Hi Sun! Saya enggak tau kamu masih mau jadi matahari saya atau enggak. Tapi yang jelas, saya akan terus menganggap kamu sebagai cahaya yang menerangi laut seperti saya.
Udah empat tahun saya ninggalin kamu, apa kamu masih sering ke Cafe Pancarona? Sama siapa? Saya berharap bukan sama laki-laki baru yang akan nyanyi bareng kamu.
Saya masih inget minuman favorit kamu, Caramel Latte kan? Apa udah berubah?
Arunika, apa kamu inget beberapa tahun lalu saya bilang kalo saya capek karena enggak ketemu matahari selama satu minggu? Rasa capeknya terasa berkali-kali lipat karena saya enggak ketemu kamu empat tahun.
Saya menjadi laut paling sunyi nan gelap tanpa bantuan cahaya sedikitpun dari kamu. Saya merasa langit menjadi begitu hampa seperti mengasihani kesunyian laut. Saya enggak bisa menikmati indahnya matahari terbit ataupun terbenam karena saya lagi enggak sama kamu.
Saat saya ketemu kamu lagi di restoran waktu itu, saya merasa ada sedikit cahaya untuk laut. Cahaya itu menjadi semakin terang seiring langkah saya mendekati kamu.
Saya sadar, cahaya saat itu cukup redup, enggak seterang waktu kamu mau jadi matahari saya. That is my mistake.
Maaf karena saya enggak sengaja memberi awan gelap kepada matahari terbit. Maaf karena saya telah membawa angin lebat diiringi hujan deras dengan gemuruh petir menghalagi indahnya matahari terbit.
I love you so much, and the feeling gets bigger as time goes on. It hurts me a lot because i realize i let you down a lot.
Kasih saya kesempatan untuk perbaiki semuanya. Let me fight from the beginning again to get a bright and beautiful light like the first time i met you.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arunika
Fiksi Remaja[JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN YA. JANGAN LUPA FOLLOW SUN JUGA]. Arunika Melliflous seorang siswi kelas 11 yang berhasil menjadi juara olimpiade Bahasa Indonesia tingkat Nasional. Wanita bersuara lembut yang mampu memikat lelaki benama Sagara Nabastala...
