3. Love Sick

809 40 0
                                        

Selama ini, sejak pertunangan Tatiana dengan Nathan diresmikan, Milana hampir-hampir tidak pernah kontak dengan adiknya. Jangankan untuk bertemu dan saling bicara, menelepon atau berkirim pesan sekalipun tidak pernah ia lakukan. Baru hari ini Milana merasakan desakan yang tidak bisa ia abaikan. Nathan membuatnya terpaksa berurusan lagi dengan adiknya yang angkuh itu. Masih di dalam mobil, Milana menimbang-nimbang apakah harus menelepon Maria atau tidak. Lalu, sedetik kemudian ia tidak peduli lagi dan langsung menekan tombol dial.

"Sepertinya aku tahu kamu meneleponku karena urusan apa." Suara perempuan di seberang sana terdengar angkuh seperti biasa.

"Nathan dirawat di rumah sakit mana? Apa dia baik-baik saja?" Todong Milana tanpa basa-basi.

"Wah, nggak sopan. Kamu sudah mengabaikan teleponku berbulan-bulan, setelah akhirnya kamu menghubungiku, apa kamu lupa caranya sopan santun? Bahkan kucingku saja lebih sopan darimu."

"Aku nggak mood basa-basi. Kamu tahu gimana perasaanku sama Nathan. Aku harus tahu apa yang terjadi sama dia."

"Kenapa semua harus memperhatikan Nathan? Apa kamu nggak penasaran kenapa aku membatalkan pernikahan kami?"

"Aku penasaran, tapi aku yakin kamu nggak akan memberitahuku yang sebenarnya. Kamu pasti akan melindungi egomu sendiri."

"Apapun yang aku bilang kamu tetap nggak peduli kan karena kamu terlalu bahagia dengan batalnya pernikahan kami." Suara Maria terdengar sinis.

"Ya aku bahagia. Aku nggak perlu merelakan Nathan untuk orang yang nggak sungguh-sungguh mencintainya."

"Nggak sungguh-sungguh mencintainya? Wah... Kamu benar-benar polos dibandingkan umurmu yang jelas lebih tua dariku. Kamu pikir Nathan akan mencintaimu sekalipun kamu terang-terangan mengibaskan ekormu di depannya?"

Milana menggeram. Maria selalu berhasil memancing emosinya. Meski kakak beradik, Milana tidak pernah ingat kapan terakhir kali menghabiskan waktu bercanda dan bercengkerama dengan adiknya itu. Hari-hari mereka dipenuhi tatapan dingin, tatapan iri satu sama lain tanpa ada senyum tulus.

"Jangan omong besar soal cinta kalau yang kamu lakukan cuma main-main dengan banyak laki-laki."

"Masih lebih baik dari orang bodoh yang nggak punya pengalaman selain mencintai satu orang yang nggak membalas cintanya."

"Sudah kuduga, percuma menghubungimu—"

"Rumah sakit St. Helena. Dirawat di ruang VVIP lantai 7. Lihat kan? Meski kamu membenciku, aku tetap satu-satunya sumber informasi yang kamu butuhkan."

Milana tampak gamang. Ia bingung memutuskan untuk berterima kasih atau tidak.

"You're welcome, Sis."

KLIK.

Panggilan terputus sebelum Milana sempat mengucapkan satu kalimat. Sesaat ia tertegun. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Maria memutuskan pertunangan dengan Nathan. Apa benar dari awal pertunangan mereka hanya setingan belaka? Tapi untuk apa?

Milana menggeleng dan buru-buru menyalakan mesin mobil dan menyetir menuju rumah sakit. Ia harus tahu apa Nathan baik-baik saja. Di jalanan, Milana menyetir bak penyihir kesetanan. Berkali-kali ia menyalip kendaraan lain di lajur yang tidak seharusnya. Ia tidak mempedulikan kemarahan pengemudi lain lewat raungan klakson yang bertubi-tubi. Ia hanya bisa tenang jika sudah melihat langsung kondisi Nathan.

Setibanya di rumah sakit. Milana buru-buru menanyai perawat di lantai tujuh di mana tepatnya kamar perawatan Nathan. Ia hampir-hampir tidak bisa menahan air matanya saat kekhawatiran menyerangnya sejak mobil yang dikendarainya masuk ke area parkiran rumah sakit. Sampai sekarang, Milana tidak ingat apa sudah mencabut kuncinya atau tidak.

LOVE ME, TOUCH METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang