Udah vote kan guys??
Selamat membaca:)
***
Seminggu berlalu setelah pertemuan Lova dan Neall di rooftop kafe, sejak saat itu pula hingga kini mereka belum juga bertemu kembali bahkan hanya bertukar kabar lewat telepon pun tidak. Lova menjadi semakin murung saat di apartemen maupun di kampus, Bella sendiri bahkan kesusahan untuk membujuk sang adik sepupu untuk tidak melewatkan jadwal makan.
Lova melangkah lunglai di koridor panjang gedung kampusnya, dia kembali mengenang kedatangannya sejam lalu ke apartemen Neall, pria itu tidak ada di sana sama seperti satu minggu terakhir, entah di mana dia berada. Lova sudah mencoba menghubungi pria itu guna mengetahui keberadaannya, atau mungkin sesimpel mengetahui kabarnya, namun hampir ratusan panggilan telepon yang ia lakukan dan lebih dari ratusan pesan yang telah ia kirimkan, tak ada jawaban yang pasti, dari panggilan telepon yang dilakukan Lova hanya suara operator wanita yang menyuruhnya untuk menghubungi kembali beberapa saat lagi.
Lova melangkah lebih lemah lagi sembari menatap pergelangan tangannya, jam tangan besar pemberian Neall melingkar sempurna di sana sebagai bukti bahwa ia dan Daneall benar-benar telah memiliki hubungan sebagai sepasang kekasih. Tiga puluh menit lagi kelas pertama hari ini akan dimulai, Lova lebih dulu melangkah ke arah toilet untuk menyegarkan raut wajahnya yang sangat kusut, ia bahkan hanya mencuci muka saat bangun tadi tanpa memoleskan beberapa kosmetik untuk menyamarkan wajah kusutnya beserta mata pandanya.
Ia sampai di toilet dan membasuh wajahnya di wastafel, kemudian menatap bayangan dirinya di cermin besar yang berjarak sedikit saja dari ia berdiri, sosok di sana sangat berbeda dari empat bulan lalu saat pertama kali ia sampai di sini.
Dengan cepat Lova merias wajahnya agar lebih cerah seberes itu ia menuju kelasnya.
Dia berhenti ketika mencapai pintu kelas, dosen kelas pagi ini berdiri di depan pintu dengan tangan yang berada dalam kantong celana, pria itu menatap dengan penuh selidik.
“Kau tampak berbeda,” Ujar sang dosen yang adalah Leonardo Dremson.
Lova segera mengernyit tak paham.
“Aku melihatmu dengan wajah kusut dua puluh menit lalu tapi sekarang sudah lebih baik,” Dosen itu tiba-tiba tersenyum manis, cepat-cepat Lova menguatkan diri untuk tidak mengakui bahwa pria di hadapannya tampan saat tersenyum.
“Tampaknya kau punya masalah serius akhir-akhir ini,” Gumam Mr.Emson sembari menelisik gelagat Lova.
“Apa kamu punya waktu luang?”
“Saya sibuk sir,” Jawab Lova cepat.
“Hanya sejam,” Tawar Mr.Emson.
Lova tak segera menggubris, jika ia meladeni pria di depannya ini maka akan semakin pusing kepalanya.
“Maaf sir, tapi kelas sudah seharusnya dimulai lima menit lalu.” Ucap Lova tenang sembari melangkah masuk ke dalam kelas.
Kuliah berjalan dengan baik hingga tak terasa dua jam berlalu.
“Baik cukup untuk hari ini, see you class. Velova temui saya di ruangan setelah ini.”
Lova ogah-ogahan berjalan ke arah ruangan Mr.Emson. Pikirannya masih melayang ke sosok Neall, lalu berhenti ketika mencapai pintu ruangan, ia memilih menghubungi Daneall lebih dulu sebelum masuk ke dalam.
Sama seperti sebelumnya, tak ada yang berarti dari panggilan yang ia lakukan. Ia mengambil napas dalam-dalam lalu mengembuskannya.
“Silakan duduk Velova,” Mr.Emson mempersilakan ketika menyadari kehadiran Lova.
KAMU SEDANG MEMBACA
SOLIVAGANT (END)
JugendliteraturIni cerita tentang seorang pembunuh bayaran dengan sejuta kisah kelam serta kehidupan gelapnya yang jatuh cinta dengan gadis pertukaran pelajar. Awal pertemuan sungguh tak terduga, hingga akhirnya ia memutuskan untuk memiliki gadis itu setelah perte...
