Milana berkali-kali menuliskan pesan untuk Nathan meski laki-laki tidak pernah membalas pesan-pesannya lagi. Nathan benar-benar seolah menghilang. Ada rumor polisi juga sedang mencarinya, tapi tidak ada yang tahu bagaimana perkembangan penyelidikan tentang Nathan yang dituduh terlibat kematian ayah Milana.
Akhirnya, Milana pun menginjakkan kembali apartemen yang dia tempati dan bersebelahan dengan apartemen Nathan. Milana mengetuk pintu apartemen laki-laki itu dan tetap tidak ada jawaban. Milana menghela napas, merasa kecewa dan memutuskan masuk ke apartemennya sendiri.
Sudah berminggu-minggu dia meninggalkan apartemennya. Kini ruangan di dalamnya terasa sunyi. Terakhir Nathan ada di sini adalah saat Nathan memainkan gitarnya dan menyanyikan "Say You Won't Let Go" untuk Milana yang kesakitan karena datang bulan. Lucunya, Milana merasa lirik lagu itu kini menghantamnya.
Milana hanya ingin tahu yang sebenarnya. Setidaknya penjelasan dan keyakinan bahwa Nathan tidak seperti yang disebutkan orang-orang.
Bel pintu apartemen Milana berbunyi. Milana tersentak dan buru-buru membuka pintu. Wajahnya antusiasnya mendadak sirna saat melihat sosok Alexis berdiri di hadapannya.
"Apa-apaan, kamu kecewa karena yang datang bukan Nathan?" sindir Alex.
Milana tidak membalas dan membiarkan Alexis masuk dan duduk di sofa.
"Ada apa?" tanya Milana datar.
"Ada apa katamu? Aku ini pelatihmu, minggu depan kita harus berangkat ke Jepang. Kamu mau sampai kapan begini terus?"
Milana menggeleng. "Aku nggak bisa bertanding. Sepertinya aku harus mundur."
Alexis serta merta bangkit dan mendekati Milana.
"Setelah aku susah payah mengejarmu kemari dan bertekad menjadikanmu juara di Grand Prix Final tahun ini, aku nggak akan terima pernyataan kamu akan mundur."
Milana mengernyit, "Apa maksudmu dengan mengejarku?"
Alexis tidak menjawab, alih-alih ia mendudukkan Milana di sofa. Jemarinya memainkan helaian rambut Milana, membuat Milana merasa gugup seketika.
"Sebetulnya aku belum siap memberitahu kamu soal ini. Karena Risa sudah pernah mendengar rumor tentang aku, mungkin dia juga pernah bilang ke kamu."
"Rumor? Rumor apa?"
Alexis menatap mata Milana dengan intens, "Milana, bukan Anita yang memilihku untuk jadi koreografer dan pelatihmu, tapi aku yang memilihmu."
Alexis semakin mendekat, wajahnya begitu dengan dengan wajah Milana. Cukup membuat Milana nyaris panik dan memundurkan tubuhnya, tapi Alexis menahannya.
"A-apa maksudmu?"
Alexis mengeluarkan ponselnya. Ia memutar video dan menunjukkannya di hadapan Milana. Milana memperhatikan apa yang terlihat di video. Sebuah video yang memfokuskan pada seorang figure skater wanita. Dari postur, rambut, dan kostumnya Milana tahu dengan jelas wanita di video itu adalah dirinya. Direkam dari kursi penonton paling dekat dengan arena.
"Apa ini?" Milana berpura-pura tidak mengerti.
"Perhatikan baik-baik. Kamu tahu benar siapa yang ada dalam video ini. Dia satu-satunya skater di nomor tunggal wanita yang berasal dari Asia Tenggara. Olimpiade di Sochi adalah ajang olimpiade pertamanya. Dari 10 skater wanita dia hanya finish di urutan ke delapan."
Milana tercenung mendengar bahwa Alexis mengingat kegagalan Milana di Olimpiade tahun 2014 di Sochi.
"Meski gagal, dia mengagumkan. Umurnya 20 saat itu, tidak terlalu muda seperti kebanyakan skater Rusia yang super berbakat, tapi stage presence dia luar biasa. Nilai presentasinya paling tinggi kedua setelah juara olimpiade. Yang paling mengagumkan dia tersenyum setelah berseluncur seolah dia adalah juaranya padahal dia jatuh berkali-kali saat mencoba triple axel dan triple flip."
Milana terdiam. Matanya masih terpaku pada Milana yang berseluncur seolah tanpa beban. Penampilannya bukan yang terbaik tapi gadis di video itu kelihatan paling bahagia.
"Saat itu aku berpikir, jika finish di urutan ke delapan saja sudah membuatnya tersenyum semanis itu, bagaimana jika dia berhasil jadi juara?"
Jemari Alex yang menyentuh helai demi helai rambut Milana kini sampai di keningnya dan menyibakkan poni Milana ke belakang telinga. Lalu ujung jarinya mengusap pipi Milana. Hanya dengan gerakan itu, wajah Milana memanas.
"Alex.... Aku masih nggak ngerti, kenapa melatihku jadi hal penting buatmu?" tanya Milana ragu-ragu.
"Karena kamu adalah penyelamatku...."
"Maksud kamu?"
"Saat Olimpiade Sochi tahun 2014, aku mungkin berhasil mendapatkan medali emas juara. Tapi itu terjadi karena aku memaksakan diri setelah cedera pinggang dan lutut. Pelatih sudah mewanti-wanti aku, olimpiade itu adalah kompetisi terakhirku atau cederaku tidak akan sembuh. Dan pasanganku Katrina Medeva bertekad membubarkan partnership kami. Untuk orang dengan ambisi sebesar aku, hal itu adalah pukulan besar, Milana."
Milana merasakan kesedihan yang membuatnya bersimpati dengan Alexis. Ia tahu rasanya ketika sayap untuk terbang kini patah sebelah. Hampir mirip dengan saat Milana mendengar Nathan bertunangan untuk pertama kalinya. Bedanya, saat ini situasi sekarang jauh lebih buruk.
"Lalu? Kenapa harus aku? Kenapa bukan atlet figure skating lain?"
Alex menggeleng, membayangkan betapa sulit membuat gadis sebebal Milana memahami isi hatinya.
"Karena aku cuma tertarik sama kamu. Saat merekam video itu aku cuma kagum pada senyummu dan keceriaanmu. Tapi saat aku terpuruk karena karir profesionalku telah usai, aku melihat lagi video itu. Meski sudah tidak bertanding di kompetisi aku mengikuti perkembanganmu di kompetisi internasional. Tanpa sadar itu memberiku semangat. Aku penasaran kamu akan melangkah sejauh apa."
"Alex...."
"No. Don't say anything. Not yet. Aku mencoba jadi pelatih untuk skater junior. Aku berhasil menjadikan mereka paling hebat, tapi aku merasa tidak puas. Aku ingin melihat senyummu sekali lagi dan tanpa sadar aku terobsesi denganmu. Aku menolak tawaran pelatih dari banyak atlet senior, aku menolak banyak kesempatan bagus bahkan dalam dunia tari balet yang pernah membesarkan namaku."
Pipi Milana terasa menghangat. Tangan Alexis sepenuhnya menangkupkan jemarinya di wajah Milana.
"Lalu... Aku dengar pelatihmu, Anita, mencari pelatih dan koreografer baru untukmu. Aku merasa inilah saat yang tepat. Aku mengamati perkembanganmu selama empat tahun lebih, hanya aku yang tahu apa yang terbaik buatmu. Aku mengajukan diri sebelum Anita membuat kesepakatan dengan mantan balerina yang harusnya melatihmu. Dia syok, mengira dia harus membayar mahal untuk itu. Dan uang adalah hal terakhir yang aku pedulikan jadi kubilang, bahkan jika dia tidak membayarku, aku tetap akan melatihmu."
Milana terdiam. Tidak tahu harus bereaksi apa.
"Kamu masih nggak mengerti juga? Sebesar itu rasa cintaku ke kamu, Milana. Aku masih belum paham cinta seperti apa yang aku miliki buat kamu, tapi yang aku tahu... Aku ingin kamu naik ke podium dengan senyum tercantik yang kamu punya. That's my dream...."
"Tapi kamu tahu situasiku, Alex.... Aku nggak bisa berseluncur lagi."
"Yes, you can. Kamu punya aku. Jika kamu bisa menyelamatkan aku, aku yakin aku juga bisa menyelamatkan kamu."
Alexis mengecup punggung tangan Milana. Lalu, didekatkan wajahnya dekat dengan wajah Milana hingga jarak bibir mereka hanya satu senti saja. Milana mengira Alexis akan mencium bibirnya, tapi yang terjadi pria itu justru menurunkan kepalanya dan mengecup lehernya. Sekujur tubuhnya meremang merasakan sensasi panas saat bibir Alexis menjejak di lehernya dan perlahan menurunkan blus Milana hingga bahunya terbuka. Rasa panas menjalarinya saat Alex menghirup aroma kulit di bahu Milana. Intens dan intim.
Milana tidak bisa berpikir jernih. Kegilaan apa yang merasuki Milana sampai menerima perlakuan Alexis yang seperti ini.
"Trust me, Milana.... Aku akan membuatmu lebih bahagia dari siapa pun."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE ME, TOUCH ME
Romance18+ Sebagai atlet figure skating berbakat dan calon pewaris perusahaan kosmetik ternama, Milana Esanatmadja memiliki segalanya. Cantik, muda, berprestasi dengan berhasil membawa pulang medali perak dari olimpiade musim dingin. Peseluncur wanita yang...
