Remaja-Fantasi
Dinara dan Afiya adalah dua gadis yang sudah bersahabat sejak kecil. Dinara yang merupakan gadis cantik dan mempunyai tubuh ideal membuat ia diberi gelar sebagai mostwanted girls. Namun, berbeda dengan Afiya yang bertubuh gemuk dan je...
Maaf, ya kemarin nggak sempat uptade soalnya tiba-tiba banyak kerjaan tanpa diundang 😪✌️
Gini, deh aku bakal usahain uptade setiap hari senin-sabtu. Minggu, aku ada pertemuan atau latihan rutin 😉
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Kedua sosok yang berbeda jenis kelamin sedang duduk di depan kelas XII Bahasa 3. Keduanya sejak dari tadi terdiam memerhatikan murid-murid yang berlalu lalang di hadapannya.
Karena merasa sudah lama terjadi keheningan salah satu di antara mereka menoleh memandang sosok yang berada di sampingnya. Ia bertanya-tanya di dalam benaknya dengan begitu banyak pertanyaan yang akan langsung dilontarkan.
"Lo ngapain tadi?" tanya Dafa, cowok itu sedang bersama dengan Dinara.
Setelah kejadian tadi di mana Dinara didorong oleh Azlan, Dafa datang menolong gadis itu layaknya seorang pahlawan. Sekarang, jadilah keduanya memutuskan untuk terduduk di dekat lokasi kejadian tadi.
Dinara terdiam. Gadis itu, tidak menjawab dan sepertinya tidak ada niatan untuk sekadar membuka suara. Ia masih dengan keadaan terluka sekaligus kecewa dengan Azlan.
Gadis itu tahu bahwa Azlan tidak akan percaya dengan ucapannya. Namun, setidaknya cowok itu memberikan sedikit kepercayaan. Ia tahu betul jika Azlan mengetahui semua sikapnya meski sekalipun dengan wajah berbeda.
Tadi, Azlan sepertinya ingin mempercayai dirinya saat cowok itu memandangnya dengan serius. Namun, nyatanya tidak sesuai dengan ekspektasi Dinara.
"Lo suka Azlan?" tanya Dafa langsung kepada intinya.
Entah mengapa mendengar itu membuat Dinara sontak menoleh memandang cowok di sampingnya. Ia terdiam kaku, bingung harus menjawab apa karena dirinya masih ragu dengan perasaan yang dialaminya sekarang.
"Kalau suka kenapa nggak bilang?" Dafa kembali bersuara dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Kalau lo bilang mungkin gue nggak akan terlalu berharap seperti sekarang ini!
"Gu–e juga nggak tau. Ya, udalah! Lupain aja lagi pula cowok itu udah punya pawang ular kayak 'dia'." Dinara sengaja menekan kata 'dia' karena merasa marah dengan sosok Afiya.
Sedikit melupakan tentang perasaan Dafa, cowok itu kembali menoleh memandang gadis di sampingnya. Tentu saja ia terkekeh kecil mendengar nada marah Dinara.
"Segitu marahnya lo sama Dinara?"
Dafa tidak tahu saja bahwa gadis di sampingnya bukanlah Afiya melainkan Dinara. Rasanya lucu sekali jika membicarakan seseorang yang berada di hadapan kita.
"Lo emang pantas sebut cewek itu ular karena udah mengkhianati kepercayaan lo. Cewek itu, berbisa," lanjut Dafa yang mendapatkan anggukan kepala dari Dinara.
"Udahlah, nggak usah dibahas lagi. Gue nggak mau dengar nama dia lagi," sahut Dinara yang memang tidak mau lagi mengingat kejadian tadi apalagi jika Dafa menyebut namanya dengan nada yang kentara sekali tidak suka.