64. Between Two Gentleman

428 18 2
                                        


"Nathaaan, kenapa kamu selalu menghindar? Aku salah apa?" Suara Milana merajuk saat Nathan sengaja tidak mengindahkan panggilan Milana tiap gadis itu berpapasan dengan Nathan di rumah kediaman Esanatmadja.

"Siapa bilang aku menghindar? Aku cuma buru-buru," jawab Nathan, serba salah dan berdiri di dekat mobilnya dengan canggung.

"Tapi kamu jelas-jelas melihatku, menjawab salam saja kamu nggak mau. Kenapa sih?" cecar Milana.

"Maaf, aku nggak dengar."

"Bohong!"

"Milana... Sudahlah, aku cuma datang karena papamu memanggilku."

Nathan tersentak karena tiba-tiba Milana memeluknya. Gadis yang masih berusia 18 tahun itu terlihat tanpa beban memeluk seorang pria dewasa. Nathan yang saat itu berusia 25 tahun, tampak canggung saat Milana merajuk di hadapannya.

"Apa cuma karena Papa? Bagaimana denganku? Kamu nggak mau bertemu denganku?" tanya Milana lirih.

Nathan menghela napas. Makin lama Milana makin mirip dengan Alisa yang berbuat semaunya dan haus perhatian. Makin Milana bermanja padanya, Nathan semakin takut bahwa gadis itu akan bernasib sama seperti Alisa.

"Milana, apa kamu punya perasaan untukku?" tanya Nathan terus terang. Ia tidak bisa lagi menghadapi kenekatan Milana yang hobi menempel padanya. Nathan takut suatu saat pertahanan dirinya melemah dan berakhir menyakiti gadis itu.

"Apa kamu masih bertanya? Aku sudah sejelas ini mengatakan suka. Aku suka sama kamu, Nathan. Aku mau kamu ada di sini terus supaya aku bisa puas melihatmu,' jawab Milana yang sejujurnya membuat Nathan sedikit tersipu, tapi Nathan tidak boleh menunjukkan kelemahannya. Takdir terlalu kejam untuk terulang kembali.

"Tapi aku nggak menyukaimu," ucap Nathan. Milana seketika membeku di hadapannya.

"Kamu akan menyukaiku pelan-pelan... Aku bisa bersabar," ujar Milana, memaksakan tersenyum.

"Nggak. Sampai kapan pun aku nggak akan bisa suka sama kamu ataupun membalas perasaanmu."

"Kenapa?"

Nathan menggeleng, "Nggak ada alasan khusus. Aku cuma nggak suka sama orang yang bersikap agresif dan menunjukkan perasaannya terang-terangan." Ia terpaksa mengarang alasan. Nathan sadar alasan penolakannya tidak masuk akal.

"Kalau aku diam, apa kamu akan tahu perasaanku? Kalau aku diam saja dan nggak mendekatimu apa kamu akan suka padaku?" Kembali Milana mencerca Nathan dengan pertanyaan yang juga tidak bisa dijawab oleh Nathan.

Nathan tak berkutik. Ia tidak bisa menjawab.

"See? Kamu bahkan nggak akan kemari kalau Papa nggak memintamu datang. Aku jatuh cinta sama kamu sejak aku melihatmu di rumah sakit itu. Aku tahu bagimu memalukan karena aku terus-terusan bilang suka, tapi aku cuma ingin mengekspresikan perasaanku. Kamu mungkin nggak akan terus datang kemari, aku juga mungkin sibuk berkompetisi skating, kalau aku nggak mengatakan ini, aku takut kamu akan mudah melupakan aku," ucap Milana dengan ekspresi muram.

Mana bisa aku lupa kalau kamu semirip itu dengan dia, pikir Nathan.

"Nathan...."

Nathan menatap mata gadis itu. Sorot mata yang memiliki ketegasan dan tekad yang besar itu seolah dengan tajam merampas jiwa Nathan.

"Hm?"

"Suatu saat, aku pasti bisa membuat kamu jatuh cinta sama aku," kata Milana dengan bola mata bulatnya itu.

Nathan mendengus, "Aku khawatir 'suatu saat' itu nggak akan terjadi. Lebih baik kamu mengejar laki-laki lain dan lupakan orang sepertiku. Aku nggak tertarik menjalin hubungan, terutama dengan anak kecil." Nathan menepuk kepala Milana sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.

LOVE ME, TOUCH MECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang