59. Secret Plan

157 11 0
                                        

"Hotel Four Season, Penthouse George V." Maya memberitahu kamar hotel yang ditempati oleh Tatiana dan Tante Hilda.

"Kamu yakin?" tanya Milana memastikan.

"Damn! Itu penthouse termahal dan paling berkelas di Paris. Tatiana dan mamanya benar-benar hobi menghamburkan uang." Risa menggeleng.

"Tapi perusahaan nggak akan membiayai hotel semahal itu kalau Tatiana kemari memang untuk bisnis. Karena tidak boleh membaurkan citra perusahaan dengan gaya hidup pribadi. Seenggaknya, itu yang aku tahu dari Jasper kalau dia harus business travelling," ujar Maya.

"Yeah, bisa jadi. Tapi semuanya lain cerita kalau... Konglomerat tua itulah yang membiayai penginapan di kamar penthouse paling mahal itu," gumam Risa.

"Konglomerat tua? Hei, dia adalah orang berpengaruh dalam bisnis kecantikan dan kosmetik di Korea Selatan. Selain punya banyak klinik kecantikan di Gangnam, dia juga CEO untuk produk kecantikan kelas atas. Produknya sudah melebar ke pasaran Asia Tenggara, termasuk Indonesia."

"Karena itu.... Bagaimana bisa Tante Hilda bisa punya hubungan dengan orang yang berpengaruh besar seperti itu?" Risa makin keheranan.

"Milana, kamu benar-benar mau datang ke hotel itu? Untuk apa? Apa kamu mencurigai kalau ibu tirimu selingkuh?" tanya Maya. Pertemuan mereka sepertinya masih panjang dengan banyaknya topik obrolan. Maya berinisiatif memesan anggur tambahan.

"Entahlah. Jika hanya selingkuh, aku rasa terlalu kebetulan kalau Tante Hilda berhubungan dengan orang berpengaruh dalam bisnis kecantikan," gumam Milana.

"Jadi, kamu merasa itu terlalu ganjil, lalu mencari tahu sendiri?"

Milana mengangguk.

"Aku cuma harus memastikan mereka memang benar-benar menginap di sana. Aku... Penasaran, apa hubungan Tante Hilda, Tatiana dan pria yang kalian sebut konglomerat asal Korea itu." Anggur membuat Milana cepat mabuk, tapi setidaknya isi kepalanya masih waras.

"Jasper sudah memastikan. Aku juga sudah minta dia tutup mulut dan nggak bocorkan ke Tatiana kalau kami semua ada di Paris," sahut Maya. Ia mengambil gelas wine dari tangan Milana, tahu bahwa Milana tidak bisa meng-handle alkohol sebaik dirinya.

"Thanks god, kita cuma berpamitan akan menonton kompetisi figure skating Internationaux De France di Grenoble, Perancis," ujar Risa. Menyesap anggurnya lagi setelah makanan menutup disajikan.

"Thanks again, Risa memesan penerbangan dengan kelas ekonomi. Tapi, Milana... Aku rasa kamu sebaiknya nggak usah terlibat urusan mereka. Kamu punya kompetisi penting dan harus fokus. Kalau kamu mau, kami bisa mencari tahu untukmu." Maya menawarkan bantuan, tapi dengan cepat Milana menolak.

"Ini urusan keluargaku. Aku punya alasan kenapa hal ini penting. Salah satu alasanku untuk pensiun adalah, aku akan bekerja di ESANA."

"Wait. Are you getting serious here? Pensiun hanya karena kamu mau kerja di perusahaan keluargamu sendiri?" Risa terlihat syok. Serupa dengan Maya yang bahkan menganga dengan alasan yang diberikan Milana.

"Maksudmu kamu bekerja sebagai pewaris? Bukannya nenek kamu sudah memutuskan Tatiana yang menggantikan papamu?" tanya Maya.

"Aku nggak bekerja sebagai pewaris. Aku akan mulai dari bawah."

"WHATT???"

"Tunggu, tunggu.... Kamu tuh anak konglomerat perusahaan besar, untuk bekerja di sana kamu cuma tinggal minta posisi. Buat apa kerja dari bawah?" Risa sama sekali tidak mengerti.

"Aku nggak menginginkan posisi. Aku ingin perusahaan berada di tangan orang yang benar. Untuk itu aku harus paham apa yang dikerjakan Papa selama ini. ESANA adalah warisan keluargaku. Setidaknya, aku harus tahu apa yang begitu dibanggakan nenek dan kedua orangtuaku." Milana berkata lirih.

Maya memijat kepalanya. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa Milana mengorbankan figure skating yang menjadi mimpinya demi menjadi pegawai rendahan di ESANA.

"Dengar, Milana.... Tolong jangan buru-buru memutuskan. Kalau kamu buru-buru, mungkin Tatiana akan merasa terancam dengan keberadaanmu," ujar Maya.

"Aku tahu. Karena itu aku belum akan mengumumkan bahwa aku resmi mengundurkan diri dari dunia skating. Aku harap kalian nggak membocorkan hal ini," pinta Milana.

Maya dan Risa hanya berpandangan.

"Still, kamu perlu pertimbangkan dulu konsekuensimu. Menemui Tante Hilda dan Tatiana secara tiba-tiba mungkin bukan ide bagus," tukas Maya.

"Kata siapa aku menemui mereka?"

"Lalu apa rencanamu?" Baik Risa dan Maya sama-sama penasaran.

Milana hanya terdiam. Membiarkan suasana sunyi meskipun isi kepalanya sangatlah berisik.

"Aku... Malam ini akan menginap di Four Season."

***

Milana menunggu dengan sabar. Ia menyamarkan diri dengan mengenakan wig, gaun one piece kasual warna hitam bergaris putih yang dibelinya secara buru-buru tadi malam di outlet fashion mewah ternama, Chanel. Wig pirang, topi lebar dan kacamata hitam membuat Milana tampak seperti turis mahal yang penyendiri.

Ia duduk di teras balkon lantai delapan. Sarapan tersedia di hadapannya. Jika rencananya berjalan lancar, pagi ini Milana bisa melihat langsung Tante Hilda dan Tatiana yang juga akan sarapan di tempat ini. Pasti mereka akan kemari. Kedua wanita itu hobi berpose dan memamerkan pemandangan. Mustahil mereka memilih sarapan di kamar. Pemandangan Menara Eiffel, gereja dengan arsitektur klasik yang menjulang tinggi dan keindahan kota Paris dari lantai delapan penthouse terlalu indah untuk diabaikan.

Terdengar suara langkah. Tidak banyak pengunjung yang menyewa penthouse. Karena itulah Milana dengan mudah mengenali suara percakapan orang-orang yang duduk tidak jauh darinya, termasuk Tatiana dan ibunya. Juga... Pria yang bersama mereka. Ketiganya asyik bercakap-cakap dalam bahasa inggris.

"Look at that! Indah sekali pemandangannya," gumam Tante Hilda. Takjub.

"Do you like it? Ini pemandangan terbaik di Paris." Suara pria itu tampak bangga. Logat korea tercampur dengan bahasa inggris yang susah payah dia ucapkan.

"Pasti senang sekali kalau setiap pagi, pemandangan inilah yang aku lihat," seru Tante Hilda yang masih takjub.

"Sebentar lagi. Setelah semuanya selesai, aku jamin kalian bisa menikmati pemandangan ini setiap hari," ucap pria itu.

Milana berjengit mendengar kalimat barusan. Setelah semuanya selesai? Apanya yang selesai?

"Jadi, tolong jelaskan apa rencana kalian supaya proyek kita berhasil?" Pria itu bertanya.

"Tatiana akan mengurus semuanya. Dia punya rencana bagus supaya ESANA lebih cepat mengalami kekacauan tanpa harus melukai nama baiknya sendiri."

Pupil mata Milana membulat. Bersyukur Milana duduk membelakangi mereka dan mengenakan kacamata hitam. Tapi apa maksud Tante Hilda menyebut rencana membuat kekacauan di ESANA?

Segalanya mulai jelas. Termasuk hal-hal busuk yang direncanakan Tatiana dan Tante Hilda.

"Are you sure? Apa itu akan berhasil?" tanya pria itu lagi.

"Rencana ini harus berjalan perlahan. Tidak bisa terburu-buru. Kontrak kerjasama dengan brand kosmetik Paris ini perlu untuk menaikkan kinerjaku. Setelah kinerjaku berhasil, pada saat rapat pemegang saham berikutnya, aku pastikan ada isu untuk menaikkan jabatanku. Nenek pasti menolak karena beliau nggak rela aku menduduki jabatan tertinggi. Pada akhirnya, promosiku ditolak. Lalu kekacauan terjadi.... Dan BOOM! Esana akan jatuh karena direktur utamanya tidak becus bekerja. Nenek akan tahu kalau kekacauan itu bukan salahku, karena aku sudah lebih dulu turun dari posisi direktur pelaksana karena tidak ada yang mendukungku dipromosikan."

"Lalu, saham ESANA jatuh, dan di situ kamu bisa masuk dan mengakuisisi."

DEG

Milana merasa pening saat mendengarkan obrolan mereka. Ia tidak menyangka akan mengetahui rencana Tatiana dan mamanya secepat ini. Jadi itu rencana mereka? Dengan Tatiana duduk di kursi petinggi, dia berusaha menjatuhkan ESANA supaya perusahaan papa akan jatuh dan bisa dibeli pengusaha dari luar?

Sialan, Tatiana. Berapa lama kamu sudah merencanakan ini? Pikir Milana.

***

LOVE ME, TOUCH METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang