Nathan baru selesai mandi saat ia mendengar bunyi seseorang memencet kode apartemennya. Sontak Nathan menghampiri pintu, waspada jika ada seseorang yang berniat membobol masuk apartemennya. Tapi tak ada suara pintu terbuka. Alih-alih, seseorang itu terus mencoba masuk dan memencet kombinasi nomor yang salah.
Terdengar suara tombol dipencet, tapi peringatan kode salah terus berkumandang di depan apartemen Nathan. Makin lama, Nathan makin tidak sabar dan memeriksanya sendiri. Saat membuka pintu, Nathan dikejutkan dengan keberadaan Milana yang tadinya bersandar di pintu, terjatuh saat Nathan menarik kenop pintu.
"Milana?"
Milana masih belum bangkit. Tubuhnya terlihat limbung. Sepertinya gadis itu baru pulang minum.
"Oh, Nathan? Hmmm... Kenapa kamu ada di apartemenku?" ucapan Milana, masih belum sepenuhnya sadar bahwa dia masuk ke apartemen yang salah.
Nathan buru-buru memapah Milana yang terduduk di lantai untuk mendudukkannya di sofa.
"Kamu masih saja nggak belajar. Apa kamu pikir toleransi alkoholmu sehebat itu?"
Milana tertawa terbahak-bahak, memukul-mukul bahu Nathan seperti anak kecil.
"Kamu lucu sekali. Aku nggak mabuk, tahu.... Mana ada orang mabuk cuma dengan bir," ujar Milana, yang menaikkan kakinya dan berbaring di sofa.
"Ada. Kamu orangnya. Kalau kamu nggak mabuk, kamu nggak akan salah masuk ke apartemenku." Nathan mengacak-acak rambut Milana meski gadis itu tidak akan memahami saat dia sadar nanti, bahwa saat ini suasana hati Nathan tengah porak poranda karena Milana yang berbaring di sofanya tanpa pertahanan sama sekali.
"Ngomong apa sih kamu? Ini apartemenku.... Ah dingin, aku mau tidur di kamar saja."
Dan Milana pun bangkit, masih sempoyongan dan berjalan ke kamar Nathan tanpa rasa bersalah.
"Milana! Sadarkan dirimu! Ini bukan apartemenmu," seru Nathan, mencegah Milana memasuki kamarnya.
Sayangnya, Milana tidak mau mendengarkan. Bahkan dengan tenaganya, Milana menyingkirkan Nathan dari hadapannya dan berhasil masuk ke dalam kamar. Masih mabuk dan setengah tertidur, Milana melepas jaket dan blusnya hingga yang tertinggal di tubuhnya hanya kamisol tipis dan pakaian dalam saja. Dengan mata terpejam, Milana naik ke ranjang Nathan dan masuk ke dalam selimut.
Melihat itu Nathan kehabisan akal. Ia menggelengkan kepala dan hanya bisa mondar-mandir menatap Milana yang sudah lelap. Pikirannya kacau membayangkan Milana kini berada di ranjangnya, nyaris telanjang.
Nathan bisa gila jika ia tetap berada di kamar, di ruangan yang sama dengan Milana yang mabuk dan tanpa pertahanan.
Buru-buru Nathan keluar. Meyakinkan diri bahwa pintu kamarnya tertutup rapat. Ia tidak bisa memarahi Milana sekarang. Untuk saat ini Nathan harus mengalah tidur di sofa.
Satu jam, dua jam, Nathan berusaha memejamkan mata tapi tidak berhasil. Akibat tertidur petang tadi dan mimpi buruk, Nathan jadi sulit terlelap. Ia menyalakan TV tapi tak ada acara yang bagus untuk ditonton. Membuka ponsel pun membuatnya bosan. Satu-satunya hal yang bisa mendistraksi pikirannya adalah berolahraga, tapi ia malas berkeringat lagi setelah mandi.
Dengan kesal, ia pun mengambil panah darts dan melemparkannya dengan cepat ke papan darts. Dengan kemampuannya ia dengan mudah membuat anak panahnya tertancap di area bullseye. Begitu berkali-kali sampai Nathan kembali bosan.
Sudah dua jam, ia bisa lebih gila kalau Milana belum juga bangun dan tersadar bahwa gadis itu tidur di apartemen yang salah. Nathan pun memberanikan diri masuk ke kamarnya. Mendekati Milana yang sudah sepenuhnya terbungkus selimut.
"Milana...." Dengan pelan, ia mengguncangkan tubuh Milana.
"Milana! Hey, kamu nggak boleh tidur di sini. Di sini bukan—"
Nathan menyibakkan selimut dan tangannya gemetar melihat spreinya yang berwarna putih kini pekat dengan warna merah. Seperti... Darah.
Ingatan tentang Alisa kembali menghantuinya. Seorang gadis tergeletak tak berdaya, darah di sekitar tubuhnya. Nathan merasakan debar jantungnya tidak beraturan, ia pun terduduk lemas dengan keringat dingin membasahi dahinya.
"MILANA!!!"
Nathan mengguncang tubuh Milana. Kepalanya sulit berpikir jernih. Nathan memeriksa napas Milana yang naik turun teratur lalu memeriksa nadi di lengannya. Sama sekali tidak ada tanda keanehan.
Milana menggeliat, membalikkan tubuhnya. Suaranya bergumam tidak jelas persis orang yang sedang tidur pulas. Tidak ada hal yang mencurigakan dari reaksi Milana seolah tidak ada yang salah dengan tubuhnya. Tapi, darah apa yang ada di spreinya?
Mungkinkah....
Nathan memijat kepalanya. Benaknya bercampur antara perasaan lega dan bingung. Lega karena Milana tidak terluka yang membuatnya terancam kehilangan nyawa. Bingung karena Nathan akhirnya menyadari apa yang terjadi.
Milana sedang masuk masa menstruasi.
***
Setengah jam kemudian, Nathan dihadapkan pada pilihan sulit. Orang-orang di sekitarnya menatap Nathan dengan penuh minat lalu mereka berbisik-bisik.
Ah, canggung sekali. Nathan menunduk, tampak tidak nyaman. Alih-alih memilih mana yang kira-kira tepat, Nathan mengambil semua jenis benda yang membuat nyalinya melorot karena menahan malu.
"Oke, Laury Long Night 35 cm, Charmy Super Long Wings, lalu panty liner isi 50 pcs ditambah—"
"Stop, stop! Bi-bisa nggak saya langsung bayar saja? Nggak usah disebut satu persatu?" pinta Nathan, merasa risi karena semua pengunjung menatap geli padanya yang memborong hampir semua jenis pembalut.
"Kalau yang Slim Night Wings ini lagi ada promo lho. Beli dua dapat tiga. Mau tambah satu lagi, Kak?" tawar si kasir dengan senyum seolah menggoda Nathan.
"Nggak. Nggak perlu."
"Mau sekalian pembersih kewanitaannya juga, Kak? Bagus lho untuk kesehatan pacarnya." Lagi, si kasir malah terus menawari Nathan hal yang nggak perlu.
"Saya bilang nggak perlu! Buruan hitung dan saya mau bayar." Nathan menggeram, menahan diri dengan keusilan si kasir.
"Barangkali butuh pereda nyeri menstruasi juga, Kak. Sama minuman berkhasiat buat perempuan datang bulan. Kasihan lho kalo kesakitan."
Nathan menggaruk kepala yang sama sekali nggak gatal. Menghela napas. Pasrah.
"Ya udah. Ambil itu juga," jawab Nathan.
"Okeee.... HEY, TANG! BAWAIN OBAT ANTI NYERI SAMA KIRANTING SINI, CEPET!"
Nathan memejamkan mata, berusaha menahan malu saat kasak-kusuk pengunjung lain yang antri di belakangnya kini tertawa geli.
"Semuanya jadi seratus dua puluh dua ribu ya, Kak.... Makasih lho sudah belanja di sini. Semoga pacarnya sehat terus ya," ucap si kasir dengan keramahan yang dibuat-buat.
Dasar kasir sialan.
Setelah selesai membayar, Nathan buru-buru keluar dari mini market 24 jam lalu membawa mobilnya kembali ke apartemen.
Ya tuhan... Kenapa belanja perkakas kewanitaan saja membuat Nathan seperti jadi bahan lelucon orang-orang? What's wrong with this people, pikirnya.
Nathan membayangkan betapa repotnya jadi perempuan saat sedang menstruasi. Sudah kesakitan karena perut kram, masih harus pergi membeli perlengkapan bulanan mereka sendiri karena malu meminta bantuan laki-laki.
Nathan berdecak. Stigma menjadi hal yang memuakkan kadang-kadang bagi wanita.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE ME, TOUCH ME
Romantik18+ Sebagai atlet figure skating berbakat dan calon pewaris perusahaan kosmetik ternama, Milana Esanatmadja memiliki segalanya. Cantik, muda, berprestasi dengan berhasil membawa pulang medali perak dari olimpiade musim dingin. Peseluncur wanita yang...
