"Milana! Hey, are you okay?"
Milana seketika panik. Seperti penjahat yang tertangkap basah dengan barang bukti yang tidak bisa disembunyikan lagi.
"Nathan, aku...."
"Buka pintunya dulu. Aku sudah beli semua kebutuhanmu."
What?
Nathan bilang soal kebutuhan? Kebutuhan apa?
Jadi Nathan sudah tahu kalau Milana merangsek masuk ke apartemen Nathan, tidur di ranjang Nathan dan membuat sprei-nya penuh noda darah seperti TKP pembunuhan.
Sejak menyadari Milana salah masuk apartemen, ia buru-buru memakai kembali pakaiannya lalu pulang ke apartemennya sendiri dengan membawa sprei kotor itu bersamanya.
Tapi, ia tidak sanggup berhadapan langsung dengan Nathan. Terutama setelah Milana menyadari bahwa tindakannya memalukan ditambah Nathan menyaksikan sendiri hal memalukan bagi wanita di ranjangnya sendiri.
Aaaarghhh!
"Milana! Hey, buka pintunya atau aku akan berteriak terus sampai kamu buka pintunya."
"Aku minta maaf, Nathan. Kamu nggak perlu marah. Aku akan kembalikan sprei-mu dalam keadaan bersih," seru Milana.
"Aku nggak butuh permintaan maaf, aku cuma mau kamu buka pintunya."
"Kenapa? Kamu mau meledekku? Sepertinya kamu sudah melihat hal memalukan ya..."
"Milana, menstruasi bukan hal memalukan. Aku pergi sebentar untuk membelikanmu pembalut dan obat pereda nyeri. Ayolah... Buka pintunya!"
Mendengar itu Milana seketika menyesali kebodohannya. Jadi benar Nathan melihat noda darah itu. Tapi, ia harus berwajah seperti apa kalau ternyata Nathan sudah tahu semuanya.
Perlahan, Milana membuka pintu apartemennya dengan kepala menunduk saking malunya.
"Oh, kamu sudah ganti bajumu dengan piyama? Baguslah. Bagaimana kondisi perutmu?" tanya Nathan dengan nada khawatir lalu meletakkan seplastik besar berisi yang Milana nyaris bisa menebak apa isinya.
"Kamu... Beli pembalut sebanyak itu buatku?"
"Ah, ini... Aku nggak tahu kamu pakai merek dan jenis seperti apa. Aku nggak punya waktu berpikir jadinya...."
Lalu, Milana membayangkan adegan Nathan yang canggung memilih pembalut dan saat membayarkan ke kasir dengan tumpukan pembalut segala jenis itu. Sesaat, Milana tertawa geli tapi langsung menahannya.
"Wah, sepertinya kamu menikmati saat membuatku tersiksa ya?" sindir Nathan, sadar bahwa Milana menertawakannya.
"Nggak. Sumpah! Aku sama sekali nggak menertawakanmu. Sejujurnya... Aku nggak nyangka kamu mau repot-repot membelikan aku pembalut. Tapi... Gimana ya, bagi laki-laki... Aku rasa nggak banyak laki-laki yang mau membelikan hal-hal semacam itu. Mereka takut dikira punya fetish atau apa. Apa kamu tahu aku sedang terharu sekarang?"
Milana masih merasa malu, tapi mencoba berkata jujur.
"Jadi, kamu merasa berterima kasih padaku?" tanya Nathan lagi.
Milana mengangguk, "Dan aku juga merasa bersalah karena masuk ke apartemenmu sembarangan. Aku... Minta maaf."
Nathan mengusap puncak kepala Milana. "Aku berniat mengomeli kamu yang nekat minum meski tubuhmu nggak tahan alkohol. Tapi melihatmu begini, aku jadi nggak tega."
"Dan aku janji... Aku bakal cuci bersih sprei dan selimutmu. Aku kembalikan kalau sudah selesai mencucinya." Milana menambahkan. Ia berdiri dengan memegangi perutnya yang terasa kram. Makin lama makin tidak tertahankan.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE ME, TOUCH ME
Romance18+ Sebagai atlet figure skating berbakat dan calon pewaris perusahaan kosmetik ternama, Milana Esanatmadja memiliki segalanya. Cantik, muda, berprestasi dengan berhasil membawa pulang medali perak dari olimpiade musim dingin. Peseluncur wanita yang...
