Setelah pulang sekolah, Ka Sagara memintaku menemaninya latihan band untuk pensi nanti.
Kini aku dan Ka Sagara sudah berada di studio tempat Lazuardi biasa latihan. Semua teman band Ka Sagara sudah bekumpul di sini sejak beberapa menit lalu, ada Davina juga yang menemani Ka Genta.
"Gue lagi enggak mood, latihannya lain kali aja ya?" Ucap Ka Puspa yang sedari tadi duduk di sofa panjang.
"Bilang dari awal kek! Kan kita enggak usah capek-capek ke sini," gerutu Ka Genta.
Ka Amerta melempar bantal yang berada di dekatmya pada Ka Genta. "Ngeluh mulu lo."
"Gimana kalo kita main game biar enggak bosen?" Davina memberi saran
"Boleh tuh, main truth or dare aja gimana?" Ka Amerta ikut menimpali.
"Ah enggak seru truth or dare mah. Nanti pada milih truth semua. Mending dare or dare, lebih menantang," usul Ka Genta. Kami semua setuju dengan usulan yang Ka Genta berikan. Lalu kami duduk melingkar di atas karpet.
Aku mengeluarkan tubler kosong dari tasku, "Nih pake botol minum aku aja." Aku menyerahkannya pada Ka Genta.
Ka Genta membaringkan tublerku di tengah lingkaran kami dan mulai memutarnya. Botol memutar dengan tutup botol mengarah mengitari kami. botol itu berhenti memutar dengan tutup botol mengarah pada Ka Puspa.
"Sari Puspa! gue tantang lo nyanyi dancing quen dengan satu napas." Ka Genta yang pertama menantang Ka Puspa. Aku mendengar Ka Puspa sedikit berdecak dengan wajah kesal ke arah Ka Genta.
"Gue lagi enggak mood nyanyi gentong!" protes Ka Puspa.
"Bodo amat! pokoknya lo harus lakuin tantangannya, kalo enggak lo traktir kita mcd," ujar Ka Genta tak mau mengalah.
"Cewek gue lagi enggak mood Gent---"
"You can dance.. YouUUuu can jiiive Having the time of your life Ooh, see that girl Watch that scene Digging the dancing queen." Dengan sangat tiba-tiba Ka Puspa bernyanyi memenuhi tantangan yang diberikan Ka Genta. Aku menatapnya takjub mendengar suara tinggi Ka Puspa yang masih sangat merdu. Aku sampai tidak berkedip memandangnya.
"Biasa aja Ar, enggak usah sampe mangap gitu. Gue tau suara gue bagus," kata Ka Puspa membuyarkan lamunanku. bahkan aku sampai tidak sadar bahwa mulutku terbuka karena mendengar suara Ka Puspa.
Aku dan Davina serempak bertepuk tangan. "Ka Puspa lagi enggak mood nyanyi aja, suaranya bagus banget! apalagi mood." Aku mengangguk setuju dengan pernyataan Davina.
"Suara Ka Puspa tinggi banget!" pujiku masih dengan menatapnya berbinar.
"Jangan dipuji mulu, gede kepala dia," celetuk Ka Genta yang mulai memutarkan botol kembali. Kali ini botol berhenti dengan tutupnya ke arah Ka Genta.
"GENTONG!" teriak Ka Puspa. "Gue tantang lo bikin jokes bokap bokap," gilirannya menantang balik Ka Genta.
"Siapa takut!" Jawab Ka Genta percaya diri. "Tebak ya. Makanan, makanan apa yang bisa bikin anak kecil ketawa?"
"Apa?" Tanya Ka Amerta.
"Cilok," jawab Ka Genta yang membuatku mengernyit.
"Cilok?" Davina ikut bertanya.
"Cilok ba!" Ka Genta tertawa sendiri setelah menjawab. Kami semua terdiam menatap Ka Genta.
"Garing," celetuk Ka Sagara dan memegang botol lalu mulai memutarnya kembali. Kali ini botol berhenti dan mengarah padaku.
"Arunika, gue tantang lo bikin puisi cinta buat Sagara!" aku meringis mendengar tantangan yang dilontarkan Ka Amerta. Mana mungkin aku bisa membuat puisi dengan cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arunika
Teen Fiction[JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN YA. JANGAN LUPA FOLLOW SUN JUGA]. Arunika Melliflous seorang siswi kelas 11 yang berhasil menjadi juara olimpiade Bahasa Indonesia tingkat Nasional. Wanita bersuara lembut yang mampu memikat lelaki benama Sagara Nabastala...
