Seperti yang diminta Ka Giral minggu lalu, hari ini Ka Sagara menemaniku untuk pergi ke psikiater.
Sebenarnya traumaku sudah perlahan membaik, aku sudah mulai berani untuk bersosialisasi. Tapi minggu lalu, Dokter memintaku untuk datang kembali sekedar memeriksa perkembangan dari kesehatanku.
Aroma obat sangat menyengat di indera penciuman saat aku dan Ka Sagara berjalan di lorong rumah sakit.
"Nama dokter kamu siapa?" Tanya Ka Sagara.
"Dokter Fira, Dokter kesayangan ku." Ka Sagara tiba-tiba saja berhenti saat mendengar jawabanku.
"Kenapa berhenti?" Aku menoleh pada Ka Sagara yang kini sedang cemberut menatap ku.
Aku terkekeh melihat wajahnya, sangat lucu menurutku. "Kenapa ka?" Aku bertanya karena sedikit bingung dengan perubahan raut wajah Ka Sagara.
"Periksa ke Dokter yang lain aja!" Jawab Ka Sagara tak santai.
Aku mengernyit, "Emang kenapa?"
Ka Sagara diam masih dengan cemberut. Aku mengingat-ingat kenapa Ka Sagara tiba-tiba bersikap seperti itu. Aku tertawa saat tau apa yang membuat Ka Sagara 'ngambek'.
"Dia Dokter kesayanganku, tapi dulu. Sekarang aku punya Dokter baru yang lebih aku sayang, tapi dia lagi ngambek!" Kataku mendramatisir.
Ka Sagara terlihat menahan senyumnya, "Siapa?" Tanya Ka Sagara.
Aku langsung lanjut berlajan menuju ruangan Dokter Fira, tanpa menjawab pertanyaan Ka Sagara.
Ka Sagara menyamakan jalannya dengan ku, dia sibuk bermain handphone.
Kami berjalan menuju pintu yang di depannya tertempel badge name
'Psikiater | dr. Safira Nabastala, S.Ked, Sp.Kj'.
"Ar, saya ke toilet dulu ya. Nanti saya tunggu kamu di lobi rumah sakit," Izin Ka Sagara padaku sebelum kami sampai di depan ruangan.
Aku mengangguk menjawabnya, lalu Ka Sagara langsung pergi menuju toilet rumah sakit.
Saat ingin lanjut melangkah, aku melihat Dokter Fira berdiri dengan menatap lurus ke arahku dari ambang pintu ruangannya.
"Dokter enggak apa-apa?" Tanyaku pada Dokter Fira setelah sampai di dekatnya. Ia terlihat melamun.
Dokter Fira tersenyum, "Enggak apa-apa, yuk masuk."
Aku pun masuk mengikuti Dokter Fira dari belakang. Setelah di dalam, aku duduk di hadapan Dokter Fira.
"Gimana keadaan kamu? Apa obatnya bekerja baik di tubuh kamu?" Tanya Dokter Fira.
"Aku udah lumayan membaik dok, obatnya juga berkerja dengan sangat baik. Memang awalnya ada penolakan dalam diri aku untuk minum obat itu, tapi perlahan aku terima,dan syukur aku udah enggak mimpi buruk lagi dok." Aku mulai menjelaskan keadaanku.
"Syukur kalo gitu, berarti obatnya bekerja efektif di kamu. Oh ya, Tadi kamu diantar siapa? Tumben enggak sama Giral?" Tanya Dokter Fira lagi.
"Itu Ka Sagara. Dan aku mau cerita sama dokter tentang dia hari ini," Jawabku bersemangat. Tapi anehnya raut wajah Dokter Fira terlihat terkejut saat aku mengatakannya.
"Apa yang mau kamu ceritain tentang dia?" Tanya Dokter Fira yang sudah mengubah raut wajahnya seperti semula.
"Aku udah jauh lebih baik dari minggu lalu dok, Ka Sagara yang bantu traumaku perlahan membaik. Aku selalu bahagia dan merasa aman kalau dekat dia," Aku mulai bercerita dengan excited.
Dokter Fira menyimak mendengarkan ku.
"Dan Ka Giral enggak seprotektif sebelum aku ketemu Ka Sagara," Lanjutku.
"Berarti bisa di bilang dia salah satu suport sytem kamu ya, sejak kapan kalian saling kenal?" Dokter Fira manganggapi lalu bertanya.
"Dia kakak kelas aku. Kami kenal karena waktu ujian akhir semester 1 kami duduk satu meja," jawabku.
Dokter Fira mengangguk, "Apa yang dia lakuin sampai kesehatanmu naik cukup signifikan?" Tanya Dokter Fira.
"Minggu lalu aku di ajak ke studio bandnya dan aku dikenalin sama temen-temen bandnya dok. Aku seneng kenal sama mereka, dan itu cukup buat mindset aku berubah kalau berteman sama laki-laki ga semenyeramkan itu," jawabku.
"Oh dia punya band? Bagus banget kalo sampe ngerubah mindset kamu kaya gitu, berarti dia punya pengaruh yang cukup besar ya di hidup kamu. Kalo boleh tau di bandnya dia main apa?" tanggap Dokter Fira tenang.
"Iya dok, aku bersyukur banget bisa kenal sama Ka Sagara dan teman-temannya, mereka semua baik. Di bandnya, Ka Sagara main gitar dok. Aku juga sempet duet sama Ka Sagara di ulang tahun sekolah dua minggu lalu." Aku menjawab dengan excited
"Waah kamu jago nyanyi? Nyanyi apa waktu itu?" Tanya Dokter Fira.
"Enggak jago dok cuma bisa hehehe.. aku sama Ka Sagara bawain lagu Monokrom dari Tulus. Ka Sagara jago nyanyi juga dok, waktu kami selesai bawain lagu Monokrom, Ka Sagara langsung ngambil alih miknya terus dia bisikin aku kalo dia mau nyanyiin aku satu lagu," Jawabku senang.
"Dia so sweet ya? Semoga kalian langgeng ya.." balas Dokter Fira dan tersenyum.
"Hm.. Kita ga pacaran dok," cicitku pelan.
"Oh maaf, saya pikir kalian pacaran.." balas Dokter Fira.
"Iya gapapa dok, oh ya obatnya masih harus diminum?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Dokter Fira tersenyum, "Masih harus diminum ya, Minimal satu tahun kamu baru bisa berhenti untuk memastikan kamu benar-benar sembuh, dan berhentinya juga bertahap."
"Sabtu minggu ini kamu sibuk ga?" Aku mengernyit saat Dokter Fira bertanya. Tidak biasanya Dokter Fira menanyakan kesibukkanku.
"Enggak dok, ada apa?" Aku menjawab dan bertanya balik.
"Main ke apartemen saya mau ga? Ada yang mau saya omongin," Kata Dokter Fira, wajahnya terlihat serius.
"Bisa kok dok, nanti dokter kabarin aku aja." Aku tak mau banyak bertanya, mungkin memang ada hal penting yang tidak bisa dibicarakan di sini.
"Yaudah, nanti saya sherlock ya.." Aku mengangguk menjawab Dokter Fira.
"Aku pamit pulang ya dok, makasih banyak," Pamitku pada Dokter Fira.
"Iya sama-sama. Saya ga anter kamu ke depan ya, ada pekerjaan yang harus saya selesaikan," jawab Dokter Fira.
Setelah berpamitan, aku langsung keluar dari ruangan Dokter Fira. Aku berjalan menuju lobi dimana Ka Sagara menunggu.
Aku melihat Ka Sagara sedang bermain handphone di kursi tunggu yang terdapat di lobi rumah sakit. Aku menghampiri dan duduk di sampingnya.
"Ko cepet banget?" Ka Sagara menghentikan game yang dia mainkan dan memasukkan handphonenya pada saku jaketnya.
"Nanti kalo aku lama, Pak Dokter marah lagi," Ucapku menggoda Ka Sagara.
Ka Sagara mengacak rambut ku, "Yaudah.. makan yuk saya laper, nanti Pak Dokter yang teraktir."
______________________
Fyi: masih berkaitan dengan chapter 14,
Dokter akan meningkatkan dosis obat bila tidak efektif dalam mengatasi gejala. Namun, jika terbukti efektif, obat-obatan akan terus diberikan setidaknya sampai 1 tahun. Kemudian, pengobatan akan dihentikan secara bertahap.
Jangan lupa vote dan coment😉
KAMU SEDANG MEMBACA
Arunika
Novela Juvenil[JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN YA. JANGAN LUPA FOLLOW SUN JUGA]. Arunika Melliflous seorang siswi kelas 11 yang berhasil menjadi juara olimpiade Bahasa Indonesia tingkat Nasional. Wanita bersuara lembut yang mampu memikat lelaki benama Sagara Nabastala...
