Alexis bertingkah aneh. Milana tidak tahu apa penyebabnya, tapi sampai pertandingan berlangsung, Alexis hanya bicara tentang hal-hal yang berhubungan dengan figure skating dan hal-hal teknis lainnya. Sorot matanya dingin dan tidak sekali pun Alexis menatap mata Milana saat berbicara. Milana mencoba menebak-nebak apa yang terjadi, tapi tetap saja ia tidak menemukan jawabannya. Ditambah, konsentrasi Milana kini hanya dipenuhi kompetisi figure skating yang mana dalam waktu lima belas menit, segmen figure skating kategori tunggal wanita akan segera dimulai.
Arena sudah dipenuhi penonton dan Milana makin tidak sempat memikirkan keganjilan sikap Alexis. Di lorong sebelum memasuki arena besar, Milana berusaha menenangkan diri. Meski ia sudah banyak berkompetisi tingkat internasional, tetap ada tekanan yang begitu besar jika dihadapkan pada sosok-sosok muda dan berbakat yang berlaga di series Grand Prix Final ini. Di antara total 12 atlet figure skating wanita yang bertanding, Milana terpilih bertanding paling awal.
Sungguh sebuah tekanan besar.
"Semuanya, ayo bersiap. Warm up bersama untuk grup pertama akan segera dimulai," seru panitia memanggil ke-enam peserta wanita yang masuk di grup pertama, termasuk Milana. Saat ini, MC baru memperkenalkan nama-nama wasit, sembilan juri dari negara-negara perwakilan International Skating Union (ISU) dan beberapa ahli untuk urusan technical.
Milana melirik ke arah Alexis yang ada di sampingnya. Sama seperti kemarin, pria itu bersikap dingin dan tidak banyak bicara. Sebagai bentuk dukungannya, Alexis hanya menepuk pundak Milana dan tersenyum tipis. Lalu, panitia menginstruksikan enam pemain di grup pertama meluncur ke atas es. Milana melepas pelindung pisau sepatu skating-nya. Masih mengenakan jersey yang menutupi kostumnya, Milana melakukan pemanasan bersama ke-lima pemain lainnya. Pembawa acara memperkenalkan profil ke-enam pemain yang berlaga di grup pertama. Nama Milana Esanatmadja disebut pertama kali. Tidak lupa pembawa acara menyebutkan keistimewaan Milana sebagai satu-satunya skater pertama asal Indonesia yang berhasil berlaga di Grand Prix Series.
Ketegangan Milana semakin menjadi saat pemanasan ia tidak sengaja bertabrakan dengan pemain asal Rusia yang ia tahu sangat berbakat di usia 16 tahun.
"Sorry!" seru Milana, buru-buru meminta maaf pada pemain Rusia yang tampak kesal.
"Watch your step!" seru gadis Rusia itu, meninggalkan Milana yang masih merasa bersalah.
"Milana!" Alexis menyerukan namanya.
Pengenalan nama peserta baru saja selesai. Kali ini Milana harus bersiap-siap untuk bertanding. Ia berseluncur menuju tepi arena, menghampiri Alexis yang berdiri di sana. Milana melepas jersey-nya, memperlihatkan kostum menyolok yang berwarna merah. Warna api yang sesuai dengan tema lagu untuk short program ini. Kulitnya yang putih dan pucat kontras dengan warna merah yang begitu berani dan memperlihatkan punggung Milana yang seolah-olah telanjang dan hanya lapisan tipis sewarna kulitnya.
"Jangan tegang, Milana... Kalau kamu tegang, lompatanmu tidak akan sempurna." Alexis membuka percakapan.
"Oh, akhirnya kamu mau bicara padaku?" sindir Milana.
"Aku pelatihmu, tentu saja aku akan bicara."
"Right? Jadi sejak kemarin apa mulutmu terkunci sampai nggak mau mengucapkan hal yang menenangkan?"
"Aku punya alasan...."
"Sebagai pelatih, kamu nggak punya alasan untuk mengabaikan aku. Aku nggak menyangka kamu menjadi sangat kekanak-kanakan. Kamu pikir kamu nggak mau membahasnya karena takut mengganggu konsentrasiku? Kamu pikir dengan bersikap begini, kamu nggak menggangguku?" todong Milana.
"Milana, hentikan. Kamu sebentar lagi akan meluncur."
"Thanks for reminding me. Kalau kamu berdiri hanya memasang muka seperti ingin marah padaku dan mengganggu konsentrasiku, lebih baik kamu menyingkir saja dari sini."
Kamera di dekat Milana menyorot Milana dan interaksinya dengan pelatih. Nama Milana sudah disebut sebagai peserta pertama yang akan berlaga. Saat itu Milana yang marah tidak menyangka dengan tindakan Alexis yang menarik tubuh Milana mendekat dan mencium bibirnya lekat tepat saat kamera menyorot mereka.
Milana tersentak, tidak siap dengan gerakan Alexis yang membuat kehebohan. Di sisi lain, penonton yang menyaksikan itu bertepuk tangan riuh untuk Milana. Sebaliknya, Milana merasakan dirinya bagai disengat lebah. Pertandingan ini disiarkan secara livestream ke seluruh channel olahraga di dunia. Ada kemungkinan Nathan akan menontonnya juga dan di sinilah Alexis justru menghadiahi Milana dengan ciuman mesra. Apa yang dipikirkan Alexis?
"Good luck, Milana! Ayo kita buktikan pada semua, kamu primadonna di tempat ini." Alexis tersenyum menyemangati Milana.
Curang. Alexis tersenyum setelah membuat kehebohan seperti tadi? Milana ingin marah, tapi ia tidak sempat berdebat lagi. Milana pun meluncur ke tengah arena, mengambil posisi awal sebelum memulai gerakan untuk short program-nya.
Musik Set Fire To The Rain yang dipopulerkan Adele mengalun dengan piano bertempo medium di awal. Milana mulai berseluncur dengan lembut dan mulai dengan menunjukkan ekspresi kepolosan sebelum akhirnya, tempo permainannya makin cepat dan meningkat. Rencana lompatan awalnya adalah triple flip dan diikuti triple toe loop. Milana mengambil kuda-kuda, mencoba tidak terlalu tegang, melompat, dan.... berhasil. Tepuk tangan penonton terdengar riuh. Berikutnya, seperti yang sudah direncanakan dan diatur dalam programnya, seharusnya setelah ini Milana akan melakukan triple axel. Milana melompat tapi sayangnya ia hanya berhasil melakukan double axel.
Ah, sial, pikirnya.
Tampil paling awal membuatnya tidak siap dan gugup setengah mati. Ditambah gelar runner up juara saat olimpiade membuat tekanan makin bertubi-tubi. Milana menutupi teknik kedua yang gagal diperagakan dengan benar dengan mengupayakan untuk memainkan koreografi dan presentasi yang menakjubkan.
Gadis manis di awal lagu kini bertransformasi jadi wanita dewasa yang 'terbakar' api asmara. Gerakan Milana kini menjadi lebih cepat, lebih sensual dan tatapan menggoda. Seiring koreografi yang indah, elemen-elemen teknik juga harus dipenuhi oleh Milana. Milana berhasil melakukan flying camel spin yang masuk dalam level 4, level yang paling sulit dengan menggabungkan beberapa variasi camel spin.
Berikutnya, triple lutz. Dari posisi seluncur ke belakang, Milana melompat dan berputar sebanyak tiga kali. Berhasil.
Yes! Teknik selanjutnya adalah putaran yang paling disukainya. Change foot combination spin. Makin tinggi tingkat kesulitan dan makin bervariasi spin dengan melibatkan lompatan dan berganti kaki tumpuan, makin tinggi level yang diberikan juri. Selanjutnya adalah choreo dan step sequence. Di bagian ini Milana menguatkan perpaduan gerakan balet dan akrobatik yang berhasil dipelajarinya dari Alexis. Milana bergerak makin cepat, makin panas dan makin menunjukkan gairah liarnya di atas es hingga sampailah pada gerakan layback spin andalannya hingga upright spin yang juga mengakhiri koreografinya.
Gerakan Milana terhenti seiring dengan napasnya yang naik turun. Riuh sorakan penonton menghujani arena. Milana cukup puas, tapi seharusnya ia bisa lebih baik dari ini. Akan ada pengurangan sedikit karena triple axel yang direncanakan hanya berhasil dilakukan dengan double axel. Sebaiknya, nilai presentasinya akan membantu menaikkan skor Milana.
Milana kembali ke tepi arena, menghampiri Alexis. Namun, bukannya memeluk pelatihnya, Milana justru mendorongnya hingga pria itu nyaris terjatuh.
"Hey!" Alexis memprotes tindakan Milana.
"Minggir, dasar brengsek!" maki Milana, masih kesal karena Alexis menciumnya di depan kamera yang menyiarkan adegan itu ke seluruh dunia. Milana berjalan menuju tempat duduk kiss & cry di mana atlet dan pelatihnya menunggu dengan cemas pengumuman skor dari juri.
Alexis duduk di sampingnya, mencoba menggenggam tangan Milana. Berkali-kali pula Milana menepisnya.
"Menurutmu, apa Nathan menyaksikan livestream kompetisi ini? Apa kamu nggak penasaran bagaimana reaksinya saat melihat kita berciuman?"
DEG
Milana tidak menyangka, Alex menyebut nama Nathan di saat mereka masih menunggu skor yang akan diumumkan sebentar lagi. Sesaat, Milana bisa merasakan desakan rasa bersalah. Jantungnya berdebar kencang. Sudah tidak jelas lagi mana yang lebih membuatnya cemas, ucapan Alexis berikutnya atau pengumuman skor dari juri.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE ME, TOUCH ME
Romance18+ Sebagai atlet figure skating berbakat dan calon pewaris perusahaan kosmetik ternama, Milana Esanatmadja memiliki segalanya. Cantik, muda, berprestasi dengan berhasil membawa pulang medali perak dari olimpiade musim dingin. Peseluncur wanita yang...
