Remaja-Fantasi
Dinara dan Afiya adalah dua gadis yang sudah bersahabat sejak kecil. Dinara yang merupakan gadis cantik dan mempunyai tubuh ideal membuat ia diberi gelar sebagai mostwanted girls. Namun, berbeda dengan Afiya yang bertubuh gemuk dan je...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dinara yang sekarang 🐈
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
"Guys, Afiya bilang mau traktir kalian semua, sepuasnya!"
Tentu saja mendengar hal itu membuat murid-murid seketika heboh. Mereka bersorak dengan begitu bahagia karena mendengar kata 'traktir.'
Kata-kata yang tentu saja sangat disukai semua orang. Traktir itu surga kedua para murid setelah jam kosong. Rasanya sangat mantap dengan hal itu.
Mereka bisa memesan makanan dan minuman sesuka hati tanpa memedulikan bayarannya karena sudah ditraktir. Sesuatu yang ditunggu-tunggu. Memanfaatkan kesempatan untuk memesan sebanyak-banyaknya mumpung sedang gratis-gratisnya. Lumayan uang jajan bisa ditabung dulu.
Terlihat para murid berkerumunan di stand makanan keinginan mereka masing-masing. Tak ayal banyak yang berdesakan atau berebutan satu sama lain karena takut jika tidak kebagian.
Semua pemandangan itu tentu saja tak luput dari penglihatan geng Bullies. Merasa sangat senang dengan permainan itu yang dilakukan oleh salah satu di antara mereka, Afiya.
Afiya tersenyum miring melirik gadis di sampingnya itu, Dinara. Ia melakukan itu semata-mata ingin bermain-main sedikit saja dan tentu saja membalaskan dendamnya dengan kejadian tadi pagi. Memberikan pelajaran kepada Dinara bahwa sekarang ini dirinya tidak lemah seperti apa yang dipikirkan gadis itu.
"Wah, ada traktiran. Gue mau juga, dong!" Tiba-tiba saja Husna membuka suara.
"Dari pada ditraktir. Mending kita sendiri yang beli. Nggak modal kalau traktiran. Kita ini nggak level ditraktir cewek rendahan kayak dia," timpal Nadira melirik sinis Dinara yang sejak dari tadi hanya diam saja.
Tentu hal itu mendapatkan anggukan kepala dari sahabat-sahabat yang lainnya juga. Mereka seolah-olah menganggap Dinara itu tidak lebih dari sebuah sampah, tidak ada harga di mata mereka.