Remaja-Fantasi
Dinara dan Afiya adalah dua gadis yang sudah bersahabat sejak kecil. Dinara yang merupakan gadis cantik dan mempunyai tubuh ideal membuat ia diberi gelar sebagai mostwanted girls. Namun, berbeda dengan Afiya yang bertubuh gemuk dan je...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Dinara dan Afiya berjalan beriringan melewati beberapa kelas yang terletak paling pojok. Di antaranya tidak ada yang mau membuka mulut sehingga hanya keheningan yang menyelimuti mereka, itu semua berakhir dengan ucapan Dinara tadi.
Tiba-tiba saja dari arah belakang ada sosok murid perempuan yang memanggil nama Dinara membuat si empunya sontak berhenti dan berbalik memandang adik kelas yang sangat dikenalinya.
"Kak Nara, ada sedikit oleh-oleh dari Bali buat Kakak." Murid itu tersenyum lembut sambil memberikan sebuah bingkisan berwarna hitam dengan gambar batik khas Bali.
"Wah, makasih, ya," sahut Dinara dengan senang hati mengambilnya. "Lain kali nggak usah. Takut ngerepotin," lanjutnya tersenyum ke arah adik kelasnya.
"Nggak, kok, Kak. Kalau gitu aku pamit." Setelah mengucapkan itu, ia melangkah menjauh.
Dinara sempat melirik isi bingkisan yang hanya terdapat baju barong, pie susu, dan batik khas Bali. Ia sungguh mengenal murid itu. Murid yang sejak dari dulu selalu berusaha mencari perhatiannya dengan memberikan hal-hal disukainya. Entah alasan apa murid itu melakukannya. Mungkin saja murid itu hanya ingin numpang populer.
Afiya melangkah terlebih dahulu membuat Dinara tersadar dan cepat-cepat mengejar sahabatnya itu. Di perjalanan, Dinara ingin mengajak Afiya mengobrol. Namun, terhenti ketika suara seseorang dari belakang memanggil namanya.
"Na, nanti malam kita jalan, yuk!" ajak sosok murid laki-laki yang satu angkatan dengan Dinara.
Mendengar itu, sontak langkah Dinara kembali terhenti. Ia memandang sosok laki-laki yang berada di hadapannya. Laki-laki yang bernama Rian sang ketua OSIS dan juga kapten sepak takraw.
Dengan senyum kikuk Dinara mengucapkan, "Eh, sorry, ya. Gue nggak bisa soalnya ada urusan penting."
Afiya yang masih setia berada di samping Dinara mengerutkan kening bingung. Pasalnya, sahabatnya itu, tumben sekali memiliki urusan. Biasanya Dinara sangat malas jika berpergian malam.
Terlihat Rian tersenyum tipis seakan kecewa dengan ucapan Dinara. "O–h, kalau gitu kapan-kapan kita bisa jalan bareng, dong?"
Sungguh, Dinara tidak tahan berlama-lama dengan sosok laki-laki di hadapannya. Ia menoleh memandang Afiya dengan mengangkat kedua alisnya secara bergantian, memberikan kode kepada sahabatnya untuk meminta bantuan. Namun, sepertinya Afiya tidak peka dengan kode itu.
"Gue pamit dulu, ya!" Dengan gerakan cepat Dinara menarik tangan Afiya tergesa-gesa.
"Kok, lo nolak ajakan Rian? Dia itu ganteng, bahkan mostwanted. Cocok kalau kalian berdua berdampingan. Cantik dan ganteng," ucap Afiya yang membuat langkah Dinara terhenti.
Tentu Dinara memutar bola mata malas. Jika boleh jujur, memang Rian itu ganteng, apalagi memiliki lesung pipi di sebelah kiri membuat laki-laki itu terlihat manis jika tersenyum. Bukan itu saja, Rian sangat berpengaruh besar di SMA 712. Namun, semua itu tidak membuat ia menyukai sosok Rian.