AUTHOR POV
🍃🍃🍃
tok tok tok
Suara pintu menghentikan perbincangan antara Rina, Safira, dan Giral. Giral beranjak dan membuka pintu utama rumahnya.
Pintu terbuka dan menampilkan keenam temannya yang baru saja datang.
"Tumben barengan," ucap Giral seraya mempersilahkan semua temannya masuk.
"Tadi kebetulan ketemu di jalan," jawab Revan.
"Siang Tante, Dok," sapa Alfian pada Rina dan Dokter Fira.
"Eeh silahkan duduk dulu ya, biar Tante siapin minum," sahut Rina beranjak dari tempatnya.
"Enggak usah Tante, kaya sama siapa aja," tolak Dio sopan.
"Enggak apa-apa, itung-itung ucapan terima kasih Tante karena selama ini kalian udah banyak bantu keluarga Tante," balas Rina tersenyum hangat.
"Tante aku bantuin ya?" Tawar Safira.
"Yaudah ayo Fir," ajak Rina. Rina dan Safirapun melenggang pergi masuk menuju dapur untuk menyiapkan minuman.
Giral dan teman-temannya duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Giral duduk di sofa single, Naufal dan Bayu duduk berdampingan di sofa panjang, dan Amar duduk di sofa single berseberangan dengan Giral. Karena tidak cukup tempat, Revan, Alfian, dan Dio duduk di lantai berhadapan dengan Naufal dan Bayu. Mereka duduk melingkari meja persegi panjang.
"Adek lo mana Ral?" Tanya Naufal yang sedari tadi tidak melihat keberadaan Arunika.
"Belum pulang, masih di sekolah," jawab Giral.
"Pulangnya masih lama?" Tanya Naufal lagi.
Giral melirik arloji yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. "Masih satu jam lagi. Kenapa? Lo mau jemput?"
Naufal terkekeh sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. "Kalo boleh."
"Malah nanyain Arunika. Modus lo kurang mantep," ledek Alfian. "Gar lagi emosi enggak lo?" Tanya Alfian yang langsung mendapat jitakkan dari Dio di sampingnya.
Alfian menatap kesal pada Dio. "Ko kepala gue dijitak si?! Lo kira lagi main batu gunting kertas!"
"Lo nanyanya terlalu frontal bego!" Sahut Revan.
"Kenapa? Ada yang bakal bikin gue emosi?" Tanya Giral penasaran.
"Enggak Ral, si Alfian emang aneh. Itu udah jadi rahasia umum si," sanggah Bayu seraya melempar tatapan tajam pada Alfian.
"Kalian kalo enggak ada gue pasti sepi! Apalagi cuma ada si kunyuk, garing udah TongJa," protes Alfian sambil mengatai Dio.
"Tuh tempat tongkrongan juga punya bokap gue. Enggak ada terima kasihnya lo," balas Dio tak terima.
"Pamrih banget najis sama temen sendiri. Lo juga nongkrong di situ, cuma cebok doang enggak pernah," ucap Alfian menanggapi. "Lagian kalo enggak ada kita-kita, lo bakal nongkrong sendirian," lanjutnya.
"Bacot lo," umpat Dio yang lagi-lagi menempeleng kepala Alfian.
"Beneran aneh ternyata Alfian," celetuk Naufal terkekeh. Yang diledek hanya mendengkus kesal.
Rina datang dengan nampan yang berisi enam gelas orange juice, dengan Safira di sampingnya yang membawa beberapa cemilan.
"Di minum ya," ucap Rina sambil meletakkan nampan di atas meja ruang tamu, diikuti Safira yang juga meletakkan dua toples cemilan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arunika
Jugendliteratur[JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN YA. JANGAN LUPA FOLLOW SUN JUGA]. Arunika Melliflous seorang siswi kelas 11 yang berhasil menjadi juara olimpiade Bahasa Indonesia tingkat Nasional. Wanita bersuara lembut yang mampu memikat lelaki benama Sagara Nabastala...
