Milana menatap salah satu fotonya bersama Jasper di galeri ponselnya. Jasper tertawa lebar dan memeluk Milana erat hingga pipi mereka bersentuhan. Jasper hampir selalu menjadi pendukungnya dan selalu ada untuknya. Meski di benaknya ia tidak pernah menganggap Jasper lebih dari sekadar teman, tapi jauh di lubuk hatinya Milana menikmati setiap perhatian yang diberikan Jasper untuknya. Dulu, ia selalu berpikir bahwa Jasper bak ksatria yang bersumpah akan melindungi Milana. Saat masih remaja, Jasper bahkan mengucapkan sumpah semacam itu sekalipun itu hanya main-main. Dan Milana sangat bahagia mengingatnya. Membuatnya merasa sebagai seorang putri kerajaan yang berharga. Apa pun yang terjadi, Jasper selalu ada di pihaknya.
Itulah yang ia tahu sampai akhirnya Milana menyadari dunia nyata bukanlah sebuah dongeng. Jasper bukanlah ksatria yang melindungi tuan putri tanpa pamrih. Jasper adalah pria normal biasa yang memiliki keinginan dan hasrat. Ia bukan orang yang akan selalu di sisi Milana sampai kapan pun dan mendukung laki-laki yang dipilih Milana sebagai sosok pangeran. Dan agaknya, bagi Milana ia masih sulit menerima Jasper yang seperti ini.
Ditambah lagi, Jasper telah menghamili Tatiana. Di antara semua wanita lain, kenapa Jasper harus memilih terlibat dengan adiknya yang selalu membenci Milana? Jika mereka memang saling suka, sejujurnya Milana tidak keberatan. Hanya saja, Milana benci dengan keadaan dan betapa Jasper masih keras kepala mengira dia bisa terus berdekatan dengan Milana selagi ia menjadi ayah dari janin yang dikandung Tatiana. Bagaimana bisa Jasper bersikap egois seperti itu setelah dengan bukti kuat dan pernyataan dokter yang menguatkan fakta bahwa Tatiana positif hamil?
"Kamu masih nggak bisa tidur?"
Nathan masuk ke kamar Milana dan menyalakan lampu. Buru-buru Milana mengusap titik-titik bening di sudut matanya.
"Cuma efek alkohol. Perutku jadi nggak nyaman karena terlalu banyak minum air," jawab Milana berbohong.
"Kamu masih akan terus diam? Kamu nggak ingin menceritakannya padaku?" Nathan tiba-tiba saja mendekati Milana dan duduk di tepi ranjangnya.
Milana memainkan jemarinya yang terasa berkeringat. Sejujurnya ia agak menyesal karena bertengkar dengan Jasper di depan Nathan.
"Maaf.... Seharusnya aku nggak bilang kalau Tatiana-"
"Hamil?" Sahut Nathan yang dijawab oleh anggukan Milana.
"Apa.... Kamu kecewa? Dia adalah orang yang harusnya kamu nikahi, tapi dia malah..."
"Itu sudah nggak penting lagi. Dari awal aku sudah tahu kalau Tatiana tidak sepenuhnya mencintaiku."
Milana tampak kesal, "Tentu saja. Dia mendekatimu karena ingin membuatku marah."
Nathan menggeleng, "Apa kamu masih sepolos itu mengira perjodohanku dan Tatiana hanya karena adik tirimu itu membencimu?"
"Kalau bukan begitu, lalu apa?"
"Kamu seharusnya menanyakan itu pada ayahmu."
Jawaban Nathan sekali lagi mengandung teka-teki. Kesal rasanya apa pun yang ingin diketahui Milana begitu mudah dimentahkan dengan jawaban standar semacam itu.
"Lalu, bagaimana denganmu sendiri? Apa kamu kecewa Jasper terlibat dengan Tatiana?"
"Tentu saja. Jasper adalah sahabat baikku. Kami selalu kompak dalam hal mengata-ngatai Tatiana seolah-olah dia itu penyihir, tapi dia malah--"
"Hanya itu? Tidakkah kamu kecewa karena kamu tanpa sadar mencintai temanmu karena itu kamu menyebutnya pengkhianat?"
Milana terdiam. Sesungguhnya ia heran, apa yang sedang ditekankan oleh Nathan?
"Mencintai Jasper? Kamu bercanda?" Ekspresi Milana seolah-olah pernyataan Nathan adalah hal paling konyol yang pernah didengarnya.
"Sikapmu hari ini yang paling jelas ada sesuatu yang nggak beres. Kamu bertindak seperti bukan kamu yang biasa. Kamu membuatku berpikir kamu mungkin saja selama ini mencintai sahabatmu sendiri. Tentu saja lagi-lagi Tatiana yang merebut kebahagiaanmu, karena itu kamu marah."
Milana mendengus. "Kamu tahu jawabannya apa yang membuatku marah. Tatiana. Kalau Jasper berhubungan dengan wanita lain, aku nggak akan semarah ini."
"Benarkah?" Tatapan Nathan terlihat tidak percaya.
"Ah, apa kamu merasa terusik? Terusik bahwa ada orang lain yang tergila-gila padaku? Kamu merasa terancam dan mengira aku nggak mencintaimu sebesar itu dan mengira aku juga mencintai Jasper?"
Milana kini gantian menatap Nathan dan sorot mata mengejek. Nathan terdiam dan bangkit.
"Khayalanmu terlalu tinggi, Nona. Jelas kamu butuh tidur, bukannya mengarang cerita." Nathan berjalan keluar setelah mematikan lampu di kamar Milana.
"Nathan...."
"Ya?"
"Terima kasih," ucap Milana lirih.
"Untuk?"
"Untuk semuanya. Saat ini adalah masa paling sulit dalam hidupku, aku... Cuma berharap ada satu orang yang mempercayaiku."
Nathan menatap lurus ke arah Milana. "Aku percaya padamu, kalau nggak, mana mau aku memintamu jadi model ambassador untuk desain sepatuku.
Milana tertawa sambil menganggukkan kepala. "Yah, itu juga. Apa menurutmu aku bisa menjadi model yang bagus? Aku belum pernah menjadi wajah brand mana pun kecuali ESANA."
"Kita akan segera mengetahuinya. Karena kamu sekarang terikat dengan brand-ku, aku nggak akan mentoleransi kecerobohanmu seperti di kelab tadi malam," ancam Nathan dengan wajah serius.
Milana memutar bola matanya. Sebentar lagi ia takut Nathan akan menjadi sosok penceramah yang membuatnya bosan. "Oh, c'mon, aku cuma sekali bersenang-senang. Seseorang dengan pressure tinggi dari segala arah sepertiku juga butuh mengendurkan saraf. Aku cuma punya Risa karena aku sudah nggak bisa menghubungi Jasper lagi kapan pun aku mau. Jadi kamu akan memaklumi kan?" Milana memohon dengan wajah polos.
Nathan menggeleng. "Nope! Kalau kamu berbuat seperti itu lagi, aku akan tegas."
"Ugh, dasar pelit," keluh Milana menelungkupkan kepalanya di atas bantal.
"Tapi.... Kalau kamu mengalami hal yang sulit, tolong jangan diam saja. Kamu.... Bisa mengandalkan aku." Wajah Nathan tampak canggung saat mengucapkan itu.
Milana mengangkat kepalanya. Tidak percaya bahwa Nathan baru saja mengatakan sesuatu yang manis. Laki-laki dingin itu? Yang berwajah batu dan hampir-hampir selalu mencoba menyingkirkan Milana, mengatakan sesuatu untuk menghibur Milana?
Astaga, Milana pasti bermimpi.
"Yah pokoknya, lakukan yang terbaik. Tidurlah! Besok kamu harus menandatangani kontrak dan kesepakatan denganku."
Pintu tertutup setelah Nathan mengucapkan kalimat terakhirnya. Meski laki-laki itu sudah pergi, Milana masih merasakan suara Nathan terngiang-ngiang di telinganya.
"Kamu... Bisa mengandalkan aku." Milana menirukan suara berat Nathan, lalu setelahnya ia tertawa keras sembari menendang-nendang selimutnya.
Oh ya ampun. Malam ini sepertinya Milana akan sulit tidur karena ia sungguh tidak sabar menantikan bagaimana Nathan akan luluh menghadapi dirinya. Meski rasanya perjalanan untuk menaklukkan pria itu masih panjang, Milana yakin.... Ia hanya butuh kesabaran untuk benar-benar menggenggam hati Nathan. Saat ini Nathan bukan lagi gunung es yang berbahaya, seiring dengan waktu.... Bongkahan es itu pasti akan mencair.
Bunyi pesan di ponselnya mengalihkan perhatian Milana yang tengah merasa berbunga-bunga. Pesan dari Tatiana.
"Kakakku tercinta yang hidupnya begitu bahagia seperti seorang tuan putri, aku akan membuktikan kalau kamu nggak akan bisa lagi mendapatkan kasih sayang dari orang-orang di dekatmu."
Demikianlah bunyi pesan itu, disertai tautan ke sebuah artikel. Artikel yang memberitakan kabar Tatiana keguguran karena kekerasan yang dilakukan Jasper Adhyaksa, putra pemilik Yaksa Media, konglomerat ternama yang memiliki affair dengan Tatiana dan menjadi penyebab batalnya pernikahan aktris itu dengan Nathan Gareth.
Telapak tangan Milana berkeringat. Apa lagi ini?
***
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE ME, TOUCH ME
Romance18+ Sebagai atlet figure skating berbakat dan calon pewaris perusahaan kosmetik ternama, Milana Esanatmadja memiliki segalanya. Cantik, muda, berprestasi dengan berhasil membawa pulang medali perak dari olimpiade musim dingin. Peseluncur wanita yang...
