54. For Milana

181 11 0
                                        

2 Hari yang lalu

Panggilan asing itu tiba-tiba ditutup, tapi Alexis bisa mengingat jelas pemilik suara itu adalah Nathan. Milana tidak punya pengalaman dengan laki-laki sebelum ini. Jika ada satu laki-laki di mana Milana rela menghabiskan malam, sudah pasti itu Nathan.

Pertanyaannya, kenapa Nathan bersedia muncul di hadapan Milana setelah dia bersembunyi menghindari kejaran media dan orang-orang yang rela menghabisinya?

Alexis dan Milana sudah kembali ke hotel setelah makan malam. Terlalu lelah membuat Milana memutuskan tidak menginjakkan kaki di arena es untuk latihan. Alexis tidak protes, pikirannya sudah dipenuhi hal lain. Segera setelah ia kembali ke kamarnya, Alexis menghubungi Jasper.

"Jasper? Kamu menemukan jejak Nathan?" todong Alex tiba-tiba begitu panggilan tersambung.

"Nathan? Sama sekali tidak. Aku sudah mengawasi dan menginstal kamera tersembunyi di apartemennya. Sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan dia."

Alexis mengernyit. Jadi, Nathan hanya muncul di apartemen Milana?

"Dengar, Nathan ternyata menginap di apartemen malam sebelum kami berangkat ke Jepang. Apa kamu yakin nggak tahu soal ini?"

"Apa maksudmu? Aku sudah cek semua kamera sekuriti di gedung apartemen Nathan. Dia sama sekali nggak terlihat di mana pun." Jasper terdengar sangat yakin.

"Aku nggak tahu bagaimana caranya yang jelas Nathan muncul di apartemen Milana." Alexis mengucapkan itu dengan nada cemas. Tidak, sebetulnya ia sangat marah. Marah saat Alex berpikir Milana nyaris memberikan hatinya, ternyata semua sia-sia.

"Dari mana kamu tahu dia menginap di apartemen Milana? Bukannya kamu bilang kalian resmi berpacaran dan bukan pura-pura lagi?"

Itulah yang ingin diketahui Alexis. Memang setelah mereka berhubungan intim sekali, tidak ada pernyataan resmi kalau Milana kini jadi pacarnya. Alexis tahu, dengan membiarkan semuanya mengalir secara wajar membuat situasi jadi lebih baik. Setidaknya, ia tidak mau memaksakan hubungan di saat Milana belum sepenuhnya siap. Alexis tidak ingin mengacaukan segalanya.

Dan sekarang, Nathan muncul dan mengacaukan rencananya.

"Nomor misterius menghubungi ponsel Milana. Dari suaranya aku tahu dia Nathan dan dia menyebutkan tentang malam mereka menghabiskan waktu bersama."

"Oh, shit. Jadi... Bagi Milana, ternyata kalian bukan sepasang kekasih?"

"Apa kamu mengejekku?"

Terdengar suara tawa Jasper, "Well, dari awal nggak satu pun dari kita yang punya kesempatan menang dari Nathan. Kalau aku bisa melakukannya, aku nggak akan berakhir menikah dengan adik tirinya."

"Suaramu terdengar menyedihkan."

"Apa kamu sedang membanggakan siapa di antara kita yang lebih menyedihkan? Kamu punya kesempatan terus berada di samping Milana, sebagai pelatih dan sebagai pria yang mendampinginya, tapi di sinilah kamu mengeluh hanya karena Milana bertemu Nathan sebelum berangkat ke Jepang. Hebat sekali kan?"

Alexis menghela napas.

"Aku cuma nggak ingin Nathan merusak konsentrasinya."

"Lalu, menurutmu cuma kamu yang boleh merusak konsentrasinya? Stop being loser, Man.... Posisimu jauh lebih baik daripada aku. Berhenti mengeluh dan jangan pernah bahas ini di depan Milana. Tahan sampai dia melewati pertandingan."

Alexis menghantamkan buku jarinya ke tembok. Tanpa Jasper memberitahunya, ia sudah tahu bahwa ia tidak mungkin mengungkit hal ini sampai pertandingan untuk short program berakhir.

LOVE ME, TOUCH METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang