Bab 51 || Keduanya Sama-sama Berharga

52 7 0
                                        

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

"Fi."

Dinara yang tadinya sedang sibuk merias kue di hadapannya seketika menoleh memandang keberadaan Zara yang memanggilnya.

"Lo siap-siap, gih."

Kerutan kening di wajah Dinara sudah terlihat mendengar ucapan Zara. "Emangnya mau ke mana, Kak Zara?"

"Udah. Jangan banyak tanya. Mending sekarang kamu ganti baju. Di luar ada yang nungguin. Soal kerjaan kamu tenang aja biar kakak yang handle."

Dinara semakin bingung saja mendengar hal itu. Menunggu dirinya? Perasaan ia tidak memiliki janji apapun dengan seseorang dan lagi pula ini masih jam kerja mana mungkin semua pekerjaannya diberikan kepada Zara. Ia tentu tidak enak.

"Nggak usah, Kak Zara. Ini kerjaan aku. Jadi, biar aku selesain semuanya dulu. Lagian di luar mungkin orang iseng."

"Udah kakak bilang, biar kakak aja. Kamu cepat siap-siap. Jangan sampai kakak kena marah gara-gara kamu."

Tanpa mau memberikan kesempatan Dinara membuka suara Zara langsung saja mendorong Dinara untuk segera berganti pakaian.

Melihat sikap Zara yang tidak seperti biasanya membuat Dinara merasa semakin bingung saja. Ada apa ini?

Beberapa menit ia sudah kembali dengan pakaian yang sudah berbeda. Seperti ucapan Zara ia mengganti pakaiannya. Entah siapa yang menunggu dirinya di luar.

"Dafa?"

Betapa terkejutnya Dinara saat melihat siapa yang sedang menunggu dirinya di luar. Ternyata cowok itu. Pantas saja Zara terlihat sangat memaksa dirinya untuk pergi.

Terlihat cowok itu tersenyum tipis. "Ayo naik!"

Dinara baru saja tersadar jika hari ini cowok itu tidak memakai mobil ataupun motor. Namun, yang cowok itu gunakan adalah sebuah sepeda. Cukup terkejut juga karena tak biasanya Dafa bersepeda.

"Lo bolos?!" Tuduh Dinara secara tiba-tiba. Bukannya naik ia malah melontarkan hal itu kepada Dafa.

Bukannya apa-apa, hanya saja ia kebingungan melihat Dafa berada di sini apalagi cowok itu masih memakai seragam sekolah. Ini masih jam sekolah belum waktunya pulang. Jadi ada kemungkinan Dafa bolos, tetapi mustahil seorang Dafa yang terkenal pintar dan rajin mau bolos?

"Siapa yang bolos? Guru rapat. Jadi, semua murid dipulangkan lebih cepat."

Hampir saja Dinara mengomeli Dafa habis-habisan jika sampai cowok itu ketahuan bolos. Tak tahu saja selama ini ia paling tidak suka orang yang suka bolos.

"Awas aja sampai lo ketahuan bohong!"

"Iya-iya, Bu Bos," sahut Dafa memutar bola matanya malas. Mana mungkin ia nekat bolos? Bisa-bisa dirinya digantung hidup-hidup oleh Dinara.

Dua Tuan Putri [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang