk beberapa jam lalu dari Davina. Sagara sampai menumpahkan sedikit kopinya ke lantai saat membaca pesan yang Davina kirimkan padanya.

Sagara buru-buru membalas email Davina untuk menanyakan keadaan Arunika dan meminta alamat email perempuan yang telah menjadi mataharinya.

Sagara menunggu balasan dari Davina dengan gelisah. Dia berjalan mondar-mandir di balkon apartemennya. Sudah hampir sepuluh menit, Davina belum juga membalas emailnya.

Laki-laki itu masuk ke apartemennya dan meletakkan cangkir kopi yang sempat ia minum tadi di atas meja ruang tamu. Dia membuka koper untuk mencari jaketnya.

Setelah dapat, Sagara segera memakainya lalu dengan cepat ia memakai kembali sepatu dan melangkah keluar apartemen.

Ia berjalan meninggalkan apartemen mencari penjual sim card Belanda.

Sagara menemukan toko yang menjual sim card tepat di samping apartmen. Tanpa pikir panjang dia langsung masuk ke dalam toko itu dan menghampiri penjaga toko.

"Ik wil een Lebara simkaart kopen," ucap Sagara pada sang penjual. (Saya mau beli kartu sim Lebara).

"Hier kunt u kiezen welk nummer," sahut sang penjual mempersilahkan. (Ini, anda bisa pilih mau nomer yang mana).

"Dit, ik dies dit," tunjuk Sagara pada salah satu sim card Lebara yang penjual itu tawarkan. (Ini, saya pilih ini).

Sagara mengeluarkan beberapa lembar uang euro dan memberikannya pada penjual itu.

"Met dank," ucap penjual itu. (Terima kasih).

"Geen dank," balas Sagara lalu melenggang pergi keluar dari toko. (Sama-sama).

Sagara bergegas kembali ke apartemennya. Setelah sampai, ia dengan cepat memasangkan kartu sim yang baru saja dia beli, pada ponselnya.

Setelah terpasang dan berfungsi pada ponselnya, Sagara dengan cepat membuka email untuk memastikan Davina membalas pesannya.

Pria itu menghela napas berat, dia manatap layar ponselnya dengan frustasi. Davina belum juga membalas emailnya.

ArunikaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang