Bab 13 || Dafa Perhatian atau Azlan Kasar?

87 14 22
                                        

Halo👋apa kabar semua? Semoga sehat selalu 🥰Jangan lupa vote+coment 😉

Halo👋apa kabar semua? Semoga sehat selalu 🥰Jangan lupa vote+coment 😉

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Bel pulang berbunyi sekitar tiga menit yang lalu, tetapi masih terdapat sosok gadis di kelas XII IPS-3 sedang sibuk dengan buku di hadapannya. Ia sangat serius mengerjakan soal yang terbilang begitu banyak bahkan ia tak sadar bahwa bel pulang sudah berbunyi.

"Akhirnya," gumam Dinara menoleh ke sekitarnya. "Gue sendiri," lanjutnya berbisik dengan mata melotot.

Dengan cepat ia langsung saja beranjak dan mengambil semua barang-barangnya yang berada di laci meja, tak lupa juga tasnya. Ia sangat parno jika berada di kelas sendirian apalagi kelas XII IPS-3 yang katanya memiliki hantu penunggu.

Awalnya ia tak percaya, tetapi lama-kelamaan jadi percaya mengingat banyak sekali kejanggalan yang ia alami selama menempati kelas XII IPS-3. Contohnya saja, tiba-tiba pulpennya hilang entah ke mana. Mau tak mau ia harus mencarinya terlebih dahulu mengingat hanya pulpen itu yang sekarang dimilikinya meski ia sanggup membelinya, tetapi pulpen itu baru-baru dibelinya apalagi pulpen mahal. Maka dari itu ia tidak rela jika pulpen itu hilang begitu saja.

Ia berusaha mencari di bawah meja atau pun kursi, tetapi pulpen bewarna hitamnya belum ditemukan. Entah kenapa ia semakin merinding. Tiba-tiba saja lampu berkelap-kelip tanpa ada yang menyalakannya membuat Dinara mengusap tengkuknya. Ia merinding saat lampu itu berkelap-kelip tanpa henti apalagi meja di belakangnya tiba-tiba bergerak.

Ia sungguh takut menoleh. Jika sampai menoleh mungkin saja yang berada di belakangnya adalah penampakan makhluk halus dengan wajah buruk rupa ditambah darah yang mengalir seperti di film horor. Seluruh tubuhnya bergetar saat membayangkannya. Salahnya juga, sudah tahu ia sangat parno dengan berbau horor masih saja menonton film begituan. Namun, kalau tidak nonton, ia bisa-bisa penasaran.

Gadis gembul itu, kembali ketakutan saat tiba-tiba saja bahunya disentuh dari belakang. Ia berusaha mati-matian untuk tidak pingsan. Matanya tanpa sengaja melihat pulpen hitamnya berada di dekat meja guru. Tanpa aba-aba ia langsung mengambilnya lalu berlari terbirit-birit keluar kelas.

"Lah? Kok, lari?" tanya penjaga sekolah dengan bingung. Sejak dari tadi ia berusaha memperbaiki lampu yang berada di kelas XII IPS-3. Tadinya mau minta bantuan kepada Dinara, tetapi tiba-tiba saja gadis itu berlari.

***

Napas Dinara tersengal-sengal. Bagaimana tidak? Ia berlari di sepanjang koridor yang terbilang sangat panjang sampai di depan laboratorium. Itu semua karena kejadian di kelas tadi.

Dinara mulai merapikan diri yang sedikit berantakan lalu membuka pintu yang berada di hadapannya. Semua pasang mata langsung menyorot ke arahnya.

"Permisi, Pak. Maaf saya telat," ucap Dinara memandang pak Naufal dengan sedikit takut mengingat gurunya itu, sangat killer.

Dua Tuan Putri [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang