Belakangan ini Ka Sagara bersikap aneh. Tiga hari berturut-turut Ka Sagara mengajakku menghabiskan waktu berdua dengannya.
Seperti sekarang ini, aku dan Ka Sagara kini sedang berjalan-jalan di taman kota sambil memakan ice cream cone di tangan kami masing-masing.
Ka Sagara berhenti melangkah yang membuatku juga ikut berhenti.
Aku menoleh padanya, "Kenapa ka?"
"Tali sepatu kamu lepas," ucapnya menunjuk ke arah tali sepatuku yang lepas.
"Saya iketin ya." Aku segera menahannya saat dia hendak berjongkok untuk mengikat tali sepatuku.
"Aku aja ka," ucapku. "Aku titip ice cream." Aku menyerahkan ice creamku padanya yang langsung Ka Sagara terima.
Aku berjongkok mulai mengikat tali sepatuku yang lepas dan mengencangkan tali sepatu lainnya.
Tepat saat aku selesai mengikat tali sepatu, kedua ice cream yang Ka Sagara pegang terjatuh di samping sepatuku.
Aku mendongak ke arahnya yang kini menatap lurus ke arah depan.
Saat aku berdiri, Ka Sagara tiba-tiba saja berlari. Aku memerhatikan arah larinya yang ternyata mengarah pada seorang laki-laki yang sedang duduk di bangku taman sembari fokus pada ponselnya.
Seketika aku terbelalak ketika Ka Sagara mencengkram kerah baju pria itu dan meninju wajahnya.
"KA SAGARA." Aku refleks meneriaki Ka Sagara saat dia lagi-lagi meninju pria itu, kali ini sampai pria itu tersungkur.
Aku berlari dengan cepat mengahampiri Ka Sagara yang semakin membabi buta memukuli pria yang sama sekali tidak aku kenal. Sedangkan laki-laki itu sama sekali tidak menbalas pukulan Ka Sagara, dia hanya melindungi wajahnya dengan kedua tangan.
Setelah sampai padanya, aku menarik lengan Ka Sagara sekuat tenaga untuk memisahkannya dari laki-laki itu. Tapi nihil, tenaga Ka Sagara jauh lebih kuat dariku. Dia menghampaskan tanganku dengan kuat dan kasar hingga aku terjatuh di tanah.
Orang-orang mulai mengerubungi kami tanpa ada niat satu orangpun yang membantu memisahkan Ka Sagara.
Saat hendak berdiri, tiba-tiba saja ada tangan seseorang yang membantuku berdiri. Aku menoleh ke arahnya, dan mendapati Ka Puspa yang ternyata membantuku.
"Makasih ka," ucapku sambil menepuk belakang celana.
Ka Puspa mengangguk dengan wajah yang terlihat khawatir. "Lo enggak apa-apa?"
"Aku enggak apa-apa ka, tapi Ka Sagara," tunjukku pada Ka Sagara yang masih memukuli orang itu sambil menyebut sumpah serapah.
Aku menatap panik pada Ka Amerta yang kini berusaha memisahkan Ka Sagara dari orang itu.
"ADRIAN BANGSAT. SINI LO!" umpat Ka Sagara dengan terus berontak dari kekangan Ka Amerta yang menahannya untuk tidak kembali memukuli orang yang sudah tergeletak di atas tanah tak berdaya.
"Lepasin gue anjing!" Umpatnya tapi kali ini ditujukan pada Ka Amerta.
"Enggak! Gue enggak akan lepasin lo, kalo lo masih emosi kaya gini." Ka Amerta terus berusaha menahan Ka Sagara dengan sekuat tenaganya.
"BRENGSEK!" teriak Ka Sagara.
"Gue belom puas hajar dia! Gue mau dia abis di tangan gue. Jadi lepasin gue sekarang." Ka Sagara terus berontak dengan tatapan marah pada pria yang hampir sekarat itu.
"Ohok...ohok... sini Gar abisin gue. Kalo emang dengan cara itu lo bisa maafin dan nerima kakak lo balik ke keluarga lo. Ohok... Safira enggak salah, semuanya salah gue. Gue yang udah hancurin dia, gue yang udah ngancurin keluarga lo," ucap pria itu berusaha bangun sambil memegangi perutnya.
Aku diam mendengar semua kalimat yang dilontarkan oleh pria itu. Berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Brengsek!" Teriak Ka Sagara dan terus berusaha keluar dari tahanan Ka Amerta.
Plak
Aku refleks menutup mulut, terkejut ketika Ka Amerta menampar pipi kiri Ka Sagara cukup kencang.
"Sadar Gar! Dia udah mau mati. Lo mau masuk penjara?!" Bentak Ka Amerta dan seketika itu juga Ka Sagara tidak lagi memberontak darinya.
"Gue telphone ambulan," ucap Ka Puspa mengalihakan perhatianku. Kini Ka Puspa sibuk dengan ponselnya untuk menelpon ambulan.
Ka Amerta membawa Ka Sagara untuk segera pergi meninggalkan tempat ini, aku membututi mereka dari belakang. Ka Amerta mengajak Ka Sagara ke salah satu cafe yang berada di seberang taman kota.
Kami bertiga masuk ke dalam cafe dan Ka Amerta mengajak kami duduk di dekat jendela. Sepertinya Ka Amerta dan Ka Puspa dari cafe ini sebelum menolong Ka Sagara, terlihat dari notes yang bertulisan nama Ka Puspa tergeletak di atas meja.
Ka Sagara duduk berhadapan dengan Ka Amerta. Dia terlihat melamun memandang kosong ke depan.
Aku menarik kursi yang kosong dari meja lain dan menempatinya di sebelah Ka Sagara untuk aku duduki.
Aku menyentuh tangan Ka Sagara, "Gimana keadaan kakak?"
Bukannya menjawab, Ka Sagara malah menatapku dengan tatapan tajam, dan dengan cepat pendangannya berubah sendu. Seketika itu juga tangan yang aku pegang bergetar.
"Arunika... dia yang hamilin Kakak saya. Dia yang udah hancurin keluarga saya, dia yang bertanggung jawab soal hancurnya kakak saya," racaunya dengan mata merah.
Meskipun aku terkejut atas pernyataannya barusan, aku mengenggam erat tangan Ka Sagara yang gemetar, berusaha memberinya ketenangan.
"Gimana yang?" Tanya Ka Amerta pada Ka Puspa yang baru saja datang.
"Ambulannya udah dateng, orangnya juga udah dibawa," jawab Ka Puspa sambil menarik kursi kosong lainnya ke sisi lain meja dan mendudukinya.
"Sagara udah dikasih minum?" Tanya Ka Puspa.
"Belom," jawab Ka Amerta menggeleng.
Ka Puspa memukul pelan lengan Ka Amerta. "Dodol. Pesen minum buruan. Sekalian buat Arunika juga."
Ka Amerta mengangguk dan segera beranjak pergi untuk memesan minuman yang diminta Ka Puspa.
"Ka Puspa makasih banyak ya," ucapku menatap Ka Puspa.
Ka Amerta datang dengan membawa gelas yang berisi es teh di masing-masing tangannya. Ka Amerta menaruh gelas itu di hadapanku dan Ka Sagara.
"Ka Sagara minum dulu," ucapku melepas genggaman pada tangan Ka Sagara.
Aku mengambil satu gelas dan memberikannya pada Ka Sagara. Dia menerimanya dan meneguk isinya hingga tersisa setengah. Akupun mengambil gelas lainnya dan meminum sedikit isinya, kemudian menaruhnya kembali di atas meja.
"Sagara enggak akan bisa bawa motornya dengan keadaan dia yang kaya gini. Biar Puspa pesenin taxi online," ucap Ka Amerta.
"Terus motornya Ka Sagara gimana?" Tanyaku.
"Biar gue yang bawa," jawab Ka Puspa. "Yaudah, gue pesenin kalian taxi online sekarang ya."
"Saya mau ke apartemennya Ka Fira Ar," celetuk Ka Sagara tiba-tiba. Tanpa membantah, aku langsung menyebutkan alamat apartemen Dokter Fira pada Ka Puspa.
_________________________________________
Kira-kira Sagara mau ngapain ya ke apartemennya Safira? Temuin jawabnnya di chapter setelah ini!
Kalian jangan lupa tinggalin jejak dengan cara VOTE dan spam KOMEN ya. SHARE juga ke temen-temen kalian. Biar aku tambah semangat buat lanjutin ceritanya.
Jangan lupa FOLLOW aku juga hihi😁
See you readers❣
Salam hangat, Sun☀️🤗
KAMU SEDANG MEMBACA
Arunika
Fiksi Remaja[JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN YA. JANGAN LUPA FOLLOW SUN JUGA]. Arunika Melliflous seorang siswi kelas 11 yang berhasil menjadi juara olimpiade Bahasa Indonesia tingkat Nasional. Wanita bersuara lembut yang mampu memikat lelaki benama Sagara Nabastala...
