AUTHOR POV
🍃🍃🍃
Revan menghentikan mobil milik Giral di parkiran permakaman. Ia turun dan membantu Arunika menurunkan Rina dari mobil.
Setelah Rina duduk sempurna di atas kursi roda dengan Arunika memegang kantung infus yang selangnya masih terpasang pada punggung tangan Rina, Revan mendorong kursi roda itu menuju pemakaman Radan.
Pemakaman tengah berlangsung, di sana selain ada para sahabat Arunika dan Giral, juga ada temen-teman Sagara serta keluarga Sagara juga hadir di pemakaman Radan.
"Rina.." Ratna menghampiri Rina yang baru saja sampai. Dia memeluk istri dari sahabat suaminya ini, bermaksud menyalurkan kekuatan.
"Aku turut berduka cita ya Rin. Kamu yang sabar, kamu masih punya dua anak-anak yang hebat. Kamu harus kuat ya," ucap Ratna memberi dukungan pada Rina yang kini menatap pilu pada gundukan tanah yang baru saja mengubur suaminya.
Semua orang berdoa dipimpin oleh ustadz yang hadir, mereka mengirim doa untuk Alm. Radan.
Seiring dengan doa yang dibaca, air mata Arunika kembali mengalir membasahi pipinya. Dia masih tidak percaya bahwa Papahnya pergi secepat ini. Tangan yang memegang kantung infus Rina gemetar, kakiknya terasa lemas. Pening di kepalanya kembali menyerang. Gadis itu berusaha menahan semua yang ia rasakan sekarang.
Setelah selesai berdoa, satu persatu orang meninggalkan pemakaman. Menyisakan Arunika, Rina, Giral, dan teman-teman Arunika serta Giral, juga teman-teman Sagara yang belum meninggalkan pemakaman. Ratna, Arya, dan Safira juga sudah meninggalkan pemakaman.
"Ar, katung infusnya biar gue yang pegang," ucap Puspa menghampiri Arunika.
Tanpa bicara, Arunika memberikan kantung infus itu pada Puspa. Ia berjalan gontai mendekati gundukan tanah merah yang masih basah dengan batunisan bertuliskan nama Papahnya.
Arunika berjongkok di samping batunisan Radan lalu mengusapnya pelan. "Papah yang tenang ya di sana. Jangan khawatir, kita bakal terus doain Papah dari sini. Tungguin kita di surga ya pah."
"Dek," panggil Giral. Arunika menoleh dan mendapati Giral yang menyodorkan satu keranjang bunga.
Arunika mengambil segenggam bunga dan menaburkannya di atas makam Radan. Saat ia menaburkan bunga, Giral mengernyit melihat tangan adiknya yang gemetar.
Giral memerhatikan wajah Arunika yang pucat dengan kantung mata yang membengkak, belum lagi matanya yang merah karena terlalu banyak menangis.
"Kamu enggak ap–" ucapannya terpotong ketika tiba-tiba Arunika tumbang tak sadarkan diri dan dengan sigap Giral menahan tubuh adiknya.
Giral meletakkan keranjang bunga yang tadi dia pegang. Tangannya menepuk-nepuk pipi Arunika, tak urung dia juga menggoyangkan tubuh Arunika agar adiknya tersadar.
"Ral bawa Arunika ke rumah sakit!" Ucap Naufal menyadarkan Giral dari kepanikannya.
Giral segera menggendong adiknya dan membawanya menuju mobil.
"Sayang ...." lirih Rina melihat Arunika pingsan di gendongan Giral.
Revan memutar balik kursi roda Rina, lalu mendorongnya mengikuti Giral. Puspa yang masih memegang kantung infus juga ikut berjalan beriringan dengan Revan.
Semua orang panik sekaligus khawatir dengan keadaan Arunika. Yang ikut ke rumah sakit selain Giral dan Rina, hanyalah Revan, Davina dan juga Genta. Puspa dan yang lainnya memilih pulang atau kembali ke rumah Arunika untuk membersihkan rumahnya.
Revan ikut menumpangi mobil Giral. Sedangkan Davina dan Genta membuntuti mobil mereka dengan mobil BMW milik Genta.
"Sayang aku merasa bersalah banget sama Arunika," lirih Davina.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arunika
Roman pour Adolescents[JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN YA. JANGAN LUPA FOLLOW SUN JUGA]. Arunika Melliflous seorang siswi kelas 11 yang berhasil menjadi juara olimpiade Bahasa Indonesia tingkat Nasional. Wanita bersuara lembut yang mampu memikat lelaki benama Sagara Nabastala...
