Musik ingar bingar meningkahi malam yang semakin memanas. Milana membiarkan Risa menyeretnya sejak baru memasuki area kelab malam yang menjadi tempat berkumpulnya para sosialita dan pecinta kesenangan. Milana terlihat agak canggung di tengah-tengah riuh musik yang menghentak, ia menatap ke sekeliling. Semua orang tertawa, bahagia, dan menggerakkan tubuh mereka seiring irama.
"Risa, aku cuma minta ditemani minum, tapi kenapa kamu mengajakku kemari?" Protes Milana yang tidak ditanggapi oleh Risa.
"Yeah, ini salahmu karena dulu kamu selalu menolak kalau aku mengajakmu ke kelab. Milana Esana yang selalu memikirkan kompetisi, selalu rajin berlatih dan nggak pernah minum-minum saat malam, hari ini kamu minta aku mentraktir minum. Ini hal langka yang harus dirayakan! Hahaha!" Tawa Risa yang tampak lebih bahagia dan puas setelah datang ke tempat ini.
"Padahal aku ingin minum karena nggak ada hal yang bisa dirayakan. Aku ini sedang sial tahu," tukas Milana, berlagak kesal. Ditambah sebelum kemari, Milana terpaksa meminjam pakaian Risa untuk datang ke kelab.
Saat pergi dari rumah, Milana tidak membawa banyak baju kecuali kostum figure skating dan baju latihan. Baju party? Jangan ditanya, kalaupun punya Milana hampir-hampir tidak pernah menyentuhnya kecuali gaun malam yang elegan untuk acara banquet setelah kompetisi figure skating berakhir. Kopernya penuh dengan sepatu skating, kostum, baju latuhan dan obat-obatan untuk mengatasi cedera.
Berita buruknya, pakaian milik Risa semuanya ketat dan mini di tubuhnya. Berlainan dengan Milana yang tinggi dan bertubuh sedikit berisi, Risa bertubuh mungil. Sekalipun pakaian itu tidak terlalu seksi, tapi jika dikenakan Milana, ia hampir merasa seperti pelacur. Milana menutupi belahan dada yang sedikit menganga dengan bagian atas kardigan tipisnya.
"Apa sih yang kamu lakukan? Kamu bukan anak remaja lagi, lepaskan kardigan jelek ini!" Risa menarik turun kardigan milik Milana dan menaruhnya di atas tas tangannya. "Nah, begini lebih baik."
"Lebih baik katamu? Aku jadi mirip pelacur tahu," seru Milana, yang terpaksa harus berteriak karena suara musik terlalu keras.
"Kamu itu yang menyebalkan. Dari dulu aku berharap aku bisa punya bentuk tubuh sepertimu, di mana orang nggak akan sembarangan menyebutku anak SMP," sahut Risa, lalu dengan tangannya ia menarik bahu Milana sedikit keras, "jangan berjalan dengan bungkuk begitu. Lebih percaya diri saja!"
Milana menghela napas. Meski awalnya sulit menyesuaikan diri karena merasa canggung, pada akhirnya Milana merasa mulai nyaman setelah menyesap Cosmopolitan. Ia menuruti ajakan Risa dengan menari di lantai dansa.
Risa memperagakan gerakan tango. Seolah terjadi begitu saja, Milana pun menyambut uluran tangan Risa dan mereka bergerak seiring dengan musik latin yang terdengar dari meja DJ. Milana berperan sebagai laki-laki karena tubuhnya lebih jangkung. Dansa sensual yang dilakukan dua wanita membuat pengunjung lain tertarik dan memusatkan perhatian pada keduanya.
"Wah, lihat orang-orang ini, mereka melihat kita!" Seru Risa, tampak menikmati perhatian.
"Yeah, nggak nyangka kita akan menarikan tarian seperti ini lagi, tapi bukan di atas es," ucap Milana, makin liar bergerak.
"Kamu ingat saat kita baru belajar skating. Aku kira akan jadi ice dancer karena buatku jauh lebih menyenangkan menyaksikan pasangan ice dancer beraksi di atas es ketimbang figure skater," seru Risa meski napasnya sudah terengah-engah karena terlalu banyak minum.
"Dulu benar-benar konyol, kita sering bolos latihan dari pelatih hanya untuk ikutan kelas waltz, tango, chacha dan banyak jenis tarian lain. Lalu saat mencobanya di atas es, lama-lama capek sendiri karena gerakan kakinya sungguh rumit." Milana mengingat-ingat kenangannya di masa lalu. Aneh, meski sudah lama tidak menari, Milana masih ingat baik gerakan-gerakan tango.
Musik latin telah berhenti dan tarian mereka pun usai. Setelah melakukan pose terakhir, Risa terlihat kesakitan memegang bahunya.
"Hey, kenapa? Bahumu sakit lagi?" Tanya Milana. Ia tahu sahabatnya itu pernah mengalami cedera bahu yang membuatnya harus cuti selama dua tahun di masa kompetisi.
Risa menggeleng, "Nggak apa-apa. Gerakanku terlalu bersemangat. Kamu tunggu di sini, aku mau ke toilet dulu."
Risa pun pergi begitu saja, meninggalkan Milana yang berdiri canggung di tengah-tengah kerumunan orang yang menari. Ia berniat duduk di tempat yang agak sepi untuk mengatasi sedikit kepalanya yang terasa tipsy.
Sesaat tubuhnya terasa terhuyung karena seseorang menarik tangannya dengan keras. Milana kehilangan keseimbangan hingga sesosok laki-laki menangkap tubuhnya. Ia syok karena di hadapannya kini berdiri laki-laki tak dikenal yang tersenyum seolah berniat melakukan hal mesum.
"Mau ke mana cantik? Ayo menari sekali lagi denganku. Goyanganmu tadi luar biasa, aku jadi ingin merasakannya dengan tanganku," ucap laki-laki yang sepertinya berumur awal empat puluhan.
Milana merasa sangat jijik dan mendorong laki-laki itu. Sayangnya laki-laki itu lebih kuat dan makin mencengkeram tubuh Milana. "Jangan pura-pura jual mahal. Lihat pakaianmu seperti pelacur kecil. Kamu pasti menginginkan uang kan? Berapa yang kamu mau? Aku bisa belikan minuman mahal buatmu," seru laki-laki itu dengan nada mengancam.
"Dasar busuk. Kamu kira kamu sehebat itu bisa menghinaku hah?" Milana tidak bisa menyembunyikan kemarahannya dan menendang kaki laki-laki itu dengan sepatu high heel-nya. Tapi karena minuman keras, kepalanya terasa bergoyang dan rasanya ia jadi susah menghindar saat laki-laki itu berniat membalas memukul Milana.
Entah bagaimana, pukulan itu tidak jadi mendarat di wajah Milana. Alih-alih, lengan laki-laki mesum itu ditahan oleh seseorang. Seseorang itu memukul wajah laki-laki mesum itu dan mengancamnya, "Pergi sana! Kalau ganggu wanita ini, kamu kuseret ke kantor polisi!"
Milana mengenali sosok pria yang menolongnya.
"Randy?"
Sosok bernama Randy itu menatap Milana dan menggelengkan kepala. "Milana, Milana... Sesaat aku tadi nggak ngenalin kamu. Kamu kok bisa-bisanya menggila di sini. Kamu nggak takut orang-orang akan mengenalimu lalu wajahmu masuk media lagi?"
Randy menggamit lengan Milana, membantunya berjalan dan duduk untuk menenangkan diri. Ia memesan segelas air putih, untuk membantu Milana meredakan mabuknya.
"Tentu saja kamu bakal digoda laki-laki hidung belang kalau kamu menari seperti tadi, dengan baju seketat itu," sindir Randy. "Lagian, kamu itu kenapa harus datang ke tempat ini? Aku nggak pernah ingat kamu melakukan hal ini."
Milana mengusap kepalanya. Segelas air putih lumayan meredakan mabuknya. Tapi kepalanya masih terasa berdenyut.
"Memangnya aku nggak boleh bersenang-senang sedikit? Aku juga ingin minum."
"Kamu itu nggak bisa minum banyak, jangan minum di tempat begini atau kamu bisa jatuh ke pelukan laki-laki brengsek. Ayo aku antar kamu pulang."
Milana menggeleng, "Tapi aku harus menunggu Risa dulu. Dia ada di toilet. Bisa kah kamu melihatnya? Aku takut dia kenapa-kenapa...."
"Ya sudah, aku jemput temanmu dulu." Randy pun beranjak pergi, meninggalkan Milana yang masih merasakan kepalanya berdenyut. Makin lama tubuhnya lemas dan kepalanya terasa berat. Milana tidak tahan untuk berbaring sejenak di sofa. Kesadarannya lama kelamaan lenyap berganti dengan rasa kantuk yang tak tertahankan.
Beberapa lama kemudian, Milana merasa tubuhnya diangkat seseorang. Ia merasa geli membayangkan Randy yang bertubuh kecil dan lebih pendek dari Milana harus menggendongnya. Anehnya, tangan yang mengangkat tubuh Milana terasa kokoh dan nyaman. Seolah tubuh Milana seringan kertas. Ini jelas bukan Randy.
Siapa dia?
Milana penasaran, tapi membuka mata pun terasa berat. Namun, aroma parfumnya terasa familiar. Wangi maskulin tapi lembut di hidungnya. Sangat membuat Milana penasaran dan ingin mendekat lebih intim. Refleks Milana merangkulkan tangannya ke leher pria yang menggendongnya hanya untuk mendekatkan hidungnya ke sumber keharuman yang memancing penciumannya. Saat itulah Milana mendengar suara yang dalam dan berat itu menegurnya.
"Kalau kamu berbuat begitu, aku bisa saja menuduhmu melakukan pelecehan seksual."
Mata Milana pun terbuka dan debar jantungnya seketika menyergap saat melihat Nathan lah yang menggendongnya.
"Na-Nathan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE ME, TOUCH ME
Romance18+ Sebagai atlet figure skating berbakat dan calon pewaris perusahaan kosmetik ternama, Milana Esanatmadja memiliki segalanya. Cantik, muda, berprestasi dengan berhasil membawa pulang medali perak dari olimpiade musim dingin. Peseluncur wanita yang...
