46. Nathan's Mystery

150 13 0
                                        

Milana tidak pernah menyangka, bangun pagi akan menjadi siksaan berat dalam hidupnya. Jauh lebih berat ketimbang pertama kali ia mendengar kabar Nathan bertunangan dengan Tatiana setahun lalu.

Hanya saja jika bukan karena ponselnya yang terus berdering, barangkali ia tidak akan bangun sepagi ini.

"Hmm....," gumam Milana. Matanya masih terpejam.

"Milana, cepat lihat berita. Ini tentang Nathan," ucap Risa dengan nada tergesa-gesa.

Kata 'Nathan' bagai mantera pemanggil bagi Milana. Hanya dengan itu saja, ia kini bangkit dari ranjang sepenuhnya untuk menyalakan TV.

Sesosok wanita cantik yang berpenampilan elegan dan modis terlihat tampil di sebuah wawancara khusus. Milana masih tidak mengerti kenapa Risa menganggap wanita ini mengatakan sesuatu yang ada hubungannya dengan Nathan. Bagian mananya?

Umur wanita itu sekitar akhir tiga puluhan. Mengenakan pakaian mahal dengan logo Chanel tersemat di dadanya. Make up-nya menyolok ditambah beberapa jejak suntikan botox di wajahnya. Milana mencoba mengingat-ingat wajahnya yang terasa familiar. Tapi, siapa dia?

"Jadi Emily... Anda mengaku kenal dengan Nathan Gareth, orang yang mungkin berada di balik kematian konglomerat besar Henry Esanatmadja?" suara pewawancara kini terdengar jelas.

Milana mengernyitkan kening. Omong kosong apa ini?

"Ya kenal karena sebulanan ini dia melakukan pendekatan pada saya, tapi saya tidak menyangka dia terlibat dengan hal yang keji."

Saat itulah, Milana mengingat sesuatu. Malam di sebuah food court terbuka. Saat Milana dan Alexis makan bersama untuk pertama kalinya, ia sempat melihat Nathan bersama seorang wanita. Dari postur dan wajahnya, Milana yakin ini adalah orang yang sama. Tapi, kenapa orang ini diwawancara tentang Nathan?

"Tolong ceritakan sedikit. Ada banyak spekulasi penyebab kematian Henry Esanatmadja, yang paling mengejutkan adalah rekaman CCTV yang beredar saat Nathan Gareth meninggalkan rumah Henry sebelum kebakaran itu terjadi. Keberadaan Nathan pun masih misterius karena polisi belum turun tangan untuk memanggilnya sebagai saksi. Menurut Anda orang seperti apa Nathan itu? Apakah terjadi perseteruan Nathan dengan keluarga Esanatmadja?" tanya si pewawancara.

Tenggorokan Milana seakan tercekat. CCTV apa?

Lalu di layar terlihat sebuah rekaman sedikit buram, tentang sosok Nathan yang meninggalkan rumah ayah Milana.

What? Nathan bertemu ayahnya di hari kebakaran itu?

Milana merasakan telapak tangannya berkeringat dan jemarinya gemetar.

"Well, sekali lihat saya tahu Nathan adalah pria yang ambisius. Kita tahu bahwa bisnisnya berkembang pesat setelah ikatannya terjalin dekat dengan Henry Esanatmadja. Dia juga.... Rela melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginannya, termasuk mendekati saya." Wanita itu bicara dengan ekspresi nakal dan menggoda.

DEG

Milana tidak percaya. Memangnya siapa wanita ini?

"Menurut Anda kenapa Nathan mendekati Anda?"

"Sudah saya bilang dia sangat ambisius bukan? Menurut rumor, sejak dia dekat dengan Henry Esana, dia jadi lebih gencar menghancurkan saingan bisnis. Dia punya banyak cara menggali informasi. Caranya dengan memanfaatkan wanita-wanita tidak berdosa seperti saya."

"Tolong jelaskan, apa tepatnya 'memanfaatkan' yang Anda maksud?"

Wajah si wanita mendadak seperti tersipu. "Apa harus dijelaskan? Dia mendekati saya untuk menggali informasi orang-orang penting yang sering berkomunikasi dengan saya. Yeah, well... Padahal saya sudah hampir percaya bahwa dia tulus mencintai saya. Setelah mendengar kematian Henry Esanatmadja adalah karena andilnya, saya sangat syok."

Dan wanita itu terlihat menghapus air matanya seolah patah hati. Milana menggeleng tidak percaya.

Tidak mungkin....

"Apa Anda yakin benar kalau Nathan terlibat dalam kematian Henry Esanatmadja?" tanya si pewawancara lagi.

"Soal itu saya serahkan sepenuhnya pada penyidikan polisi, tapi yang saya yakin Nathan bisa saja punya motif untuk melawan Henry. You know, kita semua tahu tentang batalnya pernikahan dia dengan salah satu putrinya yang paling bungsu, ditambah dia menjadi sponsor utama putri kesayangannya yang digadang sebagai pewaris ESANA Grup. Itu jelas memperlihatkan orang macam apa Nathan itu. Seorang putri dari selir tidak cukup membuat Nathan puas. Karena itu dia mengincar putri mahkota yang menjanjikan tahta dan kekuasaan. Kita tahu siapa orangnya bukan?"

Si pewawancara kembali menghadap kamera.

"Pemirsa, demikian tadi wawancara singkat saya dengan Emily Kalyani, seorang sosialita sekaligus pemilik agensi model ternama. Berita kematian Henry Esanatmadja sang konglomerat besar memang mengguncang. Ada banyak teori dan asumsi apa yang membuat kematiannya menyisakan misteri besar, termasuk siapa dalang dibalik peristiwa naas itu. Selain Emily, tim kami juga mewawancara sosok yang diduga penting dalam penyidikan polisi. Saya serahkan liputan pada rekan saya."

Kamera berpindah dan layar menampilkan lokasi yang sama sekali berbeda. Ada sosok pembawa acara laki-laki yang berdiri di samping Tatiana.

Tatiana?

Rasanya Milana akan tahu apa yang diucapkan perempuan itu.

"Nathan? Nathan sudah bukan lagi orang terdekat bagi saya. Tadinya saya kira dia tulus menerima dan mencintai saya, tapi ternyata bukan saya yang dia inginkan. Sejujurnya saya putus asa karena dia membatalkan pernikahan, saya terluka. Untung saja, saat itu saya bertemu dengan suami saya yang menghibur saya dan memperlihatkan bahwa dia lebih baik dari Nathan," ucap Tatiana yang Milana tahu selalu mengeluarkan senyum penuh kepura-puraan. Hanya saja yang tahu hal itu hanya Milana.

"Menurut Tatiana sendiri, apa benar Nathan terlibat dalam pembunuhan ayahmu?"

"Terlalu dini untuk menyimpulkan, tapi menghilangnya Nathan sendiri sudah menandakan kecurigaan besar. Kalau itu benar, sungguh saya kecewa karena selama ini dia membohongi keluarga kami dan menjadikan dia sedekat saudara kandung."

Milana tidak tahan lagi dan mematikan TV begitu saja. Ponselnya masih tersambung dengan Risa yang menunggu Milana bicara.

"Milana... Kamu masih di situ?" tanya Risa.

"Hmm...." Milana menyahut sekenanya. Ia terlalu terpukul dengan apa yang baru disaksikannya.

"I'm sorry. Aku tahu ini berat, tapi situasi ini sudah nggak terkendali."

"Nathan nggak mungkin melakukannya. Dia nggak mungkin terlibat." Milana tetap menyangkal.

"Aku nggak minta kamu percaya pemberitaan tadi, tapi aku minta kamu kritis. Kali ini aku setuju fakta bahwa kamu dibutakan cintamu sama Nathan."

"Tapi Nathan bukan orang semacam itu. Dia nggak mungkin membunuh Papa!"

"Milana! Stop! Kematian papamu itu belum tentu Nathan yang melakukannya, itu benar. Tuduhan pembunuhan itu tuduhan serius. Wawancara tadi aku akui berlebihan, tapi aku yakin kamu juga merasakan keanehan Nathan."

"Nggak!" Milana menggeleng lagi. Ia lelah menangis.

"Aku setuju Nathan bersikap manipulatif. Dia seperti punya agenda tersendiri. Dia mengaku nggak mencintaimu tapi terus mempertahankan kamu di dekatnya. Dia melakukan ekspansi bisnis dengan cara-cara kotor, terlepas dari benar atau tidak, wanita yang di TV itu tahu resikonua kalau dia berbohong. Dia bahkan memperlihatkan foto-fotonya saat bersama Nathan. Apa kamu bisa percaya Nathan setelah ini?"

Milana makin bisu. Ia belum selesai berduka atas kematian Papa, tapi kini sudah dihadapkan pada kisah pengkhianatan Nathan?

Papa, aku harus bagaimana?

***

LOVE ME, TOUCH MECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang