10. Surprise at Home

387 22 0
                                        

Nathan tiba di apartemennya dengan tergesa-gesa. Ia hampir menabrak tetangganya saat berpapasan di lift. Malam ini masih ada penyelidikan yang harus dilakukan, tapi pikiran Nathan tidak bisa berhenti pada Milana yang mungkin saja menemukan sesuatu yang mengacu pada identitas Nathan yang sebenarnya. Tidak, Nathan belum siap.

Ia membuka pintu perlahan. Lampu di apartemennya menyala hanya di ruang tamu dan dapur. Suasana di dalamnya sunyi seolah tidak menunjukkan tanda-tanda kehadiran manusia sama sekali. Apa benar Milana ada di sini?

Saat berjalan lebih jauh, Nathan tidak sengaja menyandung benda besar yang tidak kelihatan karena lampu ruang tengah masih gelap. Bunyi gedebuk yang cukup keras menggaungkan suara di apartemen yang senyap ini. Buru-buru Nathan menyalakan lampu dan menyadari benda yang menghalangi jalannya adalah sebuah koper.

Koper? Kenapa ada koper di sini?

Terdengar suara dengkuran halus. Barulah Nathan menyadari sesosok manusia lain itu tengah tidur di sofa. Tubuhnya meringkuk seolah menahan dingin. Kontras dengan tindak-tanduknya yang ceroboh dan keras kepala, sosok yang tertidur itu terlihat damai dan wajahnya tidurnya polos seperti bayi. Terdengar gumaman bernada putus asa dalam suaranya seolah saat ini, putri tidur di depannya tidak sedang memimpikan hal yang indah. Nathan tanpa sadar mengulurkan tangan. Menyingkirkan helaian rambut yang jatuh ke wajah gadis itu dan menyibakkannya ke belakang telinga.

Ah, tidak. Ini salah.

Seketika Nathan menghentikan tindakannya. Sesaat ia tadi terpesona dengan kepolosan Milana. Membuatnya lupa diri bahwa gadis ini tidak seharusnya ada di tempat ini.

"Nathan, kamu sudah pulang?" Milana terbangun dengan suara serak yang parau. Nathan tidak bisa mengabaikan suara yang terdengar lelah itu.

"Ada apa? Kenapa kamu kemari?"

Milana mengubah posisinya dari berbaring kini terduduk setelah menguap dan meregangkan tubuhnya.

"Kamu sudah makan malam?" Milana bertanya seolah sengaja mengabaikan pertanyaan Nathan.

"Kenapa kamu mengganti topik? Milana, kamu nggak seharusnya ada di sini..."

"Aku sudah memasak sedikit untukmu kalau ternyata kamu belum makan."

"What?"

Nathan melirik ke arah dapur dan meja makan. Melihat beberapa hidangan tersaji. Tidak banyak, tapi bagi Nathan itu terlihat lumayan melelahkan. Terutama bagi seseorang yang baru saja tidur seolah sudah lama tidak menyentuh permukaan kasur.

"Ada apa? Kamu sudah makan di luar?" Milana bertanya lagi. "Ah, maaf... Bahan-bahan makananmu jadi sia-sia. Maaf, aku menggunakan dapurmu tanpa izin."

Lirih suara Milana seolah bergumam, bukannya bicara. Nathan mencoba menerka apa ada yang terjadi? Ya, sesuatu jelas terjadi jika Milana muncul di depan Nathan dengan wajah putus asa seperti ini.

"Ah iya! Apa kita pesan ayam goreng saja? Atau pizza? Hmmm.... Yah aku sedang diet sih, tapi aku pikir untuk sekarang nggak apa-apalah melanggar sedikit. Coach Anita nggak akan tahu."

Milana tiba-tiba bangkit, meraih ponselnya di meja dan membuka aplikasi delivery makanan seolah-olah tidak ada apa pun yang mengganggu pikirannya.

Nathan menghela napas. Mungkin kekhawatirannya tidak beralasan. Mungkin Milana hanya lelah dan juga stres karena diet. Lihat saja, dengan memikirkan makanan, seketika mood-nya berubah.

"Pesan saja yang kamu mau. Tapi lebih baik kita habiskan dulu makanan yang kamu masak," ujar Nathan berjalan menuju meja makan.

"Oh, kamu mau memakannya?"

LOVE ME, TOUCH METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang