Aku menghampiri Mamah yang berada di dapur, lalu menaruh tas belanja di atas pentry.
"Mamah kira kamu bakal lama di rumah Sagara," ucap Mamah sambil membuka tas belanja.
"Enggak mah, emang kenapa?" Tanyaku.
"Ini kan malem minggu, Mamah mau ngadain makan malem keluarga." Mamah mengeluarkan satupersatu sayuran dari tas belanja.
"Kan biasanya juga kita makan malem bareng mah," ucapku heran.
"Ya, malem ini Mamah mau bikin ala ala formal Family Dinner gitu. Nanti kita pake bajunya juga yang formal." Aku mengangguk mengerti mendengar penjelasan Mamah.
"Ya ampun Arunika.. ini kenapa telurnya pecah semua sayang?" Tanya Mamah sambil menunjukkan telur yang baru saja ia keluarkan dari tas belanja.
"Maaf mah.. tadi tas belanjanya jatuh, terus aku lupa kalo ada telur di dalemnya," ucapku sesal.
"Biar kakak aja mah yang beli lagi di warung," tawar Ka Giral menghampiri kami di dapur.
"Yaudah ka, tolong beli telur sekilo ya sekalian buat stok soalnya. Nih uangnya," pinta Mamah, memberi uang selembaran berwarna biru pada Ka Giral.
"Aku anter enggak?" Tanyaku pada Ka Giral.
"Ayo." Ka Giral menarik tanganku pelan untuk mengikuti langkahnya keluar rumah.
Aku membuka pagar rumah untuk Ka Giral mengeluarkan motor suzuki TU 250 X Volty 2000 berwarna hitam kesayangannya.
"Ka Naufal kemana?" Tanyaku karena tidak melihat keberadaan Ka Naufal dan mobil chr hitamnya yang tadi mengantarku.
"Udah pulang," jawab Ka Giral setelah selesai mengeluarkan motornya dari halaman rumah.
Aku menutup kembali pagar, lalu naik ke atas motor Ka Giral.
Ka Giral mulai menyalakan mesin motornya dan melaju dengan kecepatan sedang.
"Kalo ada apa-apa bilang sama kakak dek, kakak khawatir," ucap Ka Giral sambil fokus pada jalanan.
"Aku enggak apa-apa ko," jawabku meyakinkan Ka Giral.
"Naufal tadi bilang ke kakak kalo kamu di gangguin lagi sama Rega," ucapnya setelah sampai dan memarkirkan motornya di depan salah satu warung depan komplek rumahku.
"Iya, tapi aku enggak apa-apa ko. Untung aja ada Ka Naufal tadi nolongin aku," ucapku masih berusaha meyakinkan Ka Giral.
Ka Giral terdengar menghembuskan napas pelan. Ia turun dari motor dan mengulurkan tangannya mengacak pelan rambutku.
"Tadi Rega bilang kakak pembunuh, maksudnya apa?" Tanyaku akhirnya.
Ka Giral diam beberapa detik, "Kakak beli telurnya dulu ya, takut Mamah nunggu kelamaan kalo kita ngobrol di sini."
Lengkap sudah rasa penasaranku. Ini bukan hanya tentang rasa penasaranku, tetapi juga masalah yang aku alami saat ini pasti berhubungan dengan yang Rega bicarakan tadi.
,,,
Aku dan Ka Giral sudah kembali ke rumah setelah membeli telur. Ka Giral langsung ke kamar, katanya ada tugas yang harus ia kerjakan.
Aku menghampiri Mamah dan membantu Mamah memasak untuk makan malam yang Mamah bilang.
"Sayang tolong cuci paprika hijau dan merah masing-masing satu, terus di potongin kaya biasa," pinta Mamah dan langsung aku kerjakan.
Aku mengambil satu paprika hijau dan merah lalu mencucinya di wastafel. Setelah itu aku memotong paprika yang sudah dicuci sesuai intruksi yang Mamah beri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arunika
Ficção Adolescente[JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN YA. JANGAN LUPA FOLLOW SUN JUGA]. Arunika Melliflous seorang siswi kelas 11 yang berhasil menjadi juara olimpiade Bahasa Indonesia tingkat Nasional. Wanita bersuara lembut yang mampu memikat lelaki benama Sagara Nabastala...
