Pukul 9 pagi, kini aku sedang bermain ular tangga bersama Buntara di ruang tamu. Kami sudah selesai sarapan bersama Ka Sagara dan Dokter Fira sejak satu jam lalu.
"Yah..Aunty berhenti di kepala ular, jadi turun lagi deh," keluhku sembari menurunkan bidak punyaku ke ujung ekor ular.
"Yey dikit lagi Bunta menang!" Seru Buntara yang mendapatkan bidaknya berhenti dan meniki tangga.
"Enggak apa-apa Aunty kalah di uler tangga. Tapi kalo di hati Uncle Sagara Aunty selalu jadi pemenang," celetuk Ka Sagara yang baru saja datang.
"Enggak nyambung!" Sahutku
"Emang hati Uncle ada permainan apa?" Tanya Buntara polos.
Mendengar pertanyaan Buntara, Ka Sagara menggaruk tengkuknya.
"Hahahahahaha." Bukan hanya aku yang tertawa, tapi juga Dokter Fira yang sedari tadi memang menemaniku dan Buntara di ruang tamu, juga ikut tertawa.
Ting nong
Suara bel mengalihkan perhatian kami. Dokter Fira beranjak mendekati pintu apartemen dan membukanya.
Aku, Buntara, dan Ka Sagara menunggu di ruang tamu dengan rasa penasaran siapa yang datang.
Ka Sagara berjalan mendekati Dokter Fira untuk melihat siapa yang bertamu ke apartemen Dokter Fira.
"Masih berani ke sini lo anjing?!" Teriak Ka Sagara membuatku terkejut bukan main.
Aku segera memeluk Buntara yang sama terkejutnya denganku. Menenangkan Buntara dalam dekapanku, sepertinya dia ketakutan karena Ka Sagara berteriak dengan berkata kasar.
"Mau apa lagi lo ke sini?" Tanya Ka Sagara lagi pada seseorang di depan.
Aku mengelus punggung Buntara, "Bunta, Aunty anter ke kamar ya?"
Buntara tidak menjawab, dia melepaskan pelukan dariku dan hanya menggerakkan kepala—mengangguk.
Aku bergegas menuntun Buntara masuk ke dalam kamarnya yang bernuansa biru langit dengan gambar berbagai karakter super hero di dinding kamarnya.
"Bunta tunggu sini ya? Aunty mau ke luar dulu," pamitku dan lagi-lagi hanya diberi anggukan oleh Buntara.
Aku keluar dari kamar Buntara dan menutup pintu kamarnya. Saat berbalik badan, aku cukup terkejut atas kehadiran Bi Ita.
"Biar saya yang nemenin Buntara mba," ucap Bi Ita dan aku beri anggukan untuk mempersilahkan.
Setelah Bi Ita masuk ke dalam kamar Buntara dan menutup pintu kamarnya kembali, aku melangkah menuju pintu depan.
"PERGI BANGSAT!" Teriakan Ka Sagara membuatku berlari menghampirinya.
Aku terkejut ketika melihat laki-laki yang tempo hari Ka Sagara pukuli di taman kota. Kini laki-laki itu berdiri di depan pintu apartemen Dokter Fira dengan tangan kiri yang digips.
"Fir, kasih aku kesempatan. Gar, gue cuma mau minta maaf," ucapnya lesu.
Aku melihat Dokter Fira belum juga mengeluarkan suara, ia menatap kosong pria di depannya. Sedangkan Ka Sagara kini menatap tajam pria itu.
Dengan sengit Ka Sagara membalas, "Kalo lo minta maaf, apa semuanya bakal balik lagi?!"
"Seenggaknya gue udah coba minta maaf walaupun menurut lo enggak memperbaiki apapun," lirih laki-laki yang aku ingat bernama Adrian.
"Enggak. Gue enggak akan izinin lo-" ucapan Ka Sagara terpotong saat Dokter Fira mengangkat tangannya mengisyaratkan Ka Sagara untuk berhenti.
"Masuk," ucap Dokter Fira dingin. Dia mempersilahkan laki-laki bernama Adrian itu untuk masuk ke dalam aprtemennya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arunika
Jugendliteratur[JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN YA. JANGAN LUPA FOLLOW SUN JUGA]. Arunika Melliflous seorang siswi kelas 11 yang berhasil menjadi juara olimpiade Bahasa Indonesia tingkat Nasional. Wanita bersuara lembut yang mampu memikat lelaki benama Sagara Nabastala...
