Milana membuka pintu mobil saat kendaraan roda empat yang dikemudikan Alexis bahkan belum benar-benar berhenti. Dengan kebakaran besar yang menimpa rumah utama yang ditinggali ayahnya, membuat petugas polisi dan pemadam kebakaran memblokade sejumlah area, memastikan tidak ada orang yang masuk ke area berbahaya di mana menjadi titik potensial kebakaran akan menyebar.
Milana berlari menembus kerumunan orang-orang yang mengelilingi area di sekitar rumah utama.
"MILANA!!!" Alexis berusaha mengejar Milana, memastikan gadis itu tidak menerjang bahaya.
Milana mencari-cari sosok yang dikenalnya. Tapi wajah-wajah di hadapannya semua tampak asing. Sontak tangis Milana pecah sejadinya sembari berlutut di hadapan rumah yang masih mengeluarkan asap dan api yang membumbung tinggi.
"PAPAAAA....!!!" teriaknya histeris.
Alexis buru-buru menahan tubuh Milana yang terus saja berniat maju, berharap bisa masuk ke dalam rumah yang kini sudah mirip reruntuhan. "Hentikan, Milana... bahaya kalau kamu masuk ke dalam."
"Tapi, Papa—"
"Milana..." suara serak wanita tua terdengar menyela tangisan Milana. Milana menoleh ke belakang. Melihat neneknya yang sudah tua terlihat makin lelah dan makin menua dengan sorot kesedihannya. Tak pelak Milana pun menghampiri dan memeluk neneknya, satu-satunya keluarga dekat yang tersisa.
"Nenek! Di mana Papa, Nek?" Milana mengguncangkan tubuh neneknya.
"Dia... sudah tiada."
"Di mana? Di MANA PAPA?" tuntut Milana, suaranya makin histeris.
Nenek Milana menggeleng. "Ambulan sudah membawanya ke rumah sakit karena hampir sekujur tubuhnya sudah tidak bisa dikenali lagi. Lebih baik kamu nggak perlu melihatnya."
Milana berlutut dengan tubuh yang lemas. Tangisnya sulit dihentikan. Kalau bukan karena Alexis yang mendampinginya, bisa jadi Milana makin tidak terkendali. Gadis itu memeluk kuat-kuat tubuh neneknya. Ia masih berharap semua peristiwa tragis ini hanya mimpi. Tapi rasa panas yang menjalar, peluh yang menetes dan air mata yang membanjiri wajah semuanya terasanya nyata. Kebakaran dan kehilangan sesosok ayah yang dicintainya menjadi satu hal yang menghancurkan Milana.
"INI NGGAK MUNGKIN. NGGAK MUNGKIN PAPA PERGI!!!" teriaknya lagi, sebelumnya akhirnya Milana benar-benar tidak sadarkan diri.
"Milana! Milana!"
Suara-suara di sekitar Milana perlahan lenyap. Untuk pertama kali, Milana berharap ia tidak perlu bangun lagi. Jika dunia nyata semenyakitkan ini, ia berharap untuk pergi selamanya dan menyusul kedua orangtuanya di alam lain.
***
Dua hari Milana tidak sadarkan diri sehingga terpaksa mendapatkan perawatan medis di rumahnya sendiri. Untuk pertama kalinya, Milana menempati rumah besar yang sudah lama tidak berpenghuni sejak ibu kandungnya meninggal. Karena rumah utama kini habis terbakar, hanya rumah ibunya yang menjadi tempat tinggal untuk sementara, termasuk tempat tinggal neneknya.
Selama dua hari pula Milana terus-terusan mengigau dan mimpi buruk. Hingga hari kedua sejak peristiwa naas yang menewaskan ayahnya, Milana baru tersadar seolah bangun dari mimpi. Namun, melihat wajah-wajah dan sorot mata sedih orang-orang yang kini berdiri mengelilinginya dengan memakai pakaian berkabung, Milana menyadari kembali, semua yang terjadi bukan mimpi.
"Hey, baby... kamu nggak apa-apa?" Alexis bicara dengan lembut di samping Milana. Tangan Alex menggenggam erat jemarinya. Terlalu terpukul membuat Milana tidak mempedulikan Alexis yang masih berpura-pura mereka pacaran dengan sebutan 'baby'.
"Milana, kamu sudah sadar?" Risa, sahabatnya juga menghampiri Milana, disusul dengan Maya yang berdiri di samping Risa. Melihat keduanya, Milana lagi-lagi tidak bisa menahan tangis dan memeluk mereka. Menangis untuk ke sekian kalinya membuat mata Milana makin bengkak dan sembab.
"Please, be strong ya, Milana... kamu bisa melalui ini. Aku yakin," ucap Risa. Mengusap rambut Milana.
"Papa... gimana...? Pemakamannya.... aku nggak datang ke pemakaman Papa..."
"Sshhhh, nggak apa-apa. Semua paham kondisimu. Kamu butuh menenangkan pikiranmu sendiri. Nggak datang ke pemakaman papamu nggak membuat kamu jadi anak nggak berbakti." Jasper tiba-tiba muncul di dekatnya. Semua teman-teman baiknya termasuk Alexis dan Coach Anita berdiri mengelilinginya. Semuanya hadir kecuali... Nathan.
"Nathan... di mana dia?" tanpa sadar Milana menggumamkan nama Nathan. Namun, setelah beberapa saat tak ada yang bisa menjawab pertanyaan Milana.
"Kami nggak tahu dia di mana. Sejak kemarin dia susah dihubungi," jawab Risa, merasa bersalah karena memberi kabar buruk pada Milana di tengah kabar buruk yang tengah terjadi.
"Kalau dipikir-pikir Nathan memang bersikap aneh belakangan ini. Kenapa dia menghilang tepat setelah peristiwa kebakaran rumah kamu dan meninggalnya Pak Henry. Apa kira-kira dia terlibat ya?" Jasper menggumam sendiri. Tapi gumaman itu bukan sesuatu yang ingin didengar Milana.
"Nggak! Itu nggak mungkin! Nathan nggak mungkin terlibat," bantah Milana.
"Yah, itu juga belum diketahui. Aku dengar, polisi juga sudah menyelidiki apa yang membuat kebakaran bisa terjadi di rumahmu." Maya menimpali.
"Polisi? Kenapa melibatkan polisi?" tanya Milana tidak percaya.
"Milana, peristiwa ini terlalu menghebohkan. Henry Esanatmadja adalah orang berpengaruh di dunia bisnis, lalu tiba-tiba kebakaran terjadi dan nyawanya melayang. Tentu saja akan ada penyelidikan. Politik bisnis itu penuh kepentingan. Kemungkinan besar orang yang melakukannya sudah merencanakan ini karena itu polisi sedang menyelidiki." Jasper mencoba menjelaskan sekalipun tetap menyakitkan bagi Milana mendengar bahwa ada orang yang merencanakan hal sekeji ini dan membunuh ayahnya demi tujuan mendapatkan keinginan mereka.
Sungguh biadab.
"Aku menyesal memberitahumu, tapi Nathan sepertinya terlibat," tukas Jasper. Milana yang tidak terima serta merta bangkit dari ranjang dan bermaksud menerjang Jasper.
"Dasar brengsek kamu! Sudah aku bilang Nathan nggak ada sangkut pautnya. Dia bukan orang sejahat itu!" seru Milana yang langkahnya tertahan karena Alexis memegangi lengannya.
"Apa kamu mengenalnya? Aku kamu tahu siapa dia? Serius, Milana.... apa rasa cintamu sama Nathan membuatmu sebuta itu? Bahkan orang suruhan ayahku yang sudah lama berkecimpung di media pun nggak bisa menemukan latar belakangnya. Sudah jelas, Nathan itu orang yang berbahaya!" seru Jasper dengan sorot penuh kemarahan.
Milana menggeram. "Aku tahu kamu memang nggak pernah suka sama Nathan sejak dulu, tapi kamu nggak berhak fitnah dia tanpa bukti. Apa dengan menikah dengan Tatiana membuat kamu sama gilanya dengan dia?"
"Apa kamu pernah berpikir kenapa Nathan menolak menikahi Tatiana? Karena dia sudah lama mengincarmu!"
"Menolak? Bukannya istrimu yang lebih dulu selingkuh denganmu?" amarah Milana makin meningkat.
"Dan menurutmu karena siapa Tatiana akhirnya melampiaskan frustrasinya padaku? Aku tahu kamu naif, tapi aku nggak menyangka kamu benar-benar menutup akal sehatmu." Jasper terengah-engah. Demikian pula Milana yang kehabisan tenaga.
Milana melepaskan diri dari genggaman tangan Alexis yang tidak bosan-bosannya berusaha menenangkan Milana.
"Dia jelas punya niat untuk menjadikan kamu mangsanya. Aku dengar sendiri ucapan ayahmu yang mengatakan dia mencurigai Nathan sejak dulu. Ayahmu punya bukti yang membongkar identitas Nathan. Karena itu Nathan bergerak lebih dulu untuk menyingkirkan barang bukti dan menyingkirkan ayahmu, lalu dia—"
"DIAM! DIAAAMMM!!!" Milana berteriak keras. "Pergi kamu, Jasper! Pergiii dari sini!"
Jasper terkesiap mendengar teriakan Milana. Risa dan Maya pun menarik lengan Jasper menjauh. Jasper terpaksa menjauhi Milana dan pergi dari kamar ini. Suasana kembali sunyi hanya ada Milana yang kembali terduduk lemas dan menangis sejadi-jadinya. Alexis dengan cepat merengkuhnya, menenangkan Milana di pelukannya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE ME, TOUCH ME
Romance18+ Sebagai atlet figure skating berbakat dan calon pewaris perusahaan kosmetik ternama, Milana Esanatmadja memiliki segalanya. Cantik, muda, berprestasi dengan berhasil membawa pulang medali perak dari olimpiade musim dingin. Peseluncur wanita yang...
