5. Nathan's Anxiety

637 34 0
                                        

"Ada apa? Siapa di luar?" Nathan tampak tidak tenang. Ia meletakkan sendoknya tanpa berniat menghabiskan sarapannya. Melihat wajah Milana yang pucat membuat nafsu makannya berhenti sama sekali.

"Ada.... banyak reporter di luar," jawab Milana. Sorot matanya terlihat cemas.

"What??? Reporter? Apa yang mereka lakukan di sini? Ada apa dengan rumah sakit ini kenapa mereka mengizinkan reporter masuk dan berdiri di luar?" keluh Nathan dan meraih ponselnya di nakas samping tempat tidur.

Milana mencoba mencerna apa yang terjadi. Sepertinya ini jebakan yang sudah disiapkan Tatiana. Milana pun tidak sanggup menyembunyikan kecemasannya. Selain Randy yang tahu keberadaan Milana di sini, hanya Tatiana yang tahu kalau Milana ada di sisi Nathan. Milana sudah menduga, tidak mungkin Tatiana berbaik hati memberikan lokasi dan kamar di mana Nathan dirawat kalau bukan untuk dijebak seperti ini.

Nathan sibuk menelepon Randy, "What's this? Ada reporter ramai di luar kamarku. Ini bukan ulahmu kan?"

Nathan tampak pias. Sama seperti Milana yang juga mendadak cemas.

"Kamu bilang ada reporter yang berpura-pura datang sebagai pengunjung pasien? Apa-apaan ini, memangnya reporter itu nggak punya kode etik peliputan? Aku minta kamu urus secepatnya. Apa? Mereka minta Milana keluar dan memberikan klarifikasi? Kenapa harus Milana?"

Milana mendengar suara Nathan saat bicara di telepon. Sejauh ini, ia sudah menduga 'serangan' yang kepagian ini memang dialamatkan untuknya. Meski Nathan bertunangan dengan Tatiana yang seorang aktris, wartawan atau reporter tidak akan tertarik jika pertunangan ini tidak melibatkan public figure yang lainnya. Siapa lagi kalau bukan Milana yang atlet figure skating kebanggaan negara.

Milana meraih tas besarnya dan berjalan keluar.

"Tunggu! Apa-apaan kamu? Di luar masih banyak reporter!" Nathan mendekatinya dan menarik lengan Milana.

"Yap, dan kamu butuh istirahat. Mereka nggak akan berhenti kalau aku nggak keluar sekarang juga." Milana mencoba tersenyum.

"Aku sudah minta Randy buat mengurus masalah ini. Kamu jangan keluar dulu."

Milana menatap lurus ke arah pria di hadapannya. Baru sehari, tapi rasanya Nathan berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Jika di hadapannya adalah Nathan yang dulu, dia pasti akan mengusir Milana. Jangankan mengizinkan Milana tinggal semalam, membiarkan Milana bernapas di dekatnya dalam radius kurang dari satu meter saja, Nathan pasti marah-marah. Apa kira-kira hal yang membuat Nathan berubah?

"Dari awal bukan kamu sasaran reporter yang datang kemari. Mereka memang mengharapkan aku yang keluar. Maaf, Nate... Gara-gara aku dan Tatiana, kamu jadi terjebak di tengah-tengah kami."

"Aku sudah tahu itu, karena itu kubilang kamu nggak perlu menyelesaikan ini sendiri." Nathan menepuk bahu Milana.

"Harus aku yang selesaikan. Tatiana sengaja mengirim reporter ke sini karena dia tahu aku bakal terus berada di sini. Dia nggak mau aku mendapatkan yang aku inginkan." Milana bersuara dengan suara yang parau. Kenyataan bahwa Tatiana sudah mengibarkan bendera permusuhan membuatnya terpukul.

Nathan terdiam. Tiba-tiba saja Milana mendorongnya keras.

"Ini salahmu." Milana tidak bisa menghentikan air matanya.

"Milana..."

"Sebesar-besarnya kamu benci sama aku, kamu nggak harus menjadi tunangan Tatiana. Kenapa kamu melakukannya? Kenapa kamu membuatku hancur?"

Milana terduduk, menutup wajahnya dengan kedua mata seolah menangis adalah hal terakhir yang bisa ia pikirkan.

Nathan masih terdiam. Namun, laki-laki itu kini merendahkan posisi tubuhnya dan berlutut di hadapan Milana. Meski begitu, ia tidak mengatakan apa-apa.

LOVE ME, TOUCH METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang