Remaja-Fantasi
Dinara dan Afiya adalah dua gadis yang sudah bersahabat sejak kecil. Dinara yang merupakan gadis cantik dan mempunyai tubuh ideal membuat ia diberi gelar sebagai mostwanted girls. Namun, berbeda dengan Afiya yang bertubuh gemuk dan je...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore dan kini Dinara sudah berada di depan halte yang berada di samping toko kue Daisy Arsalan. Pekerjaannya untuk hari ini sudah selesai. Akhirnya ia bisa beristirahat. Hari yang begitu melelahkan sekali. Dimulai dari pagi ia sama sekali belum beristirahat.
Di sekolah banyak sekali tugas, apalagi tugas praktik yang harus secepatnya dikerjakan. Sepulang sekolah langsung ke toko untuk bekerja. Pelanggan hari ini sangat banyak sehingga membuat para karyawan termasuk ia sibuk ini itu.
Meski semuanya sangat melelahkan ia tidak pernah mau mengeluh. Justru ia sangat menyukainya. Dengan ia disibukan dengan apapun dirinya bisa melupakan semua kesedihan dan masalahnya.
"Afiya!"
Mendengar teriakkan itu membuat Dinara yang tadinya sedang terduduk menunggu sontak menoleh memandang di mana terlihat sosok Dafa berlari ke arah dirinya dengan membawa sesuatu yang entah apa itu.
Dinara beranjak dari duduknya memerhatikan Dafa yang sudah berada di hadapannya itu. Dafa terlihat mengatur napas terlebih dahulu sebelum mengucapkan sesuatu.
"Fi, buat lo." Dafa menyodorkan sebuah paper bag berwarna coklat sehingga membuat Dinara mengerutkan keningnya dengan isi di dalamnya. "Ada sedikit makanan," lanjutnya seolah mengerti yang dipikirkan Dinara.
Tanpa menolak pemberian Dafa Dinara langsung saja mengambilnya. Jika hanya sebuah makanan tidak apa-apa ia terima asalkan bukan sesuatu yang mahal. Dirinya tentu akan menolak tanpa berpikir panjang.
Dinara sempat melirik ke dalan paper bag. "Makasih, ya, Daf," ucapnya tersenyum.
Dafa mengangguk dengan membalas senyuman Dinara. "Em ... btw gue lagi belajar masak dan itu, adalah masakan pertama gue."
Mendengarnya membuat Dinara terkejut. Tentu saja karena seorang cowok seperti Dafa belajar masak? Biasanya cowok sangat anti sekali yang namanya masak. Ia kira Dafa membeli makanan seperti biasanya. Ternyata kali ini berbeda.
"Gue benar-benar nggak nyangka. Lo belajar masak? Ini gila, sih! Tapi, lo hebat. Keren!" Dinara mengacungkan jempolnya dengan begitu salut terhadap Dafa. Cowok itu berbeda dengan cowok pada umumnya.
Hem, idaman bagi para cewek!
Dafa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa malu sekaligus senang juga karena dipuji seperti itu oleh gadis di hadapannya.
"Yah, gue nyoba aja, sih. Gue sering sendirian di rumah terus pembantu sering pulang kampung. Jadi, kadang kalau gue lapar beli di luar dan menurut gue nggak bagus juga beli makanan di luar. Nggak tau gimana higienisnya makanan itu? Bersih atau nggak? Dengan inisiatif sendiri gue belajar buat persiapan kalau sewaktu-waktu tinggal sendiri lagi."
Dinara mengangguk mengerti. Ucapan Dafa memang ada benarnya. Ia sangat suka dengan pemikiran cowok itu yang dewasa. Memikirkan sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Mulai mempersiapkan. Tambah idaman saja cowok itu.