36. Fake or Real?

272 26 0
                                        

Coach Anita memanggil Milana ke kantornya. Tidak hanya Milana, bahkan Alexis juga harus datang menghadap wanita yang kini lebih banyak berperan sebagai manajer urusan administratif untuk merekrut bakat dan benih figure skater potensial karena peran pelatih dan koreografer Milana lebih banyak diambil alih oleh Alex.

Milana mengetuk pintu dan mendapati Alex sudah duduk di sofa tepat di hadapan meja kerja Coach Anita. Milana penasaran apa yang membuat wanita itu tampak berang.

"Aku dengar kabar yang membuatku nyaris pingsan kalau kalian berdua pacaran. Tolong jelaskan, kegilaan macam apa ini?" todong Coach Anita, dengan nada menghakimi.

"Soal itu, kami cuma—"

"Memang kenapa kalau itu benar?" Alex memotong kalimat Milana sebelum gadis itu sempat menjelaskan.

Milana sontak panik. Ia mengira tadinya Alexis akan menjelaskan alasan sesungguhnya tentang mereka yang berpura-pura menjadi sepasang kekasih, tapi kenapa laki-laki itu malah berkeras bahwa berita soal pacaran itu benar?

"Kenapa katamu? Aku membayarmu untuk melatih Milana, bukan memacarinya." Coach Anita terlihat kesal.

"Kalaupun aku memacarinya, apa kemampuannya akan menurun? I don't see any problem here. Aku adalah profesional, saat berlatih apa aku pernah merayumu, Milana?" tanya Alexis bernada tegas.

Milana menggeleng cepat.

"See? Kamu tahu sejak berada di bawah pengawasanku, Milana semakin konsisten dengan step dengan sekuens gerakannya. Itu adalah awal yang baik."

"Semua hubungan akan baik di awal. Bagaimana kalau kalian bertengkar lalu putus? Kalian yakin masih bisa bekerja sama dengan baik?" tanya Coach Anita skeptis.

"At least, kalau kami bertengkar kami tidak akan saling mendiamkan seperti remaja labil. Kami sama-sama dewasa, bagian terbaik dari pasangan yang bekerja bersama adalah kami punya banyak waktu untuk bicara. Pikirkan kalau Milana menjalin hubungan dengan orang lain di luar dunia skating. Dia akan meninggalkan Indonesia dan bertanding untuk Grand Prix Series di negara-negara lain, apa menurutmu dia bisa fokus jika pacarnya bukan aku?"

Baik Milana maupun Coach Anita sama-sama terdiam. Lalu, Coach Anita menatap Milana dengan tajam.

"What is this? Aku kira kamu tergila-gila sama Nathan sampai rela menempel padanya setiap saat?" sindir Coach Anita.

Milana menghela napas. Ia tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Ia teringat percakapannya dengan Alex malam hari saat mereka makan.

"Aku memang mencintainya, tapi... Aku belum siap terluka karena Nathan yang—"

"Nggak mencintaimu," potong Coach Anita.

Ouch, Milana bisa merasakan retakan hatinya yang makin lebar.

"Jadi, kamu pacaran dengan pelatihmu sendiri untuk mengatasi kesepianmu?" tebak Coach Anita.

"And what about that? Dua orang yang kesepian bersatu karena pekerjaan. Kalau hubungan mereka berhasil, itu bagus. Kalau gagal, well.... Kontrak awalku hanya satu tahun, kami toh tidak akan rugi apa pun." Lagi, Alex tampak tenang seolah yang berpacaran dengan Milana adalah orang lain, bukan dirinya.

Coach Anita memegangi pelipisnya. "Oh, ya ampun kepalaku pusing sekali. Bagaimana kalau hubungan kalian diketahui media?"

"Kenapa itu jadi hal yang buruk? Kalau media mengetahuinya biarkan saja." Alexis mendekati Milana dan merangkulkan lengannya ke leher gadis itu. "Kami toh tidak menjalin hubungan terlarang. Milana butuh dukungan sebanyak mungkin, kalau berita tentang gadis secantik Milana menjalin hubungan dengan pelatihnya sekaligus koreografer muda berbakat, aku penasaran apa yang dikatakan media dan pengamat olahraga," ucap Alexis, ujung jemarinya mengusap wajah Milana dengan lembut.

Milana nyaris tidak percaya bahwa orang ini bersandiwara dengan sangat meyakinkan. Hebat sekali.

"Jadi menurutmu, pemberitaan tentang kalian yang berpacaran bisa jadi media promosi yang bagus?"

Alexis tersenyum dengan sangat meyakinkan. "Tentu saja."

"Penikmat olahraga figure skating adalah orang-orang yang mencintai keindahan dan seni di dalam aktivitas atletis yang juga mengandalkan kecepatan dan kebugaran. Dalam skate pairing dan ice dancing, chemistry pasangan juga menentukan keberhasilan. Semakin dekat hubungan pasangan, makin berhasil mereka meraih hati penonton. Itu yang tidak dimiliki skater yang bertanding di nomor tunggal seperti Milana. Tapi bukan berarti chemistry itu tidak bisa diciptakan bukan?" Lanjut Alex, jemarinya kini menangkup ke wajah Milana dengan sangat sensual dan artistik seolah mereka adalah pasangan menari, bukan pelatih dan atlet. Sedetik kemudian, Milana merasakan pipinya memanas karena Alex mencium pipinya dengan singkat sebelum lelaki itu kembali duduk di sofa.

Coach Anita mengangguk-angguk, mulai setuju dengan pemaparan Alexis.

"Jadi itukah yang kamu pikirkan? Apa kamu memacari Milana dengan tujuan memberikan sensasi pada media?"

Alexis kembali tertawa, "Betapa jahat kalau aku berpikir begitu. Aku memacari Milana karena aku tertarik padanya dan ingin membuatnya bahagia baik di atas es maupun di luar arena."

"Kalau begitu kenapa kamu bicara soal chemistry?"

Milana tanpa sadar mengangguk, seolah apa yang ditanyakan Coach Anita sekaligus adalah hal yang ingin diketahuinya.

"Aku cuma bilang, andai ada seseorang yang cemburu dan membocorkan soal hubungan kami, paling tidak kita semua menyadari tak ada satu pun dari kita bertiga yang dirugikan."

Coach Anita tertawa terbahak-bahak. Betapa kontras wanita itu beberapa menit yang lalu dan sekarang.

"I like you, Alexis.... Oke, untuk sekarang, aku nggak akan khawatir."

"Right, jadi aku dan Milana sudah boleh berlatih kembali bukan?" tanya Alexis, yang kemudian bangkit dan merangkulkan tangannya kembali ke pundak Milana.

"Yah, pergilah. Dan.... Please, berhati-hatilah. Pakai kondom kalau berhubungan."

WHAT?

Milana nyaris berseru tidak terima yang membuat Alexis harus membungkam mulutnya dan menyeret Milana pergi dari ruangan Coach Anita.

Saat berada di luar, Milana menyikut pinggang Alexis dengan keras.

"Apa-apaan tadi? Kenapa kita harus repot-repot membohongi Coach Anita? Bukankah dia berhak tahu yang sebenarnya?" Protes Milana.

Alexis terlihat tidak peduli dan terus berjalan sementara Milana berusaha keras menyusulnya.

"Kalau kita memberitahu pelatih lama-mu kalau kita cuma pacaran bohongan, apa menurutmu dia tidak akan bilang ke Nathan?"

Milana terdiam.

"Nathan adalah sponsormu. Anita dan Nathan tentu berkomunikasi baik sampai Nathan berani membocorkan tentang hubungan kita. Kalau sampai kita ketahuan, tujuanmu tidak akan tercapai. Apa kamu bisa terima itu?"

"Tapi.... Aku juga tidak siap andai hubungan sandiwara kita diketahui media." Milana bergumam cemas.

"Calm down, tidak ada yang akan memberitahu media. Tapi, andai kamu sendiri yang ingin memberitahu publik tentang hubungan kita, aku tidak keberatan," ujar Alexis dengan santai.

Di saat yang sama ponsel Milana berdering. Pesan dari Tante Hilda, Ibu Tatiana. Milana mendengus, tidak ada hal yang baik jika Tante Hilda yang menyampaikan kabar.

"Ayahmu pingsan karena serangan jantung. Dia minta kamu pulang ke rumah."

Begitu bunyi pesannya. Dan Milana merasa dunianya terasa berhenti berputar. Wajahnya sontak memucat dan tatapannya kosong.

"Ada apa? Apa yang terjadi?" Alex bertanya dengan nada khawatir.

"Sepertinya, aku butuh mengumumkan hubungan kita."

***

LOVE ME, TOUCH MECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang