Remaja-Fantasi
Dinara dan Afiya adalah dua gadis yang sudah bersahabat sejak kecil. Dinara yang merupakan gadis cantik dan mempunyai tubuh ideal membuat ia diberi gelar sebagai mostwanted girls. Namun, berbeda dengan Afiya yang bertubuh gemuk dan je...
Ini aku ingetin kalian untuk terakhir kalinya. Jangan lupa vote dan coment, ya. Tunggu kejutan nanti malam🔥
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Dengan langkah pelan Afiya memasuki rumah kediaman Ghaaziyah bersama dengan Dinara yang sejak dari tadi menarik dirinya. Jika bukan karena Dinara memaksa dirinya masuk untuk menemui semuanya mungkin ia tidak akan berada di sini sekarang.
Ia tidak ada keberanian menemui mereka semua. Menemui Dinara tadi saja sudah membuat dirinya takut. Takut jika Dinara tidak memaafkan. Ya, meski pada kenyataan Dinara memaafkannya dirinya dengan lapang dada. Namun, ia tidak tahu apakah mereka akan memaafkan dirinya seperti yang dilakukan Dinara tadi.
Keringat sudah membanjiri wajah Afiya disaat melihat semuanya sedang menikmati acara menyambut kedatangan Dinara. Mereka belum menyadari kedatangannya hingga tiba-tiba suara seseorang membuat semuanya sontak menoleh.
"Fiya?"
Kiara sontak saja beranjak dari duduknya. Ia tidak menyangka jika Afiya akan datang ke sini mengingat terakhir kalinya gadis itu marah.
Afiya terdiam memandang mereka satu persatu dengan takut. Gadis itu menoleh memandang Dinara yang memberikan dirinya sebuah isyarat anggukan kepala seolah-olah sedang mengucapkan bahwa semuanya baik-baik saja.
"Afiya," gumam Kiara yang perlahan mendekati sang putri.
Dinara melepaskan tangannya yang berada di pergelangan tangan Afiya. Ia mengerti jika mereka berdua harus membicarakan semuanya.
"Fi, ikuti kata hati lo," kata Dinara memandang Afiya dengan senyuman kecilnya.
Afiya mengangguk mengerti. Gadis itu perlahan melangkah mendekati Kiara. Sebenarnya sulit dipercaya, tetapi ini memang kenyataannya bahwa ia adalah ....
"Mama," sahut Afiya memandang Kiara sendu.
Mendengar hal itu tentu saja membuat Kiara tanpa sadar menitikkan air mata, terharu. Benar-benar tidak menyangka jika putrinya yang satu sudah mulai juga memanggil dirinya dengan sebutan mama.
Sebelumnya ia tidak berharap penuh dengan Afiya. Berharap putrinya itu, bisa menerimanya sebagai sosok ibu. Namun, hari ini sebuah bukti nyata mengatakan bahwa Afiya sudah menerima dirinya.
"Sayang, kamu ...."
Afiya mengangguk dengan tersenyum kecil. "Iya, Ma."
Kiara senang mendengarnya. Wanita paruh baya itu langsung memeluk Afiya. Menumpahkan air matanya itu. Akhirnya putrinya sudah menerima dirinya. Tidak ada yang lebih berharga daripada kedua putrinya yang sudah menganggap dirinya ibu kandung.
Kiara melepaskan pelukannya dengan menyentuh wajah Afiya yang tidak bisa lagi menyembunyikan senyumannya itu. "Terima kasih, Sayang." Kiara memandang Dinara sejenak. "Nara, Sayang sini!"