"Maaf bikin kamu nunggu. Sudah berapa lama kamu di sini?"
Milana menahan debarannya yang kencang. Nathan menghampirinya tepat lima menit sebelum jam pertemuan mereka. Keduanya sepakat bertemu di salah satu kafe di Piazza San Carlo yang biasa disebut alun-alunnya Turin.
"Nggak, belum lama kok," ucap Milana berbohong. Sejujurnya saking gugup yang bercampur senang, Milana menantikan pertemuan mereka seperti anak kecil yang menantikan hari darmawisata. Ia tidak sadar datang lebih awal satu jam sebelum waktu janjian.
"Syukurlah. Aku cemas kalau ternyata kamu menunggu lama," ucap Nathan lembut. Tangannya meraih jemari Milana.
Milana seketika menegang. Serba salah. Ia sudah berjanji pada Alexis pertemuan ini tidak akan melibatkan sentuhan atau skinship dalam bentuk apapun. Tapi di sinilah, ia berdebar-debar tidak menentu meski hanya jemarinya yang bersentuhan dengan jemari Nathan.
"I miss you, Milana. Aku senang akhirnya kita bisa saling menepati janji untuk ketemu di kota ini."
Milana menggigit bibirnya. Cepat atau lambat ia harus menyampaikan kata "putus". Namun, hatinya kini goyah setelah mendengar bahwa Nathan merindukan dirinya.
"I miss you too... Ehm, kamu sudah makan?" Milana mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku terlalu excited dan lupa aku belum makan apa-apa sejak pagi," jawab Nathan malu-malu.
Oh astaga. Baru ini Milana melihat ekspresi Nathan yang polos dan tampak malu-malu. Andai ia tidak berjanji pada Alexis, Milana mungkin akan menerkam Nathan saat ini juga dan memeluknya erat.
Crap! Membayangkan saja membuat Milana merasa nyeri.
"Mau makan sesuatu? Aku tahu restoran yang enak dan romantis di dekat sini," tawar Nathan.
Romantis?
Tidak, tidak. Kata 'romantis' menjadi satu kata terlarang untuk pertemuan ini. Karena tidak ingin memberi kesan ini adalah kencan romantis, Milana meminta bertemu di Piazza San Carlo yang ramai oleh turis yang berjalan-jalan dan belanja.
"Se-sepertinya kita lebih baik makan di sini saja. Aku... agak lelah kalau harus berjalan-jalan," ucap Milana mengarang alasan.
"Oke. Kalau begitu kita langsung pesan makan saja."
Nathan memanggil pelayan. Agak mengejutkan karena Nathan sedikit bisa berbahasa Italia meski bercampur dengan Inggris. Milana memperhatikan penampilan Nathan siang ini. Kacamata hitam di atas kepalanya, kulitnya terlihat kecoklatan karena terbakar matahari. Sorot matanya masih tajam sekaligus misterius di mata Milana. Nathan memakai sweater putih turtle neck. Saat laki-laki itu melepas mantelnya, Milana bisa melihat bahu bidang dan lengan kokohnya yang tersembunyi di balik sweater.
Betapa Milana sangat berharap bisa didekap erat di dadanya yang lebar. Harapan itu mendadak seperti hal yang jauh di luar jangkauannya.
"Milana, are you okay?"
Milana tersentak dari lamunannya. "Oh, ehm... Nggak apa-apa. I'm okay."
"Hari ini kamu banyak melamun. Ada apa? Apa pertandingan membuatmu gugup?" Nathan kembali menggenggam tangan Milana. Anehnya, meski gugup, Milana merasakan genggaman Nathan membuatnya tenang.
Di sisi lain, ia sama sekali lupa dengan janjinya pada Alexis.
Tidak apa-apa kalau kiranya hanya berpegangan tangan. Bisa saja, setelah ini Milana tidak punya kesempatan lain untuk menghabiskan waktu bersama Nathan. Memikirkan itu membuatnya sedih. Tanpa sadar air matanya mengalir.
"Hey, kamu menangis? Ada apa?"
Oh, shit.
Milana memaki dalam hati, mengutuk dirinya karena tenggelam dalam emosinya sendiri dan lupa tujuan pertemuan hari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE ME, TOUCH ME
Romance18+ Sebagai atlet figure skating berbakat dan calon pewaris perusahaan kosmetik ternama, Milana Esanatmadja memiliki segalanya. Cantik, muda, berprestasi dengan berhasil membawa pulang medali perak dari olimpiade musim dingin. Peseluncur wanita yang...
