26. Extraordinary

240 29 2
                                        

'Maya! I really want to kill you!!!'

Tulis Milana dalam pesannya untuk perempuan yang memodifikasi gaun kuning semalaman dan meninggalkannya di pintu apartemen Milana. Milana masih tidak habis pikir bahwa Maya akan mengubah gaunnya menjadi sedrastis ini. Selain warna kuningnya, tidak ada lagi jejak gaun jelek itu seolah yang sedang dikenakan Milana adalah gaun yang sama sekali baru.

Balasan dari Maya datang cukup cepat.

Maya: Kenapa? Kamu suka gaunnya?

Milana: Yang benar saja. Gaunnya jadi cantik, tapi kenapa belahan dadanya jadi rendah begini? >_<

Maya: Hello... Itu adalah gaun dengan sentuhan terbaikku. Kamu itu seksi dan tubuhmu sempurna. Aku sengaja membuatnya seperti itu karena aku mau kecantikanmu mengalahkan Tatiana. Dia pasti syok dan malu sendiri.

Milana: Nope. Aaaah gimana ini? Gaun ini cantik, tapi apa aku harus memakai gaun seterbuka ini?

Maya: Hey, it's fashion statement. Kubunuh kamu kalau memakainya dengan tubuh membungkuk dan sibuk menahan malu. You're georgeous, Milana.

Milana: Tapi.... Bagaimana pendapat orang kalau tahu ada pengiring pengantin yang berpenampilan menonjol?

Maya: Aku justru ingin kamu menonjol. Dengan begitu Tatiana nggak akan bisa mempermalukanmu.

Milana: Mayaaa.... Aaargh, aku benar-benar nggak mau muncul dengan gaun ini.

Maya: What? Aku membuatnya semalaman tanpa tidur tahu. Kalau kamu nggak datang sekarang juga, lupakan saja kalau kita pernah berteman.

Milana mengacak-acak rambutnya, tapi sedetik kemudian ia merapikannya lagi karena menata rambut, menggelung dengan rapi dan mem-blow poninya pun makan waktu banyak. Dilihatnya lagi pantulan dirinya di depan cermin. Maya sungguh desainer berbakat. Dalam waktu semalam ia merombak gaun yang bahkan tidak layak pakai menjadi gaun yang Kylie Jenner pun bersedia memakainya dengan senang hati. Masalahnya, Milana bukan Kylie Jenner.

Milana menaikkan bustier dress yang berpotongan rendah, berusaha tidak terlihat terlalu seksi. Sayangnya belahan dadanya muncul seolah menyerukan kata 'PENDOSA'. Ditambah bagian depan gaun itu sangat pendek hingga memperlihatkan paha Milana sementara bagian belakangnya menjuntai dan menyentuh tanah. Maya menambahkan bahan di dalam rok hingga rok itu terlihat mengembang. Sejujurnya, Maya benar... Dengan menanggalkan rasa malu dan kecanggungan, gaun ini super cantik dan memesona. Jenis gaun yang akan dikagumi Milana hanya dengan melihatnya di etalase, dan bukannya memakainya sendiri.

Milana sungguh gamang. Keinginannya untuk membalas perbuatan Tatiana nyaris kalah dengan keengganannya mempermalukan diri sendiri. Sementara, ia nyaris kehabisan waktu karena sebentar lagi upacara pernikahan akan dimulai.

Bel pintu apartemen berbunyi. Nathan pasti sudah menunggu di luar. Ya, hari ini Milana sepakat datang ke pernikahan Jasper - Tatiana bersama Nathan dengan alasan praktis. Tadinya Milana ragu karena pelatihnya pasti tidak suka kalau Milana dan Nathan terlihat jalan berdua. Tapi Jasper mengatakan pernikahan mereka tidak akan diliput media dan dilaksanakan dalam lingkup tertutup karena permintaan keluarga Jasper. Mendengar itu, Milana yakin bahwa tidak akan ada masalah datang berdua dengan Nathan.

Milana membuka pintu. Hatinya berdebar membayangkan reaksi Nathan saat melihat Milana dengan gaun ajaibnya.

Dilihatnya Nathan terdiam lama saat memandangi Milana. Milana berdiri dengan canggung, menunggu apa kira-kira komentar Nathan.

"Ayo berangkat. Kita hampir terlambat."

Milana mengerjapkan mata. Nathan sungguh tidak berkomentar apa pun? Apa gaun ini memang tidak semenonjol yang Milana pikirkan?

"Ah, ehm.... Oke. Aku sudah siap." Milana pun membalas dengan canggung. Setelahnya ia mengambil tas tangannya dan berjalan keluar dari apartemen.

Sepanjang mereka turun dari lift hingga menaiki mobil Nathan, sama sekali tidak ada percakapan. Milana memperhatikan sepertinya Nathan sibuk dengan pikirannya sendiri. Mungkin ketakutan Milana memang berlebihan tentang gaun ini. Mungkin bagi laki-laki atau orang lain, gaun ini tidak se-mengundang yang Milana pikirkan.

"Apa... Kamu melupakan ini yang kita datangi ini acara apa?" Nathan tiba-tiba bertanya saat mobil melaju ke jalanan menuju lokasi pemberkatan dan resepsi pernikahan. Pernikahan Tatiana dan Jasper akan di adakan dengan konsep kebun terbuka. Di taman yang rindang dan dinaungi pepohonan teduh.

"Hmm? Pernikahan Tatiana tentu saja, kenapa kamu tanya?" Milana heran kenapa Nathan menanyakan hal yang aneh.

"Entahlah, rasanya... Kamu seperti berniat mencuri perhatian para tamu undangan dengan berpakaian seperti itu."

DEG

Milana sontak menegang. Jadi ini kah pendapat Nathan tentang gaun yang dikenakan Milana?

"Apa maksudmu? Aku nggak berusaha menarik perhatian siapa pun!"

"Aku kira pengiring pengantin akan mengenakan gaun yang senada dengan gaun pengantin wanita, tapi melihatmu... Rasanya kamu berusaha keras untuk mencuri spotlight dari Tatiana," ucap Nathan datar, tapi kata-kata laki-laki itu bagai tusukan tajam di ulu hati Milana.

"Sudah aku bilang, aku nggak berusaha mencuri spotlight atau apa pun seperti katamu. Kalau kamu nggak ngerti apa-apa, kenapa kamu nggak diam saja dan menyetir tanpa komentar," sahut Milana dengan nada sinis.

Milana menyesal telah mengira Nathan telah berubah menjadi lebih lembut. Kenyataannya laki-laki itu tetap tidak bisa mengendalikan mulutnya.

"Oke, terserah kamu saja. Aku cuma bertanya meski aku nggak mengerti apa tujuanmu dengan menjadi pusat perhatian. Balas dendam pada Tatiana? Kalau kamu melakukannya, bisakah kamu melakukannya lain waktu? Ini hari pernikahannya. Setidaknya hormatilah dia dan keluargamu sendiri."

Milana makin lama makin tidak tahan. Mobil sudah hampir mendekati venue pernikahan, tapi Milana sudah tidak bersemangat menghirup udara yang sama dengan Nathan.

"Hentikan mobilnya," ucap Milana, lebih seperti memerintah.

"Apa maksudmu? Sebentar lagi kita sampai."

"Exactly. Sebentar lagi kita sampai dan kamu kelihatan terganggu dengan penampilanku bukan? Jadi, kenapa kamu nggak turunkan saja aku di sini dan kita nggak perlu repot-repot terlihat bersama-sama."

"Milana—"

"JUST STOP THE CAR!!!" seru Milana dengan amarah yang sukar dijelaskan.

Nathan pun menghentikan mobilnya.

"Kamu gila apa? Kamu akan berjalan dengan penampilan seperti ini? Kamu sedang memancing laki-laki hidung belang di siang bolong, hah?" Nathan tampak marah.

"So what? Karena ini di siang bolong aku nggak boleh berpakaian seperti ini? Apa aku harus minta izinmu dulu untuk berpenampilan seperti yang aku mau? Hey, tuan... Kamu itu siapa? Apa kamu pacarku?"

Nathan terdiam, seolah tidak menyangka Milana akan mengucapkan hal sesinis itu.

"Berhenti berpura-pura peduli ketika yang kamu lakukan cuma menghakimi aku. Aku nggak butuh itu." Milana lalu keluar dari mobil dan memilih berjalan kaki.

Ia sangat marah. Marah sekali betapa picik Nathan menilai dirinya serendah itu. Mobil Nathan melaju dengan cepat, meninggalkan Milana berjalan sendirian. Melihat itu, Milana mendengus dan menggeram.

Nathan bodoh.

Bagaimana bisa Milana selama ini memiliki perasaan cinta untuk orang yang bermulut kasar seperti dia?

***

Author's note:

Akhirnya update juga. Untuk yang ngikutin cerita sebelah, maap ya kalo digantungi terus soalnya author sendiri lagi kena writer's block mayan parah. Jadi cerita yang tadinya dibikin asal-asalan malah jadi bikin kaget karena rame banget. Faktor kesehatan juga jadi penghambat nulis. Doain author sehat terus biar bisa update yak...

Luv ya

LOVE ME, TOUCH METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang