Bab 36 || Kembali

57 6 0
                                        

Loha! Sudah dua hari tidak bertemu. Heheh🤭🤣 sorry guys jarang up. Bukan karena sibuk, tapi entah kenapa beberapa hari ini lagi mager buat ngapa-ngapain. Penyakit malas guys😌jadi maklumi aja. So, sebagai gantinya aku up dua bab sekalian. Yuhu🎉😱

 Yuhu🎉😱

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

"Mama!"

Dinara langsung saja membuka kedua netranya itu. Napasnya tersengal-sengal dengan memerhatikan ke sekelilingnya. Hanya ada dirinya saja di dalam kamar.

Tanpa aba-aba lagi ia beranjak dari ranjang kecilnya itu dengan begitu tergesa-gesa seolah-olah ada yang mengejar dirinya. Ia hanya ingin memastikan sesuatu saja.

"Ma, Mama!" teriak Dinara memerhatikan ke beberapa ruangan.

Gadis itu melangkah ke arah dapur, tetapi tidak menemukan keberadaan sang mama. Ia terdiam cukup lama. Biasanya hari weekend seperti ini mamanya ada di rumah dan seperti biasanya selalu berada lebih awal di dapur. Lebih awal bangun dari pada dirinya.

Apakah mungkin saja mamanya itu keluar sebentar ke pasar atau ada urusan yang lain? Saat memikirkan keberadaan mamanya yang tidak ada di rumah, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar membuat Dinara melangkah cepat keluar. Ia pikir itu adalah mamanya, Nada.

Namun, saat membuka pintu semua mendadak sirna begitu saja. Ia kira itu adalah sang mama, tetapi kenyataannya salah. Ekspektasi tidak sesuai dengan realita.

Sekarang, di hadapannya berdiri sosok wanita paruh baya sedang membawa kantong kresek hitam yang entah apa itu isinya sambil tersenyum ke arahnya.

"Neng Fiya, gimana keadaannya?" tanya sosok wanita paruh baya itu.

Meski sangat bingung dengan keberadaan wanita paruh baya itu secara tiba-tiba Dinara tetap membalas senyuman dengan mengucapkan, "Aku baik-baik aja, Mpok. Emangnya ada apa, ya, Mpok? Kok, tiba-tiba nanya gitu." Tentu Dinara bingung dengan apa yang terjadi.

Mpok Ria. Wanita paruh baya itu adalah tetangga Dinara dan Nada. Wanita tua yang sudah berumur berkisaran 60-an, tetapi tetap gaul dan katanya memiliki jiwa-jiwa muda.

"Semalam, tuh, Neng Fiya pulang basah gitu mana nggak sadarkan diri. Untung aja ada den ganteng yang bawa Neng. Duh, mana ganteng pisan, sih adennya. Baik pula," sahut mpok Ria dengan mata berbinar-binar mengingat kembali kejadian semalam.

Dinara mengerutkan keningnya bingung, masih tidak mengerti dengan ucapan mpok Ria. Ia benar-benar tidak ingat apa-apa tentang kejadian semalam. Namun, beberapa menit terdiam ia baru mengingat sesuatu.

Memang semalam ia keluar dengan kondisi hujan-hujanan dan dirinya juga bertemu dengan Dafa. Tidak salah lagi cowok yang dimaksud mpok Ria pasti Dafa. Namun, tunggu dulu ada yang aneh.

Dafa membawa dirinya pulang dengan ia tidak sadarkan diri ditambah lagi ia pasti basah terkena hujan, tetapi anehnya baju yang sekarang dirinya gunakan kering dan terlihat berbeda dengan baju semalam yang ia pakai.

Dua Tuan Putri [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang